Berita Perikanan

antaranews.com
antaranews.com
Sekitar 60.000 orang dari 150.000 nelayan di Jawa Barat mendapatkan bantuan asuransi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pertanggungan jiwa dan kesehatan itu diyakini membantu keluarga nelayan dalam mengurangi risiko, terutama akibat kecelakaan laut yang setiap saat menghantui mereka.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Barat Nanang Permana, Senin (31/10), di Bandung, menjelaskan, setiap hari usaha nelayan, terutama di laut lepas, rentan terhadap kecelakaan laut. Apalagi di pantai selatan Jabar yang gelombangnya mengancam keselamatan perahu nelayan. "Perahu nelayan pada umumnya berukuran kecil sehingga sangat rawan kecelakaan," ujar Nanang.

Hal senada disampaikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat menghadiri Ruat Laut Ke-49 KUD Mandiri Mina Fajar Sidik di Blanakan, Kabupaten Subang, Minggu. "Insya Allah tahun ini dan tahun depan bantuan asuransi dari pemerintah pusat bisa mereka terima. Terima kasih kepada KKP dan DPR yang mengalokasikan pendanaan untuk nelayan," ujar Heryawan.

Asuransi jadi bagian dari perhatian pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan nelayan dan pengembangan industri kelautan nasional. Tahap pertama diberikan kepada 1 juta nelayan dari sekitar 17 juta nelayan di Indonesia. Total santunan senilai Rp 175 miliar yang dibagi dalam asuransi untuk nelayan yang meninggal saat penangkapan ikan Rp 200 juta, cacat tetap Rp 100 juta, dan biaya pengobatan Rp 20 juta. Adapun asuransi nelayan yang meninggal di luar penangkapan ikan Rp 160 juta, cacat tetap Rp 100 juta, dan biaya pengobatan Rp 20 juta.

Sarden menghilang

Perubahan iklim memicu ikan sarden sulit didapatkan lagi di Selat Bali. Kondisi itu diperparah dengan adanya penangkapan berlebih selama bertahun-tahun. Akibatnya, industri pengolahan ikan sarden pun paceklik.

Hal itu terungkap dalam diskusi pengelolaan perikanan lemuru (sarden) yang bertema "Upaya Adaptasi Mitigasi Perikanan Lemuru Menghadapi Variabilitas Iklim", Senin (31/10), di Denpasar. Diskusi itu digelar Badan Penelitian dan Pengembangan KKP. Hadir perwakilan dari KKP, Pemerintah Provinsi Bali dan Jawa Timur, Pemkab Banyuwangi dan Jembrana, peneliti, dan pengusaha perikanan.

Tim peneliti Puslitbang KKP menemukan rendahnya tangkapan karena suhu permukaan laut meningkat dan thermoklin yang semakin dalam. Thermoklin adalah lapisan yang membagi dua massa air di perairan. "Makanan sarden, yakni plankton, melimpah di air bersuhu dingin. Saat suhu permukaan naik, termoklin kian dalam, sarden bisa turun lebih dalam, tak terjangkau jaring nelayan. Itulah mengapa sarden sulit didapatkan," kata Reny Puspasari, penanggung jawab riset.

Kompas