Berita Perkotaan

kompas
kompas
Masyarakat perkotaan pada khususnya akan merasakan bahkan akan memberikan apresiasi terhadap keberadaan ruang publik (open space) yang disediakan pemerintah. Karena, tidak semua pemerintah daerah Kabupaten/Kota yang bisa memberikan secara maksimal terhadap keberadaan ruang publik, yang dapat memberikan nilai-nilai kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya, baik kesejahteraan secara lahiriah maupun batiniah dan sosio-emosional masyarakat.

Kepedulian Walikota maupun Bupati dan pimpinan daerah lainnya dalam mewujudkan adanya ruang publik, sangatlah bermakna bagi masyarakat. Ruang publik yang dikelola dengan sentuhan nilai-nilai budaya daerah pada khususnya, tidak saja sebagai wahana rekreasi bagi masyarakat, setidaknya bisa mengurangi dalam mengatasi ketegangan sosial di masyarakat bahkan dari penyimpangan atau distorsi sosial pada masyarakat itu sendiri.

Secara empirik yang teramati, bahwa perubahan masyarakat di perkotaan secara alami memunculkan pergerakan masyarakat dari pedesaan ke perkotaan berkembang secara pesat. Keberadaan masyarakat di perkotaan yang diakibatkan dari adanya mobilisasi perpindahan anggota masyarakat dari satu pedesaan ke perkotaan tersebut menunjukkan tren peningkatan yang begitu besar. Signifikansi perpindahan tersebut, tentunya memiliki implikasi terhadap perubahan dan perilaku sosial pada setiap individu dan lingkungan sekitarnya.

Maka, tidak mengherankan bila melihat di perkotaan terjadi perubahan perilaku hidup masyarakat, mulai dari perubahan fisik lingkungan seperti pemanfaatan lahan pertanian, persawahan, ruang terbuka yang beralih fungsi dengan munculnya pusat perbelanjaan, mall, hotel dan lainnya. Keberadaan dan padatnya penduduk dan bangunan yang tidak tertata secara aturan di perkotaan, tentunya berpengaruh terhadap perilaku secara sosial bagi anak termasuk perilaku gerak dan bermain anak pada lingkungannya.

Maka tidak dipungkiri, akan memaksa anak-anak bermain dengan ruang gerak dan bermain yang relatif sempit dan terbatas. Bahkan yang bisa teramati anak-anak bermain hanya di tempat sempit bahkan hanya di depan teras rumah saja, karena padatnya rumah-rumah penduduk baik yang legal maupun yang tidak sesuai dengan aturan. Keadaan tersebut tentunya mempengaruhi terhadap kesejahteraan dan kesehatan anak dan masyarakat itu sendiri.

Perubahan domain sosial, merupakan arah adanya pergerakan masyarakat ke perkotaan dengan membawa sejumlah karakteristik budaya dan perilaku sosial beragam tanpa sekat-sekat primordialisme yang ada, baik dari segi strata, tingkat, status, etika, bahkan norma sosial, suku, ras, agama, bahkan strata sosial dalam konteks kemajemukan masyarakat yang dianut sebelumnya.

Keadaan tersebut, juga akan mempengaruhi terhadap interaksi dengan masyarakat sekitarnya, baik yang dapat tunduk dan mematuhi akan kaidah-kaidah etika sosial yang berlaku pada masyarakat perkotaan tersebut, maupun adanya gesekan-gesekan yang berakhir pada persaingan yang kurang harmonis bahkan pada penyimpangan (deviasi) perilaku sosial masyarakat urban tersebut, hal ini terjadi di perkotaan dalam kondisi masyarakat yang heterogen.

Interaksi sosial pada lingkup perkotaan, tidak serta merta akan membawa suatu kesejahteraan yang diharapkan, disisi lain akan dipengaruhi oleh sejumlah perubahan lainnya termasuk perubahan perilaku. Perbedaan individu, karakter, dan asal daerah yang berpotensi terjadinya gesekan, persaingan, kompetisi, bahkan akan munculnya distorsi perilaku sosial lainnya, misalnya perkelahian, minuman keras, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, pencabulan, kecelakaan lalu lintas, narkoba dan penyimpangan lainnya.

Sehubungan dengan itu, maka keberadaan ruang publik di perkotaan sangatlah memberikan nilai-nilai bagi masyarakat, baik nilai sosial dan bahkan ekonomi termasuk penguatan nilai-nilai budaya lokal dan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya ruang publik dengan desain dan kemasan manajemen dan pengelolaan yang baik, terencana, terpadu dan pengawasan yang baik akan menghasilkan kualitas masyarakat yang bermutu pula termasuk kualitas berfikir, keceriaan, kegembiraan, keharmonisan dan nilai-nilai emosional dengan keluarga, tetangga dan pada tataran interaksi soasial lainnya..

Dengan adanya ruang publik yang refresentatif, secara alami masyarakat akan datang untuk menikmati dan menyegarkan kembali secara fisik dan mental (rekreasi) dari rutinitas pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya. Bagi anak-anak, ruang gerak dan bermain akan memberikan kesempatan untuk eksplorasi kemampuan fisik dan sosial-emosionalnya yang bermuara pada kebugaran dan kesejahrteraan anak-anak dan masyarakat di sekitarnya.

Ruang publik dengan dukungan penyediaan fasilitas bermain termasuk fasilitas olahraga yang cukup untuk anak-anak dan anak-anak muda serta dengan penyediaan yang terpadu dengan penguatan nilai-nilai budaya lokal yang ditampilkan, diharapkan adanya penguatan nilai-nilai budaya lokal bagi masyarakat yang majemuk ini, tentunya diharapkan akan terhindar dari “kikisan” budaya luar yang sangat kuat mempengaruhi perilaku sosial anak-anak dan masyarakat.

Penataan ruang publik dan taman bermain tidak saja sebagai sarana dan wahana rekreasi bagi masyarakat, juga akan memberikan kontribusi terhadap martabat “citra” daerah, masyarakat bahkan profil pemimpin daerah itu sendiri. Oleh karena itu, maka pengelolaan sarana tersebut harus bisa memberikan rasa nyaman, rasa aman, bahkan nilai edukasi, bahkan kalau perlu nilai ekonomi bagi masyarakat termasuk dalam penguatan nilai-nilai budaya lokal. Maka, peran serta masyarakat dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya bisa menjadi bagian untuk mengawasi dan menjaganya.

Pengawasan dan pemeliharaan menjadi hal yang sangat penting dalam kelangsungan dan keberadaan ruang publik tersebut, bisa dilakukan tidak saja menjadi tanggung jawab lembaga pemerintah atau bentuk lainnya, juga bisa melibatkan kelompok masyarakat untuk bisa berpartisipasi dalam mengawal pengelolaan dan pembangunan daerah itu sendiri.

Berdasarkan alasan tersebut, beberapa rekomendasi yang dapat diberikan dalam pengelolaan ruang publik atau taman bermain tersebut adalah (1) adanya fasilitas bermain dan olahraga dan lainnya bagi anak dan remaja dengan area yang hijau, bersih dan bebas`rokok; (2) penataan tempat parkir serta jaminan keamanan bagi publik; (3) menyediakan fasilitas untuk masyarakat yang lanjut usia (Lansia) termasuk yang berkebutuhan khusus; (4) memberikan ruang bagi masyarakat untuk bisa usaha atau berjualan “kuliner” secara nyaman; (5) memunculkan sentuhan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi “icon” atau “trademark” daerah; (6) pengawsaan dan pemeliharaan tidak saja dari pemerintah, juga bisa melibatkan kelompok dan anggota masyarakat lainnya. (Penulis adalah Akademisi Keolahragaan, Pendidikan dan Ilmu Sosial).

prokal.co