Berita

Penampilannya khas dengan janggut putih lebat. Bersepeda keliling Indonesia yang ia lakoni bukanlah petualangan biasa. Sepanjang perjalanan, ia menemui para alumnus SKMA di seluruh Indonesia sembari menunaikan misi lain: kampanye pelestarian hutan dan lingkungan.

Ia pilih gowes dengan sepeda karena menyehatkan dan ramah lingkungan. Ditemui di rumah salah satu alumnus SKMA di Kuranji, Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, akhir Maret lalu, Kang Andik bercerita panjang lebar. Ia mulai perjalanan pada 16 September 2014 dari Banten, wilayah paling barat Pulau Jawa, yang merupakan tempat kelahirannya.

Dari Banten, ia lantas menaklukkan lintas Jawa-Bali sejauh 6.000 kilometer (km). Selama hampir 10 bulan (September 2014-Juni 2015), ia menyinggahi 128 kabupaten-kota. Kelar dari situ, ia bergeser ke lintas Nusa Tenggara Barat-Nusa Tenggara Timur. Ia menyelesaikan lintas NTB-NTT berjarak 7.900 km itu selama 105 hari (sepanjang Juli-Oktober 2015).

Jarak tersebut mencakup 4.500 km darat dan 3.400 km laut. Di lintas itu, ia menyinggahi 29 dari 32 kabupaten kota yang ada. ”Ada tiga wilayah tidak bisa dijangkau, yakni Betun Malaka karena ada longsor, lalu Sabu dan Alor karena gelombang besar,” ujarnya. Ia bahkan sempat menjajal bersepeda dari Motoain sampai Balibo, Timor-Leste.

Kang Andik kemudian menempuh rute sejauh 8.900 km selama 135 hari di Pulau Sulawesi. Dari 80 kabupaten-kota, tiga wilayah tidak bisa dijangkaunya, yakni Mamasa di Sulawesi Barat karena longsor dan Banggai serta Banggai Kepulauan karena gelombang besar.

Akhir Januari 2016, ia memulai perjalanan dari Maluku Utara hingga Papua. Di Maluku Utara, ia mengunjungi empat kabupaten-kota, sementara dari Papua Barat hingga Papua sebanyak 13 kabupaten-kota. Lelaki itu lalu ke Maluku dan menyinggahi Kota Ambon sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimantan. Lintas Kalimantan, berjarak 7.000 km, ia jelajahi selama 5 bulan 5 hari.

Dari 58 kabupaten-kota di lima provinsi, Kang Andik hanya menyisakan Sukamara. ”Jalanan di Sukamara hancur seusai hujan deras,” ucapnya. Saat ini, Kang Andik gowes di Pulau Sumatera. Ia memulai perjalanan dari Kepulauan Riau pada Desember 2016, lantas berlanjut ke Sumatera daratan, mulai dari Sabang, Aceh, Sumatera Utara, dan masuk Riau pada 30 Januari 2017.

Ia lalu masuk ke Sumatera Barat pada 11 Maret dan berkeliling ke 17 dari 19 kabupaten-kota yang ada. ”Dari Sumbar, saya akan langsung ke Bengkulu, kemudian ke Lampung, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan kembali ke titik awal keberangkatan, yakni Banten,” katanya. Dari semua itu, rute paling berat adalah Subang-Ciater-Tangkubanparahu, Jawa Barat, berjarak 30 km, yang ditempuh selama 10 jam.

Adapun rute terpanjang adalah Taliwang (Sumbawa Barat)-Sumbawa Besar (NTB) berjarak 125 km yang dijalani selama 8 jam. ”Dalam sehari, saya bersepeda rata-rata sejauh 75 km hingga 100 km mulai dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00. Malam harinya, saya istirahat. Kalau tidak ketemu rumah alumni SKMA, saya biasanya tidur di mushala stasiun pengisian bahan bakar umum atau kantor-kantor dinas kehutanan setempat,” katanya.

Seluruh perjalanan itu ia biaya sendiri. Selama 2,5 tahun sejak akhir 2014 lalu, Kang Andik baru sekali pulang ke rumahnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk menghadiri wisuda salah satu anaknya. Untuk mendukung perjalanannya, Kang Andik menggunakan sepeda khusus untuk touring dengan ban berukuran 28 inci.

Sejauh ini sudah tujuh kali ia ganti ban luar dan tak terhitung lagi ganti ban dalam. Sadel sudah lima kali ganti, kampas rem delapan kali, persneling empat kali, rantai dua kali, dan sepatu lima kali. Semuanya tercatat dengan baik.

Menempuh perjalanan jauh, Kang Andik bersyukur dapat menjaga kesehatan. Kebiasaan berolahraga sejak muda dan menjaga pola makan menempa fisiknya menjadi tahan penyakit. ”Saya menjaga agar tiap hari cukup minum air putih. Dua kali seminggu saya minum campuran jeruk nipis, kuning telur, dengan madu atau gula aren,” katanya.

Kampanye hutan
Di setiap provinsi dan kabupaten yang disinggahinya, selain menemui alumni SKMA, Kang Andik juga menjumpai gubernur, bupati dan wali kota, anggota dewan, dinas kehutanan, instansi terkait, dan penggiat lingkungan.

Ia senang berdiskusi dan berkampanye tentang pelestarian hutan dan lingkungan. ”Kepada mereka, saya sampaikan agar tata ruang provinsi hingga kabupaten-kota tetap memprioritaskan kelestarian hutan baik hutan lindung, hutan raya, termasuk daerah aliran sungai, hingga taman kota. Hutan itu bukan hanya sumber air, melainkan juga warisan untuk anak cucu kita,” katanya sembari memperlihatkan sebagian tanda tangan dan foto bersama kepala daerah yang ia temui.

Kang Andik mengingatkan, jangan sampai gara-gara mengejar keuntungan ekonomi, pemerintah daerah lantas mengorbankan hutan dan lingkungan. Jika kepentingan ekonomi mengabaikan lingkungan, akan rentan terjadi bencana alam. Ia juga ikut ambil bagian dalam

Kaya pengalaman
Ngobrol dengan Kang Andik serasa ikut berkeliling Indonesia. Ia antusias menceritakan pengalamannya mencapai empat titik terluar Indonesia. Titik paling utara di Miangas, Sulawesi Utara; paling selatan di Kepulauan Rote, NTT; paling barat di Sabang, Aceh; dan paling timur di Merauke, Papua.

”Indonesia negeri indah, penduduknya ramah. Selama perjalanan, saya tidak hanya terpesona dan kagum akan keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga keberagaman dan hangat penerimaan masyarakatnya,” katanya.

Saat di Papua, Kang Andik sempat tidur di rumah honai (rumah tradisional Papua) di ketinggian 3.560 meter di atas permukaan laut. Ia singgah ke Lembah Baliem di Wamena yang dihuni suku Dani dan berkesempatan melihat mumi berusia 300 tahun. Lelaki itu juga menikmati menyelam sembari melihat keindahan taman bawah laut di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, serta saat snorkeling di Bunaken, Sulawesi Utara.

Seusai menuntaskan perjalanan berkeliling Indonesia, Kang Andik bakal menerbitkan buku Alumni SKMA dan Rimbawan Ada di Mana-mana. Buku itu direncanakan bisa diluncurkan antara September 2017 dan Maret 2018. Setelah itu, ia akan kembali mengayuh pedal lagi.

Kompas