Pernyataan Pers

climatenewsnetwork.com
climatenewsnetwork.com
JAKARTA, 30 November 2016 - Kesepakatan dunia menyetujui kerangka kerja 5 tahun untuk isu loss and damage di bawah Warsaw International Mechanism on Loss and Damage associated with Climate Change Impacts (WIM) pada Konferensi Pengendalian Perubahan Iklim PBB (Conference of Parties/COP) ke 22 di Marakesh, Maroko tengah November lalu harus mampu dimanfaatkan Indonesia. Selama ini, Indonesia belum memiliki kajian tentang loss and damage akibat perubahan iklim.

Hingga saat ini upaya Indonesia dalam menghadapi dampak perubahan iklim masih pada tataran rencana adaptasinya. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam sebagai akibat dari naiknya suhu permukaan bumi memang perlu diadaptasi oleh negara rentan seperti Indonesia. Salah satu dampak yang dirasakan adalah kenaikan muka air laut di kawasan pesisir Indonesia. Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang ke dua, Indonesia dihadapkan pada risiko langsung maupun turunan dari kenaikan muka air laut ini. “Meskipun demikian risiko bencana akibat perubahan iklim, khusunya dari kenaikan permukaan air laut ini, tidak bisa sepenuhnya dikurangi hanya dengan adaptasi. Loss and damage juga harus dihitung dan disiapkan solusinya," ujar Denia Syam dari Indonesia Climate Alliance (ICA), Senin 28 Oktober 2016.

Keseriusan dalam penanggulangan risiko iklim secara menyeluruh (comprehensive risk management) dengan melihat keterkaitan antara upaya mitigasi, adaptasi, pengurangan risiko bencana serta skema Loss and Damage menjadi krusial. Denia melanjutkan bahwa kesepakatan soal kerangka kerja 5 tahunan dari Komite Exekutif WIM (WIM Excomm) ini adalah momen penting untuk dunia juga. Setelah sebelumnya isu loss and damage menjadi isu yang cenderung dikesampingkan, khususnya oleh negara-negara maju dengan kekhawatiran akan adanya komitmen-komitmen baru, isu ini mendapatkan pengukuhan politisnya di bawah Paris agreement di COP 21 tahun lalu. Kesepakatan kerangka kerja 5 tahun itu, memberikan sinyal positif untuk operasionalisasi komitmen politis yang sudah disepakati sebelumnya ditambah Negara Pihak juga mulai menyadari pentingnya strategic workstream khusus untuk memandu implementasi fungsi WIM terkait peningkatan aksi dan dukungan terhadap Loss and Damage.

"Ditambah lagi disepakati adanya tinjauan berkala dari WIM yang hal ini dapat menjamin isu loss and damage akan tetap menjadi isu prioritas dan dapat menjaga momentum agar mandat dan modalitas yang dimiliki sekarang dapat terus diperkuat untuk kemudian serving Paris Agreement," kata Denia yang mendukung tim Delegasi RI untuk mengikuti sesi pada persidangan tersebut. Jika kerangka kerja dan tinjuan berkala itu dapat dijalankan, maka Indonesia sebagai salah negara yang rentan terhadap perubahan iklim untuk mulai memikirkan tentang isu penting itu dan dapat secara strategis memposisikan dirinya.

Terkait dengan perubahan iklim ini, ICA dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali menyelenggarakan Pekan Perubahan Iklim 2016 (sebelumnya disebut Climate Week). Selama

beberapa hari sejak tanggal 21 November 2016 telah diselenggarakan berbagai rangkaian kegiatan seperti Workshop Nasional Pemetaan dan Peningkatan Aksi Mitigasi dan Adaptasi bagi Kota, Ketangguhan Iklim di Perkotaan, Upaya Integrasi Gender dalam Membangun Ketangguhan terhadap Perubahan Iklim, dan beberapa kegiatan lain hingga awal Desember nanti.

Acara puncak dari kegiatan yang ditujukan untuk dapat mengarusutamakan isu perubahan iklim ini akan dilakukan pada tanggal 1 sampai 2 Desember 2016 mendatang. "Pada acara puncak tersebut loss and damage akan didiskusikan menjadi lebih detail, sehingga hasilnya dapat menjadi rekomendasi kepada pemerintah," ujar Selamet Daryoni, selaku koordinator Pengurus ICA.

Selamet menambahkan bahwa rangkaian acara Pekan Perubahan Iklim 2016 ini ditujukan untuk mempererat jejaring para pihak yang terlibat, baik dalam mitigasi maupun adaptasi perubahan iklim. Selain itu, kegiatan ini diharpkan mampu menerjamahkan Paris Agreement dan hasil COP-22 UNFCCC kedalam kebijakan dan rencana aksi perubahan iklim di Indonesia. Kegiatan Pekan Perubahan Iklim ini digagas oleh Indonesia Climate Alliance (ICA), jejaring yang melibatkan praktisi, akademisi, dan masyarakat dalam aksi kepedulian terhadap perubahan iklim, bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan beberapa pihak yang lain.

i bidang ketahanan perubahan iklim serta pengembangan sistem pengelolaan pengetahuan dari sumber daya para anggotanya.

Saat ini, ICA terdiri atas 12 organisasi, yaitu ICLEI,  Apeksi, Mercy Corps Indonesia, Kehati, CCROM, Burung Indonesia, The Nature Conservancy, IESR, URDI, Plan International, Transformasi dan Generasi Hijau Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut: indonesiaclimatealliance.org