Berita Perikanan

bisnis indonesia
bisnis indonesia
Setelah terakselerasi nyaris 8% pada 2015, pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB subsektor perikanan sepanjang 2016 melambat dengan laju hanya 5,15%.

Pertumbuhan itu merupakan yang paling rendah setidaknya dalam enam tahun terakhirMenurut Badan Pusat Statistik (BPS), baik produksi perikanan tangkap maupun budi daya melambat akibat curah hujan yang tinggi tahun lalu.

Namun, kinerja produksi rumput laut dan hasil perikanan budi daya yang kurang menggembirakan paling mengerem laju PDB perikanan. “Di perikanan tangkap, walau dikasih kapal, kalau cuaca tidak bagus, nelayan tetap tidak bisa melaut. Di budi daya, aktivitas pengeringan rumit karena banyak hujan,” kata sumber di BPS yang tidak bersedia disebut namanya, Senin (6/2).

Realisasi pertumbuhan itu sesungguhnya jauh di bawah target pemerintah 8%. Meskipun telah menunjukkan gejala pelemahan sejak kuartal I/2016, pemerintah tidak merevisi target, bahkan mematok pertumbuhan PDB 2017 sebesar 9,5%.

Menanggapi perlambatan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) dan berlaku (ADHB) tetap naik. Mengutip data BPS, dia menyebutkan, PDB ADHK naik dari Rp204 triliun pada 2015 menjadi Rp214,5 triliun. PDB ADHB meningkat dari Rp288,9 triliun menjadi Rp317,1 triliun. “Secara persentase memang melambat 5,15%, tetapi dari nilai absolut masih tetap meningkat,” ujarnya melalui pesan singkat.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto tidak merespons saat dihubungi. Namun, penurunan kecepatan pertumbuhan PDB perikanan sejalan dengan perkiraan realisasi produksi perikanan budi daya 2016 yang diumumkan pemerintah awal Januari 2017.

Slamet saat itu mengumumkan produksi perikanan budi daya mungkin hanya 15,8 juta ton hingga akhir 2016 alias di bawah target 19,5 juta ton. Data DJPB menyebutkan produksi perikanan budi daya hingga kuartal III/2016 hanya 13,2 juta ton.

“Ada beberapa kemungkinan pada 2016. Kita mempunyai iklim ekstrem, terutama hujan. Hampir sepanjang tahun, kita diguyur hujan sepanjang hari. Kemungkinan-kemungkinan ini menyebabkan penurunan produksi,” kata Slamet.

CURAH HUJAN

Hujan sepanjang tahun lalu, lanjutnya, menganggu baik budi daya perikanan laut maupun perikanan darat. Dia menjelaskan, curah hujan tinggi menurunkan kadar garam (salinitas) dan derajat keasaman (pH) yang selanjutnya mengganggu reproduksi ikan laut.

“Biasanya mereka memijah atau pun kawin pada kadar garam yang tinggi, 33—35 ppt . Karena kadar garam turun, mereka terganggu,” jelas Slamet. Terhadap perikanan budi daya darat, curah hujan yang tinggi akan membuat suhu air ber- fl uktuasi sehingga menyulitkan ikan bertumbuh.

Meskipun realisasi tahun lalu hanya sekitar 16 juta ton, pemerintah mematok target produksi perikanan budi daya tahun ini 21,9 juta ton, yang terdiri atas 12 juta ton rumput laut basah dan sisanya ikan, termasuk udang dan kekerangan.

Berdasarkan ramalan, kata Slamet, cuaca tahun depan akan lebih kondusif bagi perikanan budi daya daripada tahun lalu. Namun, sebagai antisipasi terhadap anomali cuaca, pemerintah akan menggalakkan budi daya ikan yang tahan terhadap perubahan iklim dan lingkungan, misalnya lele dan kekerangan

Bisnis Indonesia