Pernyataan Pers

 

 

Inovasi Teknologi dan Masa Depan Perkotaan

image:plimbi.com
image:plimbi.com
Jakarta-Pusat Transformasi kebijakan Publik (Transformasi) sebagai jaringan para pemikir (networked think tank) yang memiliki fokus pada pengembangan perkotaan di Indonesia, bekerja sama dengan New Cities Foundation, dan Lee Kuan Yew School of Public Policy  mengadakan Forum Perkotaan Transformasi pada 8 Juni 2015. Acara ini bertujuan untuk menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintahan kota, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta dalam terus menciptakan inovasi-inovasi teknologi dalam membentuk masa depan kota yang lebih baik. Forum yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Kawasan Mega Kuningan ini didukung oleh Rajawali Foundation.

Diskusi dimulai oleh penjelasan Pakar Pengembangan Perkotaan, Wicaksono Sarosa PhD tentang peranan teknologi dalam tata kelola kota. Setelah itu, Walikota Banda Aceh, Walikota Pekalongan, Walikota Makassar, serta Walikota Gorontalo secara bergantian memaparkan studi kasus keberhasilan penggunaan teknologi dalam tata kelola pemerintahan. Dari sektor swasta,   Twitter dan Cisco, memaparkan pentingnya pengelolaan data, dan penggunaan sosial media dalam mendukung aplikasi yang diterapkan oleh pemerintah kota. Sebagai keynote speaker turut hadir Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Duta Besar Amerika Serikat Robert Blake.

Pembicaraan tentang peranan inovasi teknologi sendiri diawali oleh World Summit di Bilbao tahun 2005. Sejak itu pemerintah kota di dunia terus melakukan kajian untuk menyelesaikan permasalahan tata kelola kota. Tata kelola kota yang tidak efisien dituding menjadi biang keladi penurunan kualitas hidup di kota. Oleh karena itu perbaikan tata-kelola kota menjadi sangat mendesak. Di samping itu, perkembangan teknologi membuka peluang sangat besar untuk digunakan dalam tata-kelola kota agar menjadi lebih efisien, efektif, partisipatif, transparan dan akuntabel, sekaligus juga membantu mengatasi berbagai permasalahan yang ada.

Kota-kota besar dunia terus melakukan inovasi teknologi untuk pelayanan publik yang lebih efisien dan efektif guna meningkatkan daya saing perekonomian, terutama pada sektor transportasi dan integrasi antar wilayah. Salah satu contoh inovasi teknologi di bidang transportasi yaitu penggunaan Oyster Card, di London, Inggris. Oyster Card memungkinkan para penumpang tidak lagi perlu membayar biaya transportasi dengan uang tunai. Bandara Heathrow juga memiliki teknologi canggih yang menghubungkan bandara ini dengan semua jalur kereta api di London.

Nugroho Wienarto, Executive Director Transformasi menjelaskan bahwa penggunaan teknologi untuk menciptakan kota cerdas akan semakin meningkatkan kenyamanan bagi seluruh warga, pendatang, dan investor yang akan menanamkan modalnya di kota tersebut. Ke depan, persaingan tidak lagi terjadi antar negara, namun sudah pada tingkat kota.

Ketika negara maju terus meningkatkan kenyamanan kota dalam memberikan pelayanan publik, negara berkembang mempunyai tantangan sendiri dalam mengatasi permasalahan kota. Permasalahan kota mendasar masih menjadi tantangan seperti banjir, macet, pengolahan sampah, dan rumitnya birokrasi.

Indonesia sudah menyadari pentingnya inovasi teknologi dalam menyelesaikan permasalahan kota. Kota-kota seperti Banda Aceh, Makassar, dan Pekalongan terus berbenah diri, dan menciptakan aplikasi-aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Dalam hal ini peneliti perguruan tinggi, akademisi, pihak swasta, dan masyarakat semakin dilibatkan.

Untuk menciptakan kota cerdas, Banda Aceh memperkenalkan enam karakter kota yaitu smart government, smart economy, smart education, smart health, smart environment, dan smart information. Bahkan aplikasi e-kinerja smart government Banda Aceh diadopsi oleh Kementerian Dalam Negeri, Kabupaten Banyuwangi, Kota Pangkal Pinang, dan Badan Pengusaha Kawasan Sabang. Aplikasi ini berfungsi sebagai penilaian kinerja PNS dan SKPD.

Berbeda dengan Banda Aceh, untuk mewujudkan salah satu misi Kota Makassar yaitu layak huni berkelas dunia, Walikota Makassar Danny Pomanto meluncurkan kartu cerdas sebagai gebrakan pertama. Kartu yang diluncurkan pada 17 Agustus 2014 ini memiliki fungsi sebagai basis data dan alat transaksi. Bekerja sama dengan Bank BRI, kartu ini juga digunakan untuk meyalurkan bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin. Dengan ini, penyaluran bantuan bisa diterima oleh masyarakat dengan utuh.

Pekalongan sendiri selain memaksimalkan penggunaan teknologi, riset dan pengembangan kota untuk menciptakan kota cerdas. Pada periode pertama kepemerintahannya, Walikota pekalongan Muhammad Basyir Ahmad Syawie menghadapi beberapa tantangan berupa keterbatasan anggaran, manajemen sumber daya manusia yang tidak efisien, dan status Pekalongan sebagai kota transit. Untuk menjawab tantangan tersebut beberapa inovasi dilakukannya seperti penggunaan TIK untuk peningkatan kinerja perangkat daerah serta efisiensi anggaran.  

Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dilakukan pemkot Pekalongan dengan cara memperluas jaringan internet sampai ke balai RW, penggunaan surat elektronik sebagai pengganti kertas, dan pelatihan peningkatan kemampuan teknologi. Program TIK lain yang menjadi unggulan yaitu penggunaan Free Open Source System (FOSS) di seluruh kantor pemerintah daerah Pekalongan. Kota Pekalongan juga tidak sungkan untuk belajar dari kota lain seperti Sragen, Jembrana, dan Cimahi dalam meningkatkan kapasitas pelayanan publik.

Semakin jelas bahwa dampak inovasi teknologi terhadap masa depan kota sangat besar. Kota cerdas harus berorentasi pada efisiensi dan efektifitas pelayanan, sehingga permasalahan kota seperti pemanasan global dan krisis sumber daya alam dapat dikurangi.

Inovasi teknologi juga diharapkan dapat memberikan perbaikan terhadap kehidupan sosial warganya. Pembangunan-pembangunan gedung tidak lagi didasari kepada strategi bisnis semata, namun juga memperhatikan dampak sosial seperti ramah lingkungan, dan ruang terbuka untuk interaksi sosial warga kota.

“Tidak ada formula khusus untuk menciptakan kota masa depan yang hebat. Inovasi teknologi harus melibatkan semua pihak, baik pemerintah, publik, maupun swasta, dan disesuaikan dengan karakteristik, dan kebutuhan kota masing-masing.  Setelah itu dibutuhkan konsistensi, dan pengawasan yang ketat, ujar Wicaksono Sarosa, Pakar Pengembangan Kota Transformasi.

Tentang Pusat Transformasi Kebijakan Publik

Transformasi merupakan wadah sekaligus jaringan bagi para pembuat kebijakan, cendekiawan dan masyarakat umum untuk mengkaji berbagai masalah yang muncul di tengah masyarakat. Transformasi dibentuk dan dikelola sebagai jaringan lembaga dalam maupun luar negeri yang berkomitmen mengupayakan pembuatan dan penerapan kebijakan berdasar fakta dengan mencari dan menetapkan jalan keluar permasalahan yang dihadapi, serta memantau dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah tersebut bersama-sama.

Transformasimendasari langkah inovasi kebijakan di Indonesia demi menemukan solusi pragmatis dan teruji untuk mengatasi persoalan ekonomi dan social Paradigma baru dalam inovasi kebijakan publik dapat memberikan sebuah paradigma baru demi perubahan nyata di Indonesia.

Media Contact:

Public Relations Specialist

Muhammad Syarifullah

HP: 08978898998

Email: muhammad.syarifullah@transformasi.org

www.transformasi.org

Communication Specialist

Mohamad Burhanudin

HP: 081-213790386

mohamad.burhanudin@transformasi.org

www.transformasi.org