UMUM

Beberapa bulan terakhir kita dikejutkan dengan maraknya pemberitaan sepinya pengunjung kawasan pertokoan Glodok, Mangga Dua, Tanah Abang di Jakarta, yang berimbas kepada menurunnya nilai transaksi di pusat-pusat pertokoan tersebut. Pusat-pusat grosir yang dahulu selalu menjadi magnet, kini tak lagi ramai, omset penjualan menurun tajam bahkan di saat Lebaran dimana puncak transaksi biasanya terjadi. Tak hanya disitu, salah satu jaringan ritel terbesar di Indonesia bahkan telah mengumumkan penutupan delapan gerainya di akhir bulan Agustus 2017. Meskipun alasan yang dikemukakan adalah untuk melakukan renovasi, namun sumber lain menyebutkan bahwa salah satu alasan penutupan operasional ini adalah karena terus turunnya omset dan pendapatan. Jika trend ini terus berlanjut maka keseluruhan supply chain yang selama ini menopang ritel dan pusat-pusat perbelanjaaan pasti akan terkena imbasnya, termasuk potensi ribuan orang kehilangan pekerjaan yang pada akhirnya menambah beban Pemerintah. Kecenderungan bertambahnya tingkat pengangguran di Indonesia dan bonus demografi di tahun 2025-2035, merupakan fenomena yang tidak dapat dipandang sebelah mata karena jika terus dibiarkan akan menimbulkan gelombang baru pengangguran yang sangat besar.

Pada saat ini saja, jumlah pengangguran di Indonesia menurut Menaker Hanif Dhakiri per February 2017 berjumlah sebesar 7 juta orang atau 5,3% dari angkatan kerja dimana ini adalah angka terendah sejak reformasi
1998. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang harus diperhatikan dengan serius oleh Pemerintah, terlebih di tengah ketidakpastian perekonomian global yang berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang bermuara pada banyaknya penutupan industri dan pemutusan hubungan kerja. Di sisi lain, satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa pada saat ini telah terjadi perubahan perilaku dalam pola belanja. Saat ini masyarakat, lebih banyak memilih bertransaksi secara daring (e-Commerce) dibanding secara konvensional.

Menuju Era E-Commerce

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi RI kuartal I-2017 adalah sebesar 5,01%. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama ini jika dilihat year on year, ditopang oleh beberapa sektor, salah satunya adalah informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,01%. Hal itu, didorong dari banyaknya pengguna internet, contohnya transaksi online, sehingga sektor informasi dan komunikasi tumbuh. Dua situs e-Commerce terkemuka di Indonesia saja bahkan tercatat memiliki volume Transaksi lebih dari
10 Triliun Rupiah di tahun 2016. Data Sensus Ekonomi
2016 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, industri e-Commerce Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sekitar tujuh belas persen dengan total jumlah usaha e-Commerce mencapai 26,2 juta unit. Sementara itu, riset global dari Bloomberg menyatakan, pada 2020 lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlibat di aktivitas e-Commerce. McKinsey dalam laporan bertajuk Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity juga menyebutkan, peralihan ke ranah digital akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga US$ 150 miliar dolar pada 2025. Dalam industri e-Commerce, Indonesia merupakan sebuah pasar yang
sangat besar. Dengan jumlah populasi 250 juta (terbesar di ASEAN), Indonesia dapat menjadi pasar e-Commerce yang sangat menjanjikan. Sebuah kenyataan yang dibaca dengan sangat baik oleh Alibaba Group yang sebelumnya telah menguasai 83 persen saham Lazada dan baru-baru ini menginvestasikan Rp. 14.7 Triliun Rupiah ke salah satu e-Commerce terbesar di Indonesia.

 

Data terbaru profil pengguna internet Indonesia yang dirilis oleh perusahaan riset We Are Social /id.techinasia.com
Data terbaru profil pengguna internet Indonesia yang dirilis oleh perusahaan riset We Are Social /id.techinasia.com

Data terbaru profil pengguna internet Indonesia yang dirilis oleh perusahaan riset We Are Social /id.techinasia.com

Peta Jalan E-Commerce Nasional
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 74 Tahun 2017 yang dikeluarkan pada Agustus 2017 tentang peta jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) menjadi sangat penting karena merupakan sebuah bukti bahwa Pemerintah telah memandang bahwa ekonomi berbasis elektronik mempunyai potensi ekonomi yang tinggi bagi Indonesia, dan merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional serta mendukung perkembangan e-Commerce di Indonesia. Keseriusan Pemerintah bahkan dibuktikan dengan penetapan Jack Ma, seorang mantan guru bahasa Inggris miskin yang pernah ditolak oleh KFC dan ditolak sebanyak 10 kali oleh Universitas Harvard, sekaligus pemilik Alibaba Group, sebagai penasihat e-Commerce Indonesia yang telah dipinang terlebih dahulu oleh Malaysia di tahun 2016. Delapan aspek penting dalam Peta jalan ini adalah (1) Pendanaan, (2) Perpajakan, (3) Perlindungan Konsumen, (4) Pendidikan dan SDM, (5) Logistik, (6) Infrastruktur Komunikasi, (7) Keamanan Siber, dan (8) Pembentukan Manajemen Pelaksana.

Selain delapan hal tersebut, Pemerintah semestinya juga harus memberikan perlindungan terhadap keberadaan e-Commerce lokal dan mendorong sektor UMKM untuk meningkatkan kapasitas & kualitas produksi, mempermudah proses perizinan ekspor bagi UMKM, dan memberikan subsidi bagi pengiriman/ekspor produk satuan ke luar negeri. Jika hal ini tidak dilakukan, maka peta jalan e-Commerce hanya akan menjadikan Indonesia sebagai Negara sasaran pasar bagi perusahaan-perusahaan e-Commerce besar yang semakin kukuh eksistensinya di Indonesia, dan berpotensi dapat mematikan eksistensi e-Commerce lokal, serta menyediakan pasar
bagi produk-produk UMKM dari luar negeri seperti yang selama ini sudah terjadi.


UMKM Goes Online Sebagai Sokoguru Perekonomian Nasional

Roadmap e-Commerce ini seharusnya mampu untuk mendorong sektor UMKM di Indonesia agar tidak hanya dapat bersaing di tingkat nasional, namun juga sampai dengan ke tingkat global. Sektor UMKM memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian nasional dimana sektor UMKM mampu menyerap 97.2 persen tenaga kerja dan memberikan kontribusi sebear 5.8 persen terhadap product domestic bruto. Namun kontribusi sektor UMKM terhadap ekspor hanya menyumbang 15.8 persen dan berada di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, Philippina dan Thailand (ADB 2015)

 

Kontribusi Sektor UMKM Terhadap Perekonomian/ADB 2015
Kontribusi Sektor UMKM Terhadap Perekonomian/ADB 2015

Kontribusi Sektor UMKM Terhadap Perekonomian/ADB 2015

Dengan fakta bahwa UMKM mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang sangat besar dan kontribusinya terhadap product domestic bruto, maka tidak dapat dipungkiri bahwa UMKM adalah sektor yang sangat potensial bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terus meningkatnya transaksi e-Commerce dan dengan adanya peta jalan e-Commerce ini harus dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan sector
e-Commerce dan UMKM Nasional. Saat ini e-Commerce nasional dijejali dengan berbagai macam pilihan produk murah yang sayangnya bukan merupakan produk lokal, dikarenakan para pedagang besar banyak mengimpor barang dengan skala besar dengan harga yang relatif murah untuk kemudian dijual secara eceran di dalam negeri. Perlindungan terhadap keberadaan
e-Commerce lokal yang menjual produk-produk UMKM mutlak harus dilakukan, karena jika tidak maka peta jalan yang sudah disusun dapat memberikan peluang bagi e-Commerce dari luar negeri untuk melebarkan sayapnya. Fenomena ini sudah mulai terjadi, dimana beberapa e-Commerce yang berasal dari luar negeri sudah mulai menunjukan eksistensinya di dunia e-Commerce Indonesia. Bahkan saat ini sudah ada e-Commerce yang menggunakan pola Affiliate Marketing dan bekerjasama dengan satu e-Commerce
besar di Negara tertentu untuk menjual produk-produk UMKM negaranya dengan menawarkan pengiriman barang langsung dari luar negeri dengan biaya kirim yang relatif sangat murah bahkan gratis.

 

Peningkatan Konsumen e-Commerce Nasional/Katadata.co.id
Peningkatan Konsumen e-Commerce Nasional/Katadata.co.id

Peningkatan Konsumen e-Commerce Nasional/Katadata.co.id

Langkah Nyata, Kerja Nyata
Apabila terlambat diaktualisasikan maka Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 74 Tahun 2017 tidak akan mampu menjawab pesatnya perkembangan e-Commerce di Indonesia. Langkah cepat harus diambil Pemerintah dalam mengaktualisasikan peta jalan e-Commerce nasional, mendorong perkembangan sektor UMKM nasional agar mampu bersaing di tingkat nasional & global, dan memberikan perlindungan terhadap keberadaan e-Commerce lokal. Selain delapan aspek penting yang telah dirumuskan dalam Peta jalan e-Commerce. Ada beberapa langkah penting lagi yang harus segera dilaksanakan dalam membangkitkan konsep satu desa satu produk” atau “one village one product” (OVOP) yang sejatinya telah diwacanakan sejak tahun
2012 silam, yaitu:

Tingkat Nasional
• Penerapan delapan aspek penting yang telah diidentifikasi dalam Peta jalan e-Commerce; Memberikan perlindungan terhadap keberadaan
• e-Commerce lokal terutama dalam halkepemilikan saham mayoritas;
• Membuat e-Commerce yang secara khusus menjual produk-produk UMKM lokal;
• Memberikan porsi khusus bagi Penjualan produk UMKM lokal pada e-Commerce yang telah ada dan memberikan batasan penjualan produk impor;

• Mempermudah prosedur dan pengurusan HaKi, SNI
bagi UMKM;
• Mempromosikan e-Commerce yang secara khusus menjual produk-produk UMKM melalui berbagai media baik di dalam maupun di luar negeri;
• Mempermudah proses perizinan ekspor bagi pelaku UMKM dan memberikan subsidi bagi pengiriman/ekspor produk satuan ke luar negeri.

Tingkat Kabupaten

• Pemberdayaan BLK sentra-sentra inkubator kewirausahaan (entrepreneurship) yang memberikan keterampilan, pelatihan strategi bisnis, branding, strategi pemasaran, penguasaan bahasa Inggris dan mendorong semangat entrepreneurship bagi generasi muda;
• Pemberdayaan SMK sebagai sentra enterpreneurship

Tingkat Kelurahan/Kecamatan

• Pengembangan Sentra Pemasaran Digital di tingkat Kelurahan / Desa yang dapat memberikan penetrasi pasar baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tingkat Desa
• Pemberdayaan/pembentukan Koperasi atau BUMD di tingkat Desa untuk sebagai badan hukum yang mewadahi UMKM melalui dana Desa.

Jika hal ini dilakukan dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya, maka Indonesia dapat merajai sektor e-Commerce paling tidak di tingkat Asia Tenggara sesuai dengan target Gerakan 100.000 UMKM Online dan
1000 startup berkualitas di Indonesia pada tahun 2020 mendatang, dan aktualisasi dari Roadmap e-Commerce yang telah disusun.


Sektor UMKM dapat memberikan kontribusi lebih baik terhadap perekonomian nasional, pemerataan pembangunan, mengurangi urbanisasi dan mengurangi tingkat pengangguran. Pengembangan sektor UMKM secara serius dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjawab bonus demografi di tahun 2025-2035 yang sudah di depan mata karena tumbuhnya sentra-sentra ekonomi digital baru di seluruh Indonesia. Penetrasi Alibaba Group di Indonesia dan pemain-pemain lainnya sudah mulai terasa dampaknya, apakah kita hanya akan menjadi sebuah ceruk pasar e-Commerce yang menggiurkan atau akan menjadi pelaku pasar yang diperhitungkan adalah sebuah keniscayaan yang harus dipilih oleh Pemerintah. (Transformasi/BYS/2017)