Berita

Maria adalah mantan Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan PhD bidang Veterinary and Biomedical Sciences dari Universitas Murdoch, Perth, Australia.

Ia perempuan pertama yang menjadi wakil bupati di NTT dan dilantik 17 Februari 2016. Saat menjadi Wakil Bupati Manggarai Barat, NTT, Maria menginisiasi program Gerakan Membangun Kampung (Gerbangku).

Program yang diluncurkan tahun lalu itu diprioritaskan bagi kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Tujuannya agar perempuan kampung bisa berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Maria ingin perempuan bisa mandiri dari sisi ekonomi.

”Perempuan kampung sulit mendapatkan uang. Mereka mudah dibodohi, akhirnya terperangkap dalam berbagai persoalan kemanusiaan. Mereka menjadi tenaga kerja wanita ilegal di luar negeri dan mengalami pelecehan seksual. Mereka juga sering mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga,” ujarnya.

Bibit ayam
Maria mulai usaha ternak ayam bulan September 2016. Ia mendatangkan 100 bibit ayam kampung dari Kupang, terdiri dari 20 ekor jantan dan 80 ekor betina usia tiga bulan, serta 400 ekor ayam jantan ras tipe petelur umur sehari (day old chicken/DOC).

Ayam-ayam itu dikemban gbiakkan di salah satu ruang di rumah di nas wakil bupati Manggarai Barat. Ayam jantan ras tipe petelur setelah tiga bulan dibagikan kepada petani untuk dikawinkan dengan ayam betina lokal (ayam kampung) dan dipelihara secara komersial.

”Petani, termasuk kaum perempuan di daerah terpencil, lebih mudah diajari lewat contoh nyata dibandingkan lewat kata-kata. Informasi yang disampaikan dengan bahasa verbal sulit dicerna, apalagi ditindaklanjuti. Namun, apa yang kita kerjakan, hasilnya seperti apa, itulah yang mereka tiru,” kata Maria dalam perbincangan di Labuan Bajo, Flores, NTT, Sabtu (6/5).

Sementara itu, ayam kampung yang berjumlah 100 ekor dipelihara. Bulan Desember 2016, ayam mulai bertelur. Pertengahan Januari 2017, 100 telur yang memenuhi syarat ditetaskan menggunakan mesin penetas skala kecil.

Kini, di tempat pengembangbiakan ada 1.500 ekor ayam berusia 1 hari sampai tiga bulan. Saat ini ada 10 mesin tetas (inkubator) sumbangan dari kolega dokter hewan di Lampung dan Jakarta.

Namun, baru empat yang bisa digunakan, sedangkan enam inkubator lain masih dalam perbaikan. Setiap pekan dihasilkan sekitar 100 DOC untuk dipelihara. Telur-telur lain dijual untuk biaya operasional.

Setelah tiga bulan dipelihara, ayam dibagikan cuma-cuma kepada petani desa melalui kelompok ibu-ibu PKK dan petani yang memiliki kandang ayam. Petugas Dinas Peternakan Manggarai Barat melakukan pendampingan.

Sejauh ini sekitar 1.000 anak ayam petelur telah dibagikan kepada kelompok perempuan di 57 desa dari 164 desa di Kabupaten Manggarai Barat. Per kelompok memiliki 10-15 ekor.

Telur ayam-ayam itu dijual dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per butir. Sementara ayam kampung yang dipelihara petani dijual dengan harga Rp 70.000-Rp 100.000 per ekor. Produksi ayam kampung dan telur petani itu dipasarkan ke hotel, restoran, pasar, dan sebagian dikonsumsi untuk meningkatkan asupan gizi keluarga petani.

Penduduk miskin di Manggarai Barat ada 55.000 jiwa dari total 251.691 penduduk. Pendapatan per kapita masyarakat Rp 265.000 per tahun. Warga miskin diberdayakan dengan program Ayam Tabungan Masyarakat (ATM).

”Saya luncurkan program ATM karena ayam mudah dipelihara dan siklus pemeliharaannya pendek. Ayam bisa meningkatkan gizi masyarakat, melalui konsumsi telur maupun daging, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga,” katanya.

Maria meracik sendiri pakan ayam dari jagung lokal, ikan teri, dan dedak. Bahan-bahan ini mudah didapatkan di Labuan Bajo. Kegiatan itu dikerjakan Maria saat senggang, setelah pulang kantor.

Terus memberdayakan
Maria mendorong agar rumah-rumah di kampung-kampung dibangun berbasis kearifan lokal. Di setiap desa dipersiapkan home stay, terutama desa yang memiliki potensi sebagai desa wisata.

Ada empat desa di Manggarai Barat dikenal sebagai desa wisata lengkap dengan sanggar budaya dan home stay, yaitu Desa Liang Ndara, Tado, Waisano, dan Cinca Wulang.

Saat ini pemkab menyiapkan anggaran untuk memberi bantuan komputer bagi desa wisata yang memiliki home stay. Hal itu untuk meningkatkan minat turis berwisata di desa itu. Badan usaha milik desa dibentuk guna menopang kegiatan wisata.

Kelompok usaha kecil dan menengah di desa itu dilibatkan mendukung pariwisata desa. ”Dengan demikian, penduduk desa tidak perlu lagi ke kota atau menjadi tenaga kerja di luar Manggarai Barat,” kata Maria.

Bagi perempuan yang tinggal di Labuan Bajo, Maria memberdayakan mereka lewat Kampung Festival Labuan Bajo (Kafela). Kafela melibatkan perempuan untuk membangun pasar produk kreatif dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Maria membentuk kelompok perempuan dengan kegiatan menenun, menganyam, dan menyulam. Produknya dijual ke hotel, pengusaha, atau langsung ke wisatawan. Para perempuan juga menganyam daun lontar dan bambu dijadikan wadah yang disebut roto.

Roto berfungsi sebagai tas, keranjang, dompet, dan wadah alat tulis atau kacamata. Harga hasil kerajinan ini bervariasi Rp 50.000 hingga Rp 3 juta. ”Saya terus mendorong perempuan berkreasi, berpedoman pada kearifan lokal.
Kami membentuk kelompok perempuan untuk mengembangkan,” katanya.

Ia juga mengajak perempuan memproduksi gula aren dengan memanfaatkan pohon lontar yang ada, menggali lagu-lagu dan tarian-tarian tradisional, serta alat musik tradisional khas Manggarai. Semua itu untuk memberdayakan kaum perempuan sekaligus mendukung pariwisata Manggarai Barat.

Kompas