Berita Perikanan

image: bbkpm.bandung
image: bbkpm.bandung
Sebanyak 10.000 nelayan di pesisir selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, belum memiliki jaminan asuransi. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat setiap tahun 10-15 nelayan Cilacap menjadi korban kecelakaan laut.

Data Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cilacap menyebutkan, dari sekitar 17.000 nelayan yang terdaftar sebagai anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di Kabupaten Cilacap, baru sekitar 7.000 yang mengikuti BPJS Ketenagakerjaan.

Ketua HNSI Cilacap Indon Tjahjono mengatakan, nelayan sangat rentan mengalami kecelakaan kerja sehingga sudah saatnya mendapat jaminan asuransi. Terlebih, para nelayan tradisional yang sangat bergantung pada pendapatan sehari-hari.

Suripto (37), nelayan Pantai Kemiren, Cilacap, mengatakan paling khawatir jika terjadi kecelakaan di tengah laut. Pasalnya, keluarganya hanya mengandalkan pendapatan dirinya dari melaut. "Dengan jaminan santunan, kami akan lebih merasa nyaman mencari ikan," ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Lalu Muhammad Syafriadi di Cilacap mengatakan, premi yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan secara gratis kepada nelayan hanya untuk tiga bulan pertama sejak iuran dimulai. Pihaknya mendorong lembaga perbankan milik pemerintah daerah, seperti Bank Jateng, bisa membantu premi BPJS Ketenagakerjaan bagi nelayan.

Kemarin, dia menyerahkan santunan BPJS Ketenagakerjaan kepada ahli waris dua nelayan asal Cilacap yang meninggal akibat kecelakaan kerja.

Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Cilacap Izaddin mengatakan, nelayan termasuk tenaga kerja informal sehingga premi yang harus dibayarkan sebanyak Rp 18.800. (GRE)

sumber: Kompas