Pernyataan Pers

Kota Cerdas Menuju Kota Layak Huni Dan Berkelanjutan

Jakarta-Diawali oleh world summit di Bilbao tahun 2005 yang membahas tentang peningkatan peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelayanan publik, dan semakin popular sejak pertemuan puncak kota besar cerdas dunia di Istanbul, Turki tahun 2013 lalu, wacana tentang Smart City atau kota cerdas semakin intens diperbincangkan oleh komunitas global. Pemberitaan tentang kota cerdas pun bermunculan, dan banyak kota yang mengklaim sebagai kota cerdas.

Untuk menjadi kota cerdas, banyak pemerintah kota di Indonesia melengkapi perangkat kerjanya dengan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih, baik perangkat lunak maupun keras.  “Perlu diingat bahwa teknologi hanyalah sebuah alat yang digunakan untuk mewujudkan sebuah kota menjadi cerdas dan bukan tujuan akhir. Setelah itu kota cerdas harus bisa menciptakan kota yang layak huni (livable) dan berkelanjutan (sustainable),” jelas Wicaksono Sarosa, Penasehat Senior Pengembangan Kota Transformasi.

Kota cerdas adalah jawaban terhadap tantangan global aktivitas urbanisasi dunia yang tidak bisa dihindari seperti transportasi, energi, kesehatan, penyediaan air bersih, dan sampah. Laporan PBB tahun 2014 mengatakan, sejauh ini, lebih dari separuh penduduk di seluruh dunia tinggal di kota, namun persentase ini akan meningkat menjadi dua pertiga pada tahun 2050. Di Indonesia sendiri menurut Bank Dunia 68% penduduk akan tinggal di kota pada tahun 2025.

Urbanisasi di Indonesia memang menjadi permasalahan klasik yang membutuhkan perhatian nasional. Ketidaksiapan kota dalam menghadapi arus urbanisasi terlihat dari sistem infrastruktur yang buruk, kurangnya lapangan pekerjaan, serta pelayanan publik yang tidak memadai. Terbukti dengan data Bank Dunia yang menunjukkan, bahwa setiap 1 persen urbanisasi Indonesia hanya mampu meraup pertumbuhan PDB sebesar 2 persen.

Jika dikelola dengan baik, sejatinya urbanisasi akan memberikan dampak positif. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah cerdas dan inovatif dari pemerintah kota untuk tetap membuat kota tetap nyaman dan memiliki kehidupan yang berkelanjutan. Level Tingkat kecerdasan dan inovatif pemerintah kota harus lebih tinggi dari pertumbuhan urbanisasi itu sendiri.

Pembangunan infrastruktur seperti jalan, irigasi, ruang terbuka hijau harus lebih dulu ada dan memadai dibandingkan pengembangan TIK. Pemenuhan kebutuhan dasar dan solusi langsung terhadap permasalahan nyata di tengah masyarakat membuat sebuah kota menjadi cerdas. Setelah itu pemerintah kota harus mempunyai inovasi agar kenyamanan dapat terus ditingkatkan, dan keberlangsungan suatu kota dapat bertahan lama.

“Kota yang cerdas harus bisa meyakinkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan layak huni (livable), serta keberlangsungan sumber daya yang dimilikinya dalam waktu panjang (sustainable). Setelah itu kota harus terus berinovasi untuk meningkatkan pelayanan publik, meningkatkan perekonomian, mobilitas, dan aktifitas sosial warganya, “ujar Nugroho Wienarto, Executive Director Transformasi.

Kota layak huni harus menyediakan kenyamanan, stabilitas, dan kesempatan yang seluas-luasnya terhadap masyarakat yang ada dan pendatang. Perencanaan jangka panjang yang cerdas harus menjadi awal terbentuknya kota cerdas dengan lingkaran semangat untuk menjadi kota layak huni dan berkelanjutan.

Beberapa lemaga konsultan dunia mengeluarkan indeks kota layak huni setiap tahunnya. Tahun 2015, Survey ECA International menjadikan Singapura menjadi kota paling layak huni di dunia, sedangkan Economist Intelligence Unit EIU menunjuk Toronto.   Variabel kualitas hidup yang dinilai ECA International mencakup kondisi iklim, ketersediaan pelayanan kesehatan, perumahan dan utilitas, akses ke fasilitas sosial, sarana dan prasarana, kualitas udara, keselamatan pribadi, stabilitas politik dan keamanan.

EIU-Economist Intelligence Unit mengeluarkan indeks berdasarkan variable keamanan, kelayakan huni, biaya hidup, lingkungan bisnis, demokrasi dan keamanan pangan untuk mengurutkan kota terkeren untuk dihuni.

Di Indonesia sendiri berdasarkan survey Indonesian Most Livable City Index yang dilansir Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP) memilih Balikpapan sebagai kota paling layak huni di Indonesia. Survey ini merujuk terhadap beberapa indikator seperti  ketersediaan fasilitas kesehatan, kualitas fasilitas kesehatan, ketersediaan fasilitas pendidikan, kualitas fasilitas pendidikan, ketersediaan fasilitas rekreasi, kualitas fasilitas rekreasi, ketersediaan energi listrik, ketersediaan air bersih, dan kualitas air bersih. Beberapa

Setiap orang atau lembaga mempunyai definisi sendiri tentang kota lakayk huni dan berkelanjutan. Hahlweg, seorang ahli tata kota mendefinisikan Livable City sebagai “.... a city where I can have a healthy life and where I have the chance for easy mobility… The liveable city is a city for all people”.

Tentang Pusat Transformasi Kebijakan Publik

Transformasi merupakan wadah sekaligus jaringan bagi para pembuat kebijakan, cendekiawan dan masyarakat umum untuk mengkaji berbagai masalah yang muncul di tengah masyarakat. Transformasi dibentuk dan dikelola sebagai jaringan lembaga dalam maupun luar negeri yang berkomitmen mengupayakan pembuatan dan penerapan kebijakan berdasar fakta dengan mencari dan menetapkan jalan keluar permasalahan yang dihadapi, serta memantau dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah tersebut bersama-sama.

Transformasimendasari langkah inovasi kebijakan di Indonesia demi menemukan solusi pragmatis dan teruji untuk mengatasi persoalan ekonomi dan social Paradigma baru dalam inovasi kebijakan publik dapat memberikan sebuah paradigma baru demi perubahan nyata di Indonesia.

Media Contact:

Public Relations Specialist

Muhammad Syarifullah

HP: 08978898998

Email: muhammad.syarifullah@transformasi.org

www.transformasi.org

Communication Specialist

Mohamad Burhanudin

HP: 081-213790386

mohamad.burhanudin@transformasi.org

www.transformasi.org