Berita Penciptaan Lapangan Kerja

 

 

Karang Taruna Desa Jragung mengikuti pelatihan SINERGI bersama produknya (Foto: Andhiani M. Kumalasari/SINERGI)
Karang Taruna Desa Jragung mengikuti pelatihan SINERGI bersama produknya (Foto: Andhiani M. Kumalasari/SINERGI)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terletak di tengah-tengah hutan, di ujung selatan Kabupaten Demak, lokasi Desa Jragung cukup terpencil. Desa ini berpenduduk 9.402 orang, sekitar 17%nya kaum muda kurang mampu dan rentan, dan dianggap desa miskin. Tidak seperti desa miskin yang lain, Jragung bahkan tidak memiliki Pendapatan Asli Desa (PADes) sendiri. Meskipun lahan pertaniannya menghasilkan pisang dan jagung, warga desa tidak memiliki kapasitas untuk mengolah dan mengubahnya menjadi produk-produk yang bisa dijual dan mendatangkan keuntungan.

Namun, mereka memiliki semangat untuk keluar dari kemiskinan. Semangat ini jelas memancar dari Kepala Desa Jragung, Edy Susanto. Sejak menjabat, ia punya visi untuk menjadikan Desa Jragung sebagai desa wisata, lengkap dengan toko oleh-olehnya. Untuk mencapai tujuan itu, ia telah melakukan gerakan swadaya bersama masyarakat desa untuk membangun jalan, dan menggunakan sumber dayanya sendiri untuk memfasilitasi pelatihan-pelatihan agar warga desa dapat mengolah jagung dan berkembang secara ekonomi. Dalam waktu enam tahun, sekitar 80% jalan telah dibangun, dan di tahun 2012, Desa Jragung mendapatkan predikat desa dengan administrasi terbaik di seluruh Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Namun, di sisi sumber pendapatan, masyarakat desa Jragung, terutama kaum muda kurang mampu dan rentan, masih membutuhkan uluran tangan.

Dan bantuan itu pun datang. Di awal 2018, SINERGI melaksanakan serangkaian kegiatan pelatihan untuk mengarusutamakan kaum muda kurang mampu dan rentan ke dalam pasar tenaga kerja di Jawa Tengah. Karang Taruna Desa Jragung terpilih sebagai satu dari 16 konsorsia yang menerima Dana SINERGI untuk mengembangkan kapasitas kaum mudanya dalam mengolah emping jagung sebagai komoditas utamanya. Menariknya, Desa Jragung awalnya tidak dipertimbangkan sebagai penerima dana tersebut, tapi melalui komitmen, dukungan, dan saran dari Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Dinakerin), Jragung lolos sebagai penerima dana SINERGI.

Koordinator Konsorsia Karang Taruna Jragung, Bagus Adi Kuncoro, senang melibatkan 22 laki-laki dan 8 perempuan, dimana dua di antara mereka menyandang disabilitas, di dalam program pelatihan inklusif SINERGI, yang terdiri atas pelatihan soft skill, pelatihan hard skill, dan pelatihan managerial skill, untuk membekali kaum muda kurang mampu dan rentan di Desa Jragung dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk memasuki pasar tenaga kerja.

Pelatihan soft skill, sebuah pelatihan yang memberikan kombinasi keterampilan sosial, komunikasi, karakter, perilaku, atribut karir, intelijensia sosial dan emosional, menjadi sorotan yang baik sekali. Ini pertama kalinya peserta mendapatkan pelatihan seperti itu. Selama lima hari pelatihan, mereka diberikan bekal motivasi untuk mendorong kepercayaan diri mereka, dan pada akhirnya, seluruh peserta merasa terinspirasi. Baik peserta difabel maupun non-difabel merasa diberdayakan dan antusias untuk menghadapi hidup dengan lebih positif. Pemerintah daerah, yang diwakili oleh Dinakerin, bahkan beberapa kali datang untuk melihat, sehingga menambah semangat para peserta. Dalam sambutannya, Slamet Karyono, Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Dinakerin, meneriakkan slogan “Saya bisa, saya semangat, maka saya sukses”, dan membuka pelatihan secara positif.

“Saya terkesan dengan pelatihan soft skill. Karena ini yang pertama, saya tidak punya ekspektasi dan tidak tahu bagaimana reaksi para pemuda nantinya. Tapi, mereka menunjukkan energi dan semangat yang tinggi, dan rasa kekompakan yang bagus satu sama lain. Akhirnya, semua merasa diberdayakan, dan saya berharap waktunya bisa diperpanjang, tidak hanya lima hari”, ujar Bagus. “Pelatihan soft skill ini penting, karena menjadi dasar sebelum terjun ke lingkungan kerja”, tambahnya.

Semangat ini berlanjut ke pelatihan hard skill, yang merupakan pelatihan untuk mengolah jagung mentah menjadi emping jagung. Di akhir pelatihan, peserta berhasil mengolah sekitar 5 kg emping jagung dan mengepaknya, sehingga siap dijual. Keberhasilan pelatihan ini menarik minat pemerintah desa, dan mereka berkomitmen untuk menyelenggarakan pelatihan serupa menggunakan alokasi dana desa.

Baik Koordinator Konsorsia maupun Kepala Desa berharap dukungan SINERGI merupakan langkah awal menuju Jragung yang hebat, dan bisa membuat para pemudanya mandiri secara finansial.

“Saya berharap SINERGI dapat menjadi katalis untuk kemandirian ekonomi bagi para pemuda di Jagung”, kata Bapak Kepala Desa.

Wicaksono Prayogie
Knowledge Management Specialist - SINERGI
November 6, 2018