Pernyataan Pers

beritabali.com
beritabali.com
Pengelolaan sampah memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim. Untuk itu keterlibatan semua pihak agar bersama-sama mengelola sampah dengan baik sangat diperlukan.

Ketua Dewan Pertimbangan Pegendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sarwono Kusumaatmadja menyatakan, sampah yang tidak dikelola akan menimbulkan emisi gas rumah kaca (GRK). "Sampah pada prosesnya akan berdampak pada perubahan iklim," kata dia dalam siaran pers yg diterima di Jakarta, Sabtu (17/12/2016).

Selain sampah persoalan perubahan iklim juga dikontribusi oleh sejumlah faktor lain termasuk pertanian, industri, dan transportasi. Sarwono menegaskan, perubahan iklim sungguh terjadi. Fenomena yang paling mudah untuk membuktikan hal itu adalah pergeseran musim di Indonesia. "Dulu perbedaan musim penghujan dan kemarau sangat tegas sekarang sulit diprediksi," katanya.

Sarwono, yang merupakan Menteri Lingkungan Hidup periode 1993-1998 juga mengungkapkan bahwa dirinya baru menerima info tentang mencairnya es abadi di Kutub Utara di tengah musim dingin. Fenomena ini terjadi karena menghangatnya suhu bumi.

Sarwono menyatakan, pemerintah tak bisa bekerja sendiri dalam pengelolaan sampah. Untuk itu, dia mengajak semua pihak berperan dalam pengelolaan sampah. Sarwono juga menantang untuk dikembangannya skema-skema pengelolaan sampah yang berdampak langsung pada perekonomian. "Kita harus tangani sampah ini secara bersama-sama," katanya.

Terkait pengelolaan sampah, Sarwono menyebutkan, Kota Malang, Jawa Timur bisa menjadi rujukan kota-kota lain. Sejumlah inovasi yang dilakukan baik oleh Pemerintah Kota maupun oleh masyarakatnya. Pemkot Malang mendukung pengembangan Bank Sampah oleh masyarakat. Sementara sejumlah sekolah di Malang, seperti SMK N 6, mendirikan Bank Sampah dan pengolahan kompos yang memungkinkan siswanya untuk mendapat tambahan biaya utk sekolah (waste for education bill). Di SMA N 7 Malang, dilakukan program Eco Mapping System yaitu penghitungan emisi GRK yang bersumber dari sampah, penggunaan energi, dan transportasi secara online.

Dalam upaya mitigasi perubahan iklim, pemerintah Indonesia sudah mencanangkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 dengan upaya sendiri atau 41% dengan dukungan internasional. Pengurangan emisi tersebut bersumber dari sektor kehutanan, energi, dan pengelolaan sampah.**