UMUM

pekan perubahan iklim image by: Transformasi
pekan perubahan iklim image by: Transformasi
JAKARTA - Masyarakat adalah yang paling terkena dampak dari perubahan iklim. Oleh karena itu, penguatan kelompok masyarakat jangan hanya bersifat top down dari pemerintah pusat maupun daerah. Perlu adanya upaya untuk mendorong revitalisasi aksi-aksi yang bersifat kearifan lokal.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, perubahan iklim erat kaitannya dengan ketahanan nasional. Ketahanan tersebut adalah kemampuan dan kemauan diri untuk dapat bertahan dengan usaha diri sendiri. Sehingga untuk menghadapi dampak perubahan iklim, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memiliki ketahanan. “Kita sudah punya modal” ujarnya pada Pekan Perubahan Iklim 2016, Kamis 1 Desember 2016, di Manggala Wanabakti.

Lebih lanjut Menteri menjelaskan bahwa ketahanan terhadap dampak perubahan iklim harus dengan pendekatan way of life. Hal tersebut tentunya menyetuh secara langsung cara hidup masyarakat. “Pendekatan harus dari masyarakat, itu yang paling ampuh,” kata Siti Nurbaya.

Sementara itu, Koordinator Pengurus Koordinator Pengurus Indonesia Climate Alliance (ICA), Selamet Daroyni, mengatakan bahwa kearifan lokal dapat menurunkan kerentanan masyarakat dan meningkatkan ketahanannya dalam menghadapi dampak perubahan iklim. “Pengurangan emisi gas rumah kaca tingkat tapak merupakan salah satu aspek penting yang perlu terus dilaksanakan," ujarnya di tempat yang sama.

Dari hari ke hari, Indonesia semakin rentan terhadap bencana-bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sempat mencatat bahwa sebanyak 97,1 persen bencana tahun 2016 selalu terkait cuaca atau meteorologi. Kemudian, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan bahwa bencana hidrometeorologi di Indonesia berpotensi meningkat pada 2017. Anomali cuaca dan kemarau basah hingga 2017 menyebabkan bencana banjir dan longsor diprediksi meningkat.

Guna mengahadapi hal tersebut pemerintah nasional dan daerah perlu mengalokasikan ruang untuk menampung masukan dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan lainnya, termasuk di dalamnya masyarakat. "Kolaborasi ini sangat penting untuk mengembangkan strategi ketahanan yang komprehensif yang secara kontekstual relevan dengan kebutuhan lokal melalui aktivitas dan program yang sistematis serta terencana dengan baik dan di sisi lain mendukung kepentingan strategis nasional," kata Selamet.

Para praktisi juga dapat berkontribusi untuk mengupas masalah atau isu dengan lebih baik, sehingga mendapatkan solusi untuk mengatasi akar masalahnya secara strategis.

Adanya urgensi untuk menyamakan langkah dalam menghadapai perubahan iklim ini maka Pekan Perubahan Iklim 2016 diselenggarakan. Kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak 21 November 2016 dan mencapai acara puncaknya pada 1 dan 2 Desember 2016 tersebut, adalah upaya memperkuat kemitraan aksi lokal pengendalian perubahan iklim. Kegiatan dilakukan melalui serangkaian kegiatan dialog untuk merumuskan rekomendasi serta memperkuat potensi kolaborasi antar aktor di level nasional dan daerah. Forum ini diharapkan dapat menjadi suatu platform, agar dialog dapat dilakukan secara interaktif mengenai kebijakan bersama para pembuat kebijakan serta mengangkat praktik-praktik, pengetahuan dan pengalaman-pengalaman untuk memicu proses pembelajaran, replikasi, kemitraan dan kolaborasi.

Tujuannya, mengimplementasikan aksi adaptasi perubahan iklim di berbagai level serta bagaimana menindaklanjuti aksi-aksi yang memiliki potensial untuk terus diperkuat pelaksanaannya.

Pada acara puncak Pekan Perubahan Iklim 2016 akan didorong pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim). Program yang telah dikembangkan dan dilaksanakan sejak tahun 2011 ini menjadi salah satu program prioritas KLHK. Tujuannya, meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim dan dampaknya serta mendorong partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan untuk melaksanakan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal. ProKlim juga merupakan sebagai instrumen pengumpulan data dan informasi mengenai praktik baik dan bentuk kolaborasi di tingkat masyarakat. Data dan informasi yang terkumpul dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan seluruh pihak terkait (termasuk dunia usaha) untuk mengembangkan kebijakan dan program atau kegiatan penguatan aksi lokal adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Meskipun demikian, Selamet berharap Proklim dapat berevolusi dengan memberikan pendampingan secara lebih menyeluruh kepada komunitas binaan. "Agar inisiatif yang dilakukan dapat bedampak secara lebih optimal dan berkelanjutan, serta tidak dicitrakan sekedar labelisasi saja," ujarnya. Lebih lanjut dia menjelaskan, pendekatan pengembangan program yang dilakukan, baik dalam kerangka Proklim maupun tidak, idealnya juga dapat semaksimal mungkin memfasilitasi pengembangan teknologi dan pemanfaatan sumber daya lokal, yang sudah dan berpotensi untuk dikembangkan. "Ancaman krisis ekologi dan pangan sebagai dampak perubahan iklim dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi atau sumber daya lokal tersebut," tambahnya.

Diharapkan melalui rangkaian kegiatan Pekan Perubahan Iklim 2016, masyarakat menjadi lebih mengerti tentang apa dan bagaimana dampak perubahan iklim sehingga muncul kesadaran untuk mempersiapkan diri. Selain itu, dari sisi pemangku kebijakan, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi ruang koordinasi untuk menyamakan langkah dan membuat persiapan serta aksi yang lebih solid, terintegrasi dan terarah.

Informasi lebih lanjut:

Koordinator Badan Pengurus ICA:
Selamet Daryoni
Project Officer Adaptasi Perubahan Iklim
ICLEI Indonesia
0821 1068 3102
selamet.daroyni@iclei.org


Tim Komunikasi ICA
Rosyid Nurul Hakiim
081284697716
rosyid.hakiim@kehati.or.id

Sekilas Tentang Indonesia Climate Alliance (ICA)

ICA adalah jejaring nasional untuk membangun Indonesia yang berketahanan iklim dan rendah karbon. ICA didirikan pada tahun 2010 dan terdiri atas elemen lembaga swadaya masyarakat, asosiasi profesi,akademisi, para praktisi serta pemerintah dan mitra pembangunan selaku peninjau. ICA ditujukan untuk menjadi partner diskusi - dalam kaitan perannya di bidang advokasi kebijakan, bagi Indonesia dan mitra internasional dalam isu perubahan iklim. Disamping itu, ICA juga akan menjalankan perannya dalam menginisiasi kolaborasi aktif di bidang ketahanan perubahan iklim serta pengembangan sistem pengelolaan pengetahuan dari sumber daya para anggotanya.

Saat ini, ICA terdiri atas 12 organisasi, yaitu ICLEI, Apeksi, Mercy Corps Indonesia, Kehati, CCROM, Burung Indonesia, The Nature Conservancy, IESR, URDI, Plan International, Transformasi dan Generasi Hijau Indonesia serta beberapa praktisi individu. Untuk informasi lebih lanjut: indonesiaclimatealliance.org