Berita Perikanan

Bisnis Indonesia
Bisnis Indonesia
Kementerian Kelautan dan Perikanan tetap mengkaji kemungkinan impor ikan untuk mengatasi ke langkaan bahan baku surimi pascapenerapan la rangan cantrang meskipun ide itu ditolak oleh pelaku usaha.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo mengatakan, instansinya sedang berkomunikasi dengan be berapa pihak untuk mempelajari peluang impor. Pihak yang dimaksud a.l. Ba dan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Soal apakah impor ikan itu bertentangan dengan aturan, mengingat ba han baku surimi sesungguhnya ada di dalam negeri, seperti kurisi, kuniran, swangi, kapasan, dan gulamah, Nilanto menuturkan, hal itu juga se - dang dipelajari.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 74/Permen-KP/2016 misalnya, mengharuskan impor memper - hatikan hasil perikanan yang tidak ada di Indonesia. “Karena itu kami sedang mengkaji hal-hal teknis dan nonteknis lain apakah feasible. Kami mencari solusi terbaik,” katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Impor ikan selama ini didominasi oleh makarel, tuna, cakalang, tongkol, dan sarden. Dari realisasi impor ikan se panjang Januari—Agustus 2016 sebanyak 55.630 ton, volume makarel men capai 27.419 ton, tuna, cakalang, dan tongkol 12.032 ton, sedangkan sarden 7.584 ton, berdasarkan data KKP.

Salah satu alasan produsen surimi atau daging ikan lumat keberatan terhadap gagasan pemerintah membuka impor ikan adalah harga yang lebih mahal ketimbang bahan baku yang tersedia di dalam negeri selama ini.

Direktur PT Holi Mina Jaya Tanto Hermawan menyebutkan, harga ikan bahan baku surimi di beberapa negara, seperti Malaysia, India, dan Pakistan sekitar US$0,7—US$1 per kg. Ditambah ongkos proses (pembekuan) US$0,15 per kg dan ongkos angkut US$0,1 per kg, harga bahan baku bisa mencapai Rp9.975—Rp16.625 per kg (kurs Rp13.300 per dolar AS). Padahal, harga bahan baku lokal Rp5.000— Rp8.000 per kg.

KALAH BERSAING

“Setelah keluarkan ongkos proses, freight , kami harus mengeluarkan biaya lagi untuk produksi. Lalu, mau dijual berapa? Kita kalah saing. Opsi impor tidak mungkin kami ambil,” katanya Tanto.

Holi Mina merupakan produsen surimi di Rembang, Jawa Tengah, de ngan kapasitas produksi 150 ton ikan per hari yang menghasilkan 40 ton surimi dan 30 ton ikan beku per hari. Seluruh hasil produksi selama ini diekspor ke Asia, Uni Eropa, dan Ame rika Serikat dengan penjualan Rp500 miliar—Rp600 miliar per tahun.

Sejak sebulan terakhir, perusahaan dalam negeri yang sudah menanamkan modal Rp150 miliar itu setop ber produksi karena tidak ada bahan baku setelah pemerintah melarang nelayan menangkap ikan mengguna - kan alat tangkap cantrang. Praktis, 800 buruh harian dan 400 pekerja bo rongan tidak bekerja.

PT Kelola Mina Laut (KML) dengan kapasitas pabrik surimi 6.000 ton per tahun juga tidak akan mengimpor, setidaknya dalam enam bulan ke depan sam bil melihat program pendampingan peng gantian cantrang yang dilakukan KKP.

Direktur Operasional PT KML Zainul Wasik memperkirakan, harga surimi ekspor bisa mencapai US$3 per kg jika diolah dari bahan baku impor. Har ga itu jelas tidak kompetitif dibandingkan dengan harga surimi negara lain.

“Apa laku di luar negeri? Kita bisa saja produksi, tetapi tidak bisa jual,” katanya. KML selama ini mengekspor 70% hasil produksi, sedangkan sisanya di pakai oleh beberapa perusahaan afi liasi yang mengolah surimi dengan nilai pen jualan US$16 juta per tahun.

Bisnis Indonesia