Menyejahterakan Desa Lewat Kerajinan

Bali bukan sekadar deretan pantai yang indah, budaya tradisional yang khas, ataupun liukan menawan gunung dan desa. Di pulau ini kreativitas menemukan bentuk dan arenanya. Beragam kerajinan tangan bernilai seni tinggi hadir dari tangan-tangan terampil warga. Bukan sekadar hiasan wisata, produk-produk kerajinan itu juga menjadi komoditas ekspor penghasil devisa. Menjadi sumber penghidupan warga di desa-desa.

Seni ukir, kerajinan emas dan perak, patung, dan lukisan, adalah ragam kerajinan yang banyak ditemui di pulau ini. Bukan oleh deru mesin produksi massal, ragam kerajinan itu dicipta oleh tangan-tangan seniman dan warga di desa-desa yang menjadi sentra kerajinan sejak lama, bahkan turun temurun.

Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, adalah salah satu pusat seni kerajinan tangan khas Bali yang paling terkenal. Kawasan yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer arah timur laut Kota Denpasar itu memiliki sejumlah desa yang menjadi pusat produksi kerajinan tangan skala rumah tangga. Mulai lukisan, emas dan perak, ukiran kayu, hingga patung. Di Desa Celuk, Batuan, dan Mas, tiga desa sentra kerajinan di Sukawati, bahkan, 90 persen warganya hidup dari industri kerajinan rumah tangga. Tak heran, tiga desa itu lazim disebut sebagai desa seni.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi bali mencatat, industri kecil dan kerajinan rumah tangga mampu menopang sekitar 80 persen dari total ekspor non migas Bali setiap tahunnya. Kegiatan yang mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja itu menjadi prioritas pembangunan Bali, disamping sektor pertanian dan pariwisata. Ketiga sektor prioritas itu saling terkait satu sama lainnya, dengan harapan mampu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat Bali.