Berita

Pada Selasa (23/5) sore, Goris Mustaqim ditemui Kompas di Rumah Susun (Rusun) Pesakih, Daan Mogot, Jakarta Barat. Beberapa orang di lingkungannya lebih akrab dengan nama Goris Asgar—asli Garut—dibandingkan dengan nama lengkapnya.

Sore itu dia bertugas memberikan pendampingan kepada sejumlah mahasiswa yang melakukan kegiatan pemberdayaan di rusun. Senyum Goris menyambut hangat. Jabatan tangannya kuat. Kami berbincang di sela kesibukannya mendampingi mahasiswa. Muda-mudi rusun hilir mudik datang, mempersiapkan acara yang berlangsung sehabis Maghrib tersebut.

Tugas Goris adalah melihat seperti apa potensi yang ada di lingkungan rusun, kelebihan pemuda-pemudi, lalu memberikan masukan terhadap para mahasiswa yang melakukan pendampingan. Pemetaan, kerangka pemikiran, dan rencana pemberdayaan adalah makanan sehari-hari Goris.

Hal itu pula yang dilakukannya di daerah kelahirannya, Garut. Rumah Sehat adalah salah satu yang digagasnya bersama rekan-rekannya.

”Di sini saya supervisi saja,” kata Goris. ”Saya juga mengajak seorang rekan dari Garut yang akan mempresentasikan tentang inovasi baru di sana, yaitu Rumah Sehat,” ujarnya.

Rumah Sehat adalah sebuah model pelayanan bagi ibu hamil di daerah Garut. Rumah sehat dikembangkan oleh pemuda-pemuda Garut yang tergabung dalam Yayasan Asgar Muda. Goris adalah salah satu pendiri yayasan itu. Rumah Sehat juga telah diolah dalam platform digital dan terintegrasi dengan sebuah aplikasi.

Rumah sehat mulai diprakarsa sejak tahun 2014. Hal itu dilakukan karena masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Garut. Setelah dilakukan pemetaan masalah, diputuskan perlu ada sebuah kerja sama holistik agar bisa langsung memberikan pendampingan kepada warga. Warga, tenaga kesehatan, dan swasta mengelola data rinci ibu hamil, lalu memberikan pencegahan sesuai apa yang dihadapi.

”Model penanganannya memanfaatkan big data yang ada dari pencatatan semua ibu hamil. Alhamdulillah, ibu yang kami dampingi semua selamat. Program ini rencananya akan direplikasi di sejumlah kabupaten/kota,” ujarnya.

Ketimpangan

Kiprah Goris saat ini memang lebih ke fasilitator, pendamping, atau pemberdaya masyarakat. Langkah kakinya telah malang melintang dari barat hingga ke Indonesia timur. Dia mendampingi banyak daerah untuk menemukan potensi, kelembagaan, lalu mengaplikasikannya dalam program di masyarakat.

Dia juga pernah mendampingi Desa Nganggleran, Wonosari, Gunung Kidul, yang saat ini dinobatkan menjadi desa wisata terbaik se-ASEAN. Desa ini mendapat penghargaan dari ASEAN Community Bases Tourism.

Namun, membicarakan kiprah nomine Asia’s Best Young Entrepreneur dari Business Week Magazine 2009 ini tidak akan lengkap tanpa membicarakan jejaknya di Yayasan Asgar Muda. Sebuah yayasan yang dibentuk sejak tahun 2008.

Selepas lulus kuliah dari Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung pada 2006, Goris yang telah aktif dalam berbagai kegiatan di kampusnya tidak ingin menjadi pekerja kantoran. Dia mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Setelah perusahaan ini berjalan, sesuatu masih mengganjal di benaknya.

Setiap pulang kampung di Garut, hatinya merasa teriris. Garut saat itu masih tertinggal, ketimpangan ekonomi tinggi, angka kematian ibu dan bayi juga sama. Satu-satunya yang rendah adalah pendapatan masyarakat. Pemuda-pemudi desa banyak yang ke kota mencari pekerjaan. Karena itu, dia merasa perlu melakukan sesuatu agar hal ini bisa berubah.

”Anak-anak tidak punya impian ingin menjadi apa nantinya. Pada 2007, kami mulai dengan memberikan bimbingan belajar kepada anak- anak SMA. Awalnya hanya 1,5 bulan, lalu menjadi setahun pada tahun berikutnya. Melihat hal itu, kami mendirikan Yayasan Asgar Muda agar kegiatan lebih terstruktur,” ucap Goris.

Dari kegiatan pendidikan, lalu mengalami ekstensifikasi program ke berbagai sektor pemberdayaan. Mulai dari pembudidayaan akar wangi, kopi halimun, sektor peternakan, kerajinan kulit, hingga desa wisata.

Konsep pemberdayaan di bawah yayasan tersebut mengedepankan pemberdayaan komunitas. Dengan begitu, diharapkan efek yang tercipta jauh lebih banyak dan bisa memberdayakan masyarakat lebih luas. Sedikit demi sedikit, keberdayaan masyarakat mulai meningkat.

Di bidang kewirausahaan, misalnya, Yayasan Asgar Muda pernah menggelar program Gerakan Kewirausahaan yang melibatkan wirausaha lokal berusia antara 18 tahun dan 30 tahun. Goris mengumpulkan ide-ide bisnis dari orang muda, melibatkan mereka dalam pameran wirausahanya, dan duduk bersama sambil membahas rencana bisnis yang matang. Para wirausaha muda juga dipertemukan dengan calon investor agar produk bisa bertemu dengan pasar.

Kerajinan kulit Garut yang memang dari dulu dikenal dengan kualitasnya dikelola secara profesional dan lebih merengkuh banyak pasar. Salah satu produk unggulan kerajinan kulit adalah merek Mostra yang telah menembus pasar internasional.

Dari kegiatan-kegiatan itu, Goris mendapat banyak jejaring. Dia menjadi juri lomba wirausaha, pendamping, atau sekadar merancang konsep pemberdayaan. Penghargaan banyak diraihnya. Dia juga didaulat menjadi orang Garut pertama yang bersalaman dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada tahun 2010.

Sejak 2015, dia juga membentuk Aliansi Putra Daerah Membangun. Aliansi ini terdiri dari Aceh sampai Papua, yang anggotanya anak muda penggerak di daerah masing-masing. Menurut Goris, gerakan membangun dari daerah harus terus digalakkan.

Pesan ayah

Goris kecil tumbuh sebagai bungsu dari lima bersaudara di Tarogong, Kabupaten Garut. Ayahnya, (alm) H Gioem Sowarsono, adalah orang yang aktif dalam berbagai organisasi. Meski tidak begitu dekat secara personal, dia mengaku mewarisi ”darah” aktivis dari sang ayah.

”Ayah saya pernah dipenjara pada 1966. Beliau adalah Ketua Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia Priangan Timur, waktu itu,” ujar Goris.

Meski tidak berpesan secara khusus, Goris merasa apa yang dilakukan sang ayah adalah contoh nyata yang menjadi role model-nya di kemudian hari. Almarhum ayahnya juga pegiat koperasi.

Untuk itu, Goris tidak ada kata berhenti untuk terus mengamplifikasi gerakan kewirausahaan ke beberapa pelosok negeri. Menurut dia, agar ketimpangan itu bisa diatasi, berwirausaha adalah cara yang paling mandiri. Targetnya, bisa memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 1 juta orang.

”Ya, meski enggak langsung, setidaknya bisa berdampak luas. Itu target besar saya,” ucapnya.

Kompas