UMUM

Pada tahun 2010, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengungkapkan bahwa 50 persen konsumsi energi nasional Indonesia selama ini berasal dari minyak bumi. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih sangat tergantung pada sumber energi tidak terbarukan.

Berdasarkan data statistik ketenagalistrikan, penjualan tenaga listrik PLN tahun 2015 sebesar 202.845,82 GWh. Hal ini disebabkan oleh energi yang paling praktis digunakan adalah energi dalam bentuk listrik.

Usaha menghasilkan energi listrik dapat dilakukan melalui teknologi Microbial Fuel Cell (MFC) dengan memanfaatkan senyawa yang mengandung hidrogen atau senyawa yang menghasilkan elektron sehingga ramah lingkungan.

Urgensi Indonesia terhadap kebutuhan energi terbarukan membuat mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian untuk dapat menghasilkan energi listrik dengan cara mengubah biomassa menjadi energi listrik melalui aktivitas metabolisme mikroorganisme.

Dia adalah Dwilina Apriyani, mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB yang melakukan penelitian menggunakan limbah cair perikanan yang diolah dengan menggunakan teknologi MFC satu bejana.

Dalam penelitiannya yang berjudul 'Biolistrik dari Limbah Cair Perikanan dengan Metode Microbial Fuel CellSatu Bejana', MFC yang biasa dikenal dengan microbial fuel cell merupakan suatu sistem yang menggunakan bakteri sebagai katalis untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik.

Teknologi MFC memiliki prinsip kerja yaitu adanya transfer elektron dari donor elektron ke elektroda anoda yang terdapat pada bejana anoda. Banyak mikroorganisme memiliki kemampuan untuk mentransfer elektron dari hasil metabolisme bahan organik ke anoda seperti sedimen laut, tanah, limbah cair, sedimen air tawar, dan lumpur aktif.

"Jumlah kekuatan listrik dari sistem MFC dalam proses pengolahan limbah cair secara potensial dapat membagi listrik yang dibutuhkan dalam proses pengolahan limbah konvensional yang mengkonsumsi banyak tenaga listrik untuk proses aerasi lumpur aktif," katanya, baru-baru ini.

Berdasarkan hasil penelitian Dwi, beban limbah cair (total nitrogen, BOD, COD, dan ammonia) di dalam MFC satu bejana jika ditambah dengan lumpur aktif maka mengalami penurunan yang lebih besar dibandingkan perlakukan tanpa lumpur aktif selama enam hari pengamatan.

Perlakuan limbah cair tanpa lumpur aktif memiliki rata-rata nilai listrik yang lebih tinggi dibandingkan limbah cair dengan penambahan lumpur aktif selama 120 jam. Dari penelitiannya Dwi pun didapatkan bahwa nilai listrik limbah cair tertinggi terjadi pada jam ke 119 yaitu pada limbah cair tanpa lumpur aktif 144,9 mV dan pada limbah cair dengan penambahan lumpur aktif 87,6 mV .

"Inovasi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai solusi untuk ketergantungan rakyat terhadap energi listrik. Serta dapat menjadi sumber informasi bahwa sebenarnya Indonesia memiliki banyak sumberdaya manusia yang mampu untuk mengolah sumber daya alam," tutupnya.

okezone.com