Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi

KOMPAS- Sampai kini, setiap mendengar kata ”Bekasi”, sebagian orang masih suka cengengesan, teringat ”badai” meme bertema perundungan terhadap Bekasi, tahun lalu. Bahkan, salah satu perusahaan telekomunikasi seluler pun ikut-ikut ”kejeblos” membuat iklan dari popularitas perundungan massal tersebut, sehingga memicu reaksi dari warga Bekasi.

Hari ini, tepat 18 tahun sejak Kota Bekasi memisahkan dari daerah induknya, Kabupaten Bekasi. Selama rentang waktu itu, kota tersebut hampir selalu diidentikkan dengan tumpukan persoalan, mulai dari kemacetan, banjir, sampah, sampai kriminalitas. Masalah-masalah yang seolah tak kunjung terselesaikan itulah yang kemudian memicu kreativitas meme-meme nan menyentil.

Namun, yang belum banyak diketahui orang adalah fakta bahwa di tengah semua citra negatif itu, penduduk Kota Bekasi terus bertambah dari tahun ke tahun. Harga tanah dan properti bukannya terpuruk, tetapi terus naik. Investasi bukannya merosot, tetapi pengembang-pengembang properti besar bagaikan berbondong-bondong menanamkan modal di kota ini.

Apa sebenarnya yang terjadi di Kota Bekasi? Hari Kamis (5/3) malam, Kompas menerima kunjungan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. Dengan penampilan santai (bercelana jins, berkaus tanpa kerah, dan berjaket kulit warna gelap), Rahmat menjawab berbagai pertanyaan Kompas.
Berikut ini petikannya: