Berita Penciptaan Lapangan Kerja

image: Kontan
image: Kontan
JAKARTA. Kalangan industri menginginkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan BBM industri jenis solar turun. Selain bisa memangkas ongkos produksi, penurunan harga BBM bisa mengangkat lagi daya beli masyarakat.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adi S. Lukman mengatakan, pengusaha makanan dan minuman menanti janji pemerintah yang akan menurunkan BBM mulai 1 Januari 2016. "Kami tunggu janji itu agar bisa membantu mempertahankan harga jual dan mengimbangi kenaikan upah minimum provinsi (UMP)," kata Adi, Rabu (9/12).

Hanya Adhi pesimistis kebijakan penurunan harga BBM bisa memicu gairah masyarakat untuk berbelanja. "Sebab, pemulihan daya beli harus disertai dengan peningkatan pendapatan masyarakat, seperti gaji serta penurunan harga jasa dan komoditi pangan," ujar dia.

Namun, ia yakin penurunan harga BBM bisa menahan penurunan daya beli. "Pelaku industri akan mengupayakan agar harga stabil agar daya beli konsumen sama seperti 2015," kata dia.

Sekretaris Perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk Desilina juga berharap harga premium bisa turun. "Kalau memang bisa turun, ini akan lebih baik karena biaya transportasi bisa ikut berkurang," kata dia. Meski, porsi BBM bagi biaya produksi Tiga Pilar sejatinya juga tidak banyak, pasalnya Tiga Pilar lebih banyak menggunakan listrik dan batubara.

Corporate Communication Mayora Sribugo Suratmo juga berharap BBM bisa turun agar daya beli masyarakat lebih baik. "Kami ingin harga BBM turun karena itu akan meningkatkan daya beli. Daya beli yang bergairah akan meningkatkan semangat perusahaan," kata dia.

Industri minta turun

Rusdi Rosman, Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengungkapkan, selama ini solar menjadi faktor kenaikan beban pokok penjualan alias cost of goods sold (COGS) lantaran industri farmasi menggunakan solar untuk memproduksi obat di pabrik. Makanya, "Harga jual BBM harus turun sesuai dengan persentase penurunan harga minyak mentah dunia," kata Rusdi, kepada KONTAN, Rabu (9/12).

Saat ini, penggunaan BBM di KAEF berkontribusi di bawah 5% terhadap COGS. Adapun gaji karyawan berkontribusi paling besar yakni sekitar 7,5%-11% terhadap COGS.

Menurut dia, penurunan harga BBM bisa memperlonggar biaya operasional industri farmasi, sehingga perusahaan dapat mengalihkan penghematan biaya untuk penggunaan produksi lainnya.

Selain itu, "Penurunan BBM juga memacu kenaikan daya beli yang ujungnya membantu naiknya pertumbuhan ekonomi," imbuh dia.

Bagi industri kemasan, penurunan harga BBM stidak berpengaruh langsung bagi perusahaan. Antonius Muhartoyo, Direktur Utama PT Champion Pacific Indonesia Tbk menjelaskan, meski minyak mentah dunia menjadi salah satu bahan baku pembuatan film kemasan, namun harga bahan baku film lain tidak kunjung turun.

Antonius menerangkan, industri kemasan tidak terlalu banyak menggunakan BBM karena bahan bakunya saat ini masih impor. Pasalnya "Kami belum mampu membuat bahan baku sendiri," katanya. Alhasil, stabilitas rupiah lebih diharapkan.

Adapun, bagi Sammy Hamzah, Board of Director Indonesian Petreleum Associattion (IPA), IPA justru pusing saat harga minyak mentah dunia terus melorot seperti sekarang. Ia khawatir kondisi ini membuat minat berinvestasi sektor migas di Indonesia semakin susut.

Sementara kalaupun penurunan harga minyak diikuti dengan penurunan harga BBM tak banyak pengaruhnya bagi produsen minyak.

sumber: Kontan