Berita Penciptaan Lapangan Kerja

Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra mengatakan faktor cyclical atau pertumbuhan ekspor akan melambat, tetapi angkanya masih akan lebih bagus dari tahun lalu.

"Kami lihat harga komoditas agak soft lagi mulai melandai. China juga kuartal pertama sebesar 6,9%, kemudian PMI-nya mulai agak soft lagi. Mungkin ekspor melambat," ujarnya, Rabu (1/6).

Kendati laju pertumbuhan ekspor tertahan, dia melihat konsumsi rumah tangga akan membaik karena kenaikan tarif listrik 900 VA telah selesai, ditambah dengan momentum Lebaran.

Sekalipun akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), dia menuturkan penyesuainyan tidak akan terlalu besar.

"BBM kalau naik tidak banyak karena harga minyak sekarang turun lagi. Proyeksi kita gap-nya sekitar 8-10%." Dengan demikian, pengaruhnya tidak akan besar terhadap inflasi. Selain itu, efek volatile food diperkirakan akan relatif stabil memasuki semester dua karena curah hujan rendah. Sementara itu, investasi swasta cukup bagus mengingat adanya peningkatan pertumbuhan kredit korporasi.

Dia melihat belanja pemerintah juga akan tumbuh lebih besar karena penerimaan pajak pada April lalu. "Dilihat tax collection akan lebih bagus. Kalau bisa tumbuh double digit saja, sudah bagus untuk Indonesia," katanya.

bisnis.com