Berita Penciptaan Lapangan Kerja

image: istimewa
image: istimewa
Bank Indonesia memperkirakan kinerja ekspor Indonesia tahun ini akan membaik sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut tak lepas dari membaiknya harga komoditas ekspor yang menjadi unggulan Indonesia. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Yoga Affandi, Sabtu (18/2) di Bandung, Jawa Barat, mengatakan, harga komoditas ekspor yang akan membaik tahun ini adalah tembaga, batubara, minyak kelapa sawit, karet, nikel, timah, aluminium, dan kopi. Harga batubara meningkat paling tinggi, sebesar 21,5 persen.

Peningkatan harga batubara didorong peningkatan permintaan global, khususnya permintaan dari Tiongkok yang tengah menyeimbangkan perekonomiannya secara bertahap. ”Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas yang dihasilkan petani, yaitu minyak kelapa sawit dan karet. Harga minyak kelapa sawit dan karet masing-masing meningkat 12,8 persen dan 5,3 persen secara tahunan. Kenaikan harga minyak kelapa sawit itu dipengaruhi peningkatan permintaan dari India,” ujarnya.

Berdasarkan hasil kajian BI, harga tembaga tahun ini diperkirakan naik 12,4 persen, nikel 1,7 persen, dan aluminium naik 13,5 persen. Adapun untuk harga timah dan kopi masing-masing diproyeksikan naik 15,2 persen dan 8,7 persen. Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia pada tahun ini diperkirakan rata-rata sebesar 10,2 persen. Yoga menambahkan, perbaikan kinerja ekspor itu akan memperbaiki defisit transaksi berjalan (CAD). Sepanjang 2016 CAD Indonesia sebesar 16,3 miliar dollar AS atau 1,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Capaian itu lebih baik dari 2015 yang tercatat sebesar 17,5 miliar atau 2 persen dari PDB. Kepala Riset dan Strategis Bahana Sekuritas Harry Su mengemukakan, kontribusi ekspor terhadap PDB pada 2016 masih kecil, yaitu 1,61 persen. Meskipun demikian, CAD Indonesia mengalami perbaikan secara signifikan sejak 2014.

Sektor manufaktur
Kendati ditopang komoditas andalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus juga diperkuat ekspor dari sektor manufaktur atau industri olahan. Strategi tersebut untuk memperbaiki kualitas ekonomi nasional. Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Karyanto Suprih mengemukakan, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah memperkuat promosi dan jaringan pasar melalui atase perdagangan dan perwakilan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri. ”Akan ada reposisi atas peran dan fungsi atase perdagangan dan ITPC. Nanti mereka berperan sebagai business dan market intelligence,” tuturnya. Chief Economist Mandiri Sekuritas Leo Rinaldy, dalam risetnya pekan lalu, menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak dan permintaan domestik juga mendorong impor. Kedua hal tersebut dipengaruhi rendahnya harga dan angka impor tahun lalu. ”Menurut kami, arus modal merupakan risiko eksternal nya- ta, khususnya dengan mempertimbangkan Brexit, pemilu-pemilu di Eropa, juga pengetatan moneter dari Federal Reserve,” ujar Leo.

Nilai tukar
Senada dengan Leo, tim riset Trimegah Securities juga menyebutkan bahwa faktor eksternal masih akan memengaruhi pergerakan nilai tukar. ”Prospek kurs rupiah dipengaruhi rencana proteksionisme Trump dan rencana deglobalisasi. Menurut kami, ada kenaikan 25-50 basis poin pada Reverse Repo 7 hari tahun ini, selaras dengan ekspektasi pasar, ada kenaikan 50 basis poin pada suku bunga Fed Fund,” demikian hasil riset Trimegah. Kepala Riset Samuel Sekuritas Andy Ferdinand menyebutkan, faktor surplus perdagangan dan suku bunga Reverse Repo jadi katalis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan.

Kompas