Berita Perikanan

detik
detik
Jakarta -Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang perlindungan, dan Pemberdayaan Nelayan dan Pembudidaya Ikan, muncul wacana pembentukan 'Bulog Perikanan'. Ada BUMN yang disebut-sebut sebagai penjaga stok dan stabilisasi harga ikan layaknya Perum Bulog yang mengelola beras.

"Menarik pembahasan kali ini tercetus Bulog Perikanan. Namanya mungkin Badan Urusan Perikanan Indonesia. Tugasnya untuk stabilisasi harga, khususnya saat harga jatuh dan penyerapan hasil tangkap. Ini sejalan dengan misi poros maritim," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron saat rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2015).

Dalam rapat tersebut, hadir Kepala Sekolah Tinggi Perikanan, I Nyoman Suyasa. Kemudian ada juga Direktur Utama PT Perikanan Nusantara (Persero), Abdussalam Konstituanto. Terakhir hadir Direktur PT Perikanan Indonesia, Agus Suherman.

Sementara Anggota Komisi IV lainnya, Ichsan Firdaus mengatakan, di sektor perikanan, pemerintah bisa memberikan bantuan lewat BUMN untuk stabilisator harga.

Menyambung Ichsan, anggota lainnya, Siti Hediati, mengatakan bahwa Bulog tidak bisa menjadi stabilisator komoditas perikanan karena tugasnya sudah banyak.

"Bulog komoditinya sudah banyak. Perlu dibuat sendiri Bulog perikanan. Saat panen, ikan bisa ditampung untuk diolah atau dikeringkan. Lalu saat harga sudah membaik, bisa dilepas produknya. Terutama pada saat angin barat nelayan tidak bisa melaut. Tidak hanya ikan, tapi juga rumput laut," jelas Siti.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Perum Perindo, Agus Suherman mengatakan, pihaknya siap menjalankan fungsi Bulog Perikanan. Agus mengatakan, Perindo siap bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk penyediaan benih.

"Pembentukan Bulog perikanan itu harus segera. Banyak masalah yang bisa terselesaikan. Kami sudah punya cold storage yang kapasitasnya 5.000 ton. Ke depan, akan kami tingkatkan menjadi 10.000 ton yang tersebar di Jawa dan Indonesia timur," kata Agus.

"Arah kami ingin maksimalkan menampung ikan hasil tangkapan petani. Supaya tangkapan bertahan bagus. Lalu saat panen, harga turun, ikan tidak dibuang berton-ton begitu saja. Bisa kami proses menjadi fillet, pembersihan isi perut, dan diolah menjadi baso ikan. Harusnya memang sudah ada Bulog perikanan," kata Agus.

Sumber: detik