Berita Perkotaan

angkutan bogor
angkutan bogor
Pengaturan ulang jaringan trayek angkutan kota di Kota Bogor mendesak diterapkan. Pembenahan bukan hanya soal rute dan jaringan, tetapi juga manajemen.

Pembenahan mendesak, di antaranya karena kondisi lalu lintas dalam kota dan angkot tak ideal lagi. "Tak perlu takut menerapkan rencana perubahan jaringan angkot," kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Kota Bogor Komisaris Bramastyo, Sabtu (11/2).

Saat ini, masih ada kekhawatiran pemilik dan sopir angkot bahwa mereka akan merugi jika ada pembenahan. Sementara skenario perubahan jaringan angkot sudah dibuat Pemerintah Kota Bogor sejak lama.

Kepala Bagian Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bogor Jimmy Hutapea memastikan, pihaknya segera menerapkan perubahan jaringan trayek angkutan umum. "Diharapkan Februari ini bisa kami terapkan, tidak menunggu Maret," katanya.

Saat ini, pematangan rute-rute angkot masih dilakukan seiring masukan-masukan hasil pertemuan dengan pelaku usaha angkot. Dari rencana 30 rute trayek baru, ada trayek yang dibatalkan sehingga nantinya menjadi 28-29 rute trayek.

"Masih ada pematangan mencari titik keseimbangan sehingga pengusaha dan sopir angkot tidak rugi. Namun, masyarakat juga diuntungkan. Yang kami tuju pelayanan angkutan umum yang menjangkau semua wilayah Kota Bogor dan wajar," katanya.

Menurut sejumlah sopir dan pengguna angkot, mereka berharap perbaikan mutu layanan angkot dan pendapatan sopir. "Coba semua jurusan angkot benar-benar beroperasi sampai malam. Jadi, tidak waswas, ke mana saja bisa balik, tidak takut enggak ada angkot pulang," kata Risna (23), pegawai toko.

Asep (45), warga Cimahpar, yang belasan tahun jadi sopir angkot, mengatakan, dua tahun terakhir semakin susah dapat kelebihan setoran. Penumpang makin sepi. "Sisa narik dibagi dua. Saya bawa pulang Rp 25.000 sampai Rp 50.000 sudah bagus. Padahal, untuk ongkos anak sekolah saja Rp 10.000 setiap hari," kata bapak dua anak itu.

Menurut Yayat Supriatna, pemerhati transportasi publik yang juga anggota Tim Percepatan, Prioritas, Program Pembangunan (TP4) Kota Bogor, jika penataan ulang jaringan trayek angkutan umum diterapkan, itu merupakan lompatan besar. "Artinya, pemkot menyiapkan rerouting ini menuju angkutan umum yang lebih memanusiakan orang, baik pelaku usaha, sopir, maupun pengguna jasa angkot," katanya. (RTS)

Kompas