Jurnal 2015

Penulis: Dr. Soedjatmoko (alm.) Mantan Rektor Universitas PBB

Samubarang ana kang kardhi, lamun waniya ing gampang, wediya ing pakewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora nana. (Yasadipura).

Tidak perlulah kiranya membentangkan, di sini secara panjang lebar betapa pentingnya pembangunan ekonomi untuk Indonesia. Harapan bangsa kita akan kehidupan yang lebih luas dan lebih baik, yang begitu kuat dorongannya di dalam revolusi kita, belum terpenuhi. Harapan itu menyertai dan merupakan akibat perubahan-perubahan sosial besar yang sedang kita alami.

Susunan masyarakat yang tertutup tidak dapat bertahan menghadapi masuknya kehidupan ekonomi moderen. Lingkungan desa tidak lagi dapat memberi jaminan hidup yang cukup dan suasana, kehidupan ini dirasakan sebagai kungkungan. Akibatnya ialah runtuhnya susunan sosial yang lama, pemboyongan ke kota-kota, keinginan para petani untuk mencoba cara-cara yang baru, atau untuk bertindak sendiri memperbaiki nasibnya antara lain dengan turut dalam gerombolan-gerombolan. Dipandang dari sudut ini, maka masalah kemerdekaan serta pembangunan negara yang merdeka, tidak lain dari pada menyusun kembali masyarakat kita atas tingkat produksi yang lebih tinggi dengan pembagian penghasilan yang lebih merata. Di dalam keadaan seperti sekarang ini susunan masyarakat serta sistem politik, negara yang akan dapat bertahan, hanyalah suatu susunan masyarakat serta sistem politik yang sanggup mengatasi masalah kemelaratan di negeri kita. Jelaslah kiranya, cara-cara kita membangun ekonomi kita akan menentukan bentuk dan sifat negara kita, dan akan menetaukan isi kemerdekaan kita.

Apabila kita meninjau kedudukan negara kita di dunia internasional, maka terlihatlah bahwa pada tingkat kehidupan ekonomi kita sekarang nasib, kita sebagai bangsa untuk sebagian besar masih ditentukan sebagai obyek oleh faktor-faktor di luar kekuasaan kita. Selama demikian halnya maka sebenarnya asas menentukan nasib sendiri itu tidak lain daripada suatu pengertian yang hampa bagi kita. Memang untuk beberapa waktu mungkin untuk memperkuat kedudukan kita dan melindungi kepentingan bangsa kita dengan berbagai tindakan politik. Akan tetapi hasil-hasilnya sangat terbatas dan sementara. Jaminan yang mulak bagi asas menentukan nasib kita sendiri terletak pada kekuatan ekonomi yang besar. Urgensi pembangunan ekonomi lebih nyata lagi jikalau kita mengingat bahwa sebagian besar negara-negara lain telah berhasil memulihkan keadaan ekonominya pada tingkat sebelum perang, malahan tingkat itu dapat dilampauinya.

Angka-angka yang dimajukan oleh Dr. Daniel Neumark dalam laporannya kepada Biro Perancang Negara beberapa bulan yang lau telah menunjukkan bahwa kita belum berhasil mencapai kembali atau melebihi penghasilan nasional sebelum perang, malahan angka-angkanya membuktikan bahwa kita tidak berhasil menahan mundurnya tingkat kehidupan, yang sudah mulai merosot sebelum perang. Perbedaan kekuatan yang diakibatkan oleh keadaan ini dart yang berbahaya itu, lebih terang lagi jikalau kita menginsyafi bahwa makin tinggi tingkat ekonomi sesuatu negara, makin besar kemampuan dan kecepatannya untuk mempertinggikannya lagi. Dengan perkataan lain, negara-nepara yang terbelakang ekonominya makin lama makin jauh perbedaan tingkat ekonominya dengan negara-negara yang sudah lebih maju dan makin sukarlah bagi negara-negara yang terbelakang ekonominya itu untuk menyamai pesatnya kenaikan tingkat ekonomi itu. Bahaya bahwa negara-negara yang terbelakang ekonominya ini makin lama makin ketinggalan dan relatif makin lemah bukan suatu bahaya yang kosong.

Maka kemerdekaan kita dan kemungkinan bagi kita untuk benar-benar menentukan nasib kita sendiri tergantung dari kesanggupan, kita untuk meluncurkan pembangunan ekonomi yang proporsi serta kecepatannya sepadan dengan urgensi serta luasnya masalah ini. Dan juga bentuk politik negara serta kemerdekaan kita akan ditentukan olehnya.

Meskipun di dalam tahun-tahun yang akhir ini kita telah mencapai sekedar kemajuan dalam lapangan pembangunan ekonomi, namun orang tidak dapat melepaskan diri dari kesan bahwa kemajuan itu tidak memegang peranan dalam alam pikiran bangsa kita. Memang harus dikatakan bahwa kemajuan itu belum mencukupi untuk memenuhi tuntutan zaman seperti digambarkan di atas tadi. Hasil-hasil pembangunan ekonomi hingga kini belum merupakan sesuatu yang dapat memupuk kepercayaan diri-sendiri kita, dan menambah kesanggupan kita untuk membangun secara bersemangat. Seolah-olah rencana-rencana pembangunan dari pemerintah tidak merupakan suatu barang yang hidup untuk masyarakat Idta sebagai kebulatan, meskipun pentingnya hal itu diterima juga oleh daerah-daerah yang bersangkutan langsung. Kesan umum ialah bahwa, pembangunan ekonomi itu tinggal sebagai rencana-rencana Pemerintah saja, di mana setiap Kementerian berusaha sendiri-sendiri dan bukannya sebagai pelaksanaan sebagian dari suatu rencana pembangunan umum yang integral. Begitu pun dengan partai-partai politik. Partai-partai politik umumnya menyokong pembangunan, ekonomi sebagai suatu semboyan umum. Akan tetapi kita melihat juga bahwa masalah pembangunan ekonomi tidak memegang peranan dalam pikiran kaum politikus partai sekarang.

Dalam menghadapi keadaan Indonesia sekarang, percaturan perang didahulukan dan pembangunan ekonomi seolah-olah dikesampingkan sebagai sesuatu yang kurang urgensinya. Maka tidak mengherankanlah bahwa juga di kalangan khalayak-ramai tidak ada bayangan yang terang tentang apa yang dimaksud dengan pembangunan ekonomi, dan apa yang harus dikerjakannya sebagai sumbangan untuk pembangunan ekonomi ini. Aktivitasnya tidak kurang, di dalam lingkungannya sendiri, akan tetapi' sering keaktifan itu timbul dari kekecewaan terhadap usaha pembangunan pemerintah di daerahnya, sehingga ia merasa terpaksa mengambil inisiatif sendiri. Bagaimanapun juga, umumnya tidak ada perasaan pada khalayak-ramai bahwa ia menjadi bagian dari suatu usaha bersama yang meliputi baik pemerintah maupun dirinya sendiri untuk membangun negara kita.

Oleh sebab itu maka timbullah kesan umum bahwa pembangunan ekonomi kita ini seolah-olah setengah-setengah saja dikerjakan, seperti tak dapat berangkat dan macet. Padahal, pembangunan ekonomi itu seharusnya merupakan penjelmaan suatu pergerakan rakyat yang dibimbing secara sadar oleh Pemerintah.

Sebabnya, bermacam-macam. Ada sebab-sebab yang harus dicari di bidang politik, oleh sebab memang ada berbagai-bagai syarat politik yang harus dipenuhi dulu sebelum suatu bangsa dapat menempuh jalan ke arah pembangunan ekonominya. Menurut pandangan kami beberapa sebab yang penting, di luar lapangan politik ini, ialah kekurangan pengetahuan tentang arti pembangunan ekonomi untuk negara kita, sehingga umumnya kurang dirasakan urgensinya. Di samping itu ada juga kekurangan pengetahuan tentang apa yang dituju dengan pembangunan ekonomi ini di dalam akibat-akibatnya untuk kehidupan masing-masing orang di dalam lingkungannya sendiri. Ada juga kekuranginsafan bahwa proses pembangunan ekonomi ini ialah suatu proses yang meliputi kehidupan kita di dalam segala lapangan. Begitu pun kita belum secara sistematis menghadapi rintangan-rintangan di dalam masyarakat kita sendiri dalam menempuh jalan ke arah pembangunan ekonomi ini, yang berakar pada kebudayaan kita sendiri. Oleh sebab itu perlu kita tinjau masalah pembangunan ekonomi di dalam rangka kebulatan kehidupan bangsa kita, atau dengan kata-kata lain, dalam rangka kebudayaan kita.

Karangan ini tidak akan membicarakan faktor-faktor ekonomi khusus ataupun faktor politik yang tersangkut dalam perumusan suatu rencana pembangunan serta pelaksanaannya. Begitu pun ia tidak akan mengupas syarat-syarat politik yang harus dipenuhi sebelum kita dapat mulai melaksanakan pembangunan ekonomi.
Kita juga tidak akan menyinggung perumusan suatu politik pembangunan ekonomi. Maksud karangan ini ialah mencoba meninjau sekedarnya beberapa hubungan antara usaha pembangunan ekonomi dan bermasalah kebudayaan yang mengenai, inti pribadi sesuatu bangsa dan masalah kebudayaan yang fundamental. Sebab dapatlah dikatakan bahwa pembangunan ekonomi langsung menyentuh inti pribadi sesuatu bangsa yang masyarakat dan negaranya menjadi penjelmaannya.

Bahwa pembangunan ekonomi bukanlah suatu masalah ekonomi semata-mata, sudah dapat dibayangkan apabila kita mengingat bahwa tujuan-tujuan sesuatu rencana pembangunan ekonomi, sifat-sifatnya, perbandingan antara penanaman modal untuk pembuatan barang-barang modal dengan penanaman modal pombuatan barang-barang konsumsi, ditentukan berdasarkan suatu keputusan politik. Jadi oleh suatu keputusan yang bukan bersifat ekonomis. Begitu pun keputusan mengenai cara-cara pelaksanaan pembangunan ekonomi, misalnya tentang sentralisasi atau desentralisasi, apakah rencana pembangunan ekonomi itu harus dilaksanakan dengan menggunakan aparatur negara saja atau dengan mengajak rakyat untuk turut serta secara aktif; tempat dan penghargaan yang diberikan kepada inisiatif sendiri di dalam perumusan serta pelaksanaannya, dan kebebasan pribadi di dalamnya, semuanya merupakan suatu keputusan yang sangat erat terjalin dalam maksud tujuan sesuatu masyarakat, atau, dalam perkataan lain, mengenai dasar kebudayaannya.

Pembangunan Ekonomi sebagai Perubahan Sosial

Betapa luasnya sangkut-paut satu unsur saja dalam pembangunan ekonomi dapat dilihat dari beberapa contoh.

Di dalam usaha pernbangunan ekonomi di negeri kita, pembemtukan koperasi memegang peranan yang penting. Susunan koperasi dianggap, dan memang demikian halnya, sebagai suatu susunan keaktifan ekonomi moderen, yang masih cukup dekat kepada suasana kehidupan kita yang lama, namun cukup potensinya untuk digunakan sebagai dasar pembinaan kekuatan ekonom kita. Ia juga merupakan suatu batu loncatan dan perantara, dengan susunan-susunan keaktifan ekonomi yang lebih besar.

Pendirian suatu koperasi di desa berarti bahwa kita menggunakan suatu teknik organisasi yang tertentu: ia memerlukan administrasi serta pembukuan yang moderen. ia meminta tanggung jawab finansial. Sikap orang-orang desa terhadap uang daan kredit harus berubah sebab keaktifan koperasi dan para anggotanya harus dapat diperhitungkan dengan uang. Pendirian koperasi tidak hanya merupakan perubahan dalam cara-cara orang menyusun diri dan bekerja bersama, melainkan juga berarti perubahan dalarn lembaga-lembaga sesuatu desa. Susunan administratif baik di desa maupun dalam hubungan desa itu dengan daerah di sekitarnya akan harus disesuaikan kepadanya. Timbulnya suatu koperasi di dalam desa juga merupakan timbulnya suatu pusat kekuasaan baru sebagai saingan di dalam susunan kekuasaan lama. Maka susunan politik pun berubah karenanya. Orang-orang desa, pendapat-pendapat dan adapt-adat kebiasaannya terpaksa menyesuaikan diri kepada badan-badan baru ini. Dengan adanya suatu koperasi di dalam desa akan muncul orang-orang baru dengan kejuruan dan keahlian yang istimewa, yang dahulu tidak terdapat dalam lingkungan itu. Orang-orang desa harus belajar bergaul dengar orang-orang baru ini dan memberi tempat dan penghargaan kepadanya.

Persamaan yang dangkal antara bentuk koperasi dan susunan kehidupan gotong-royong, sebenamya menambah kesukaran-kesukaran orang untuk memahami arti perubahan dalam suatu desa yang diakibatkan oleh berdirinya suatu koperasi, dan sering juga merupakan halangan utama dalam perkembangan, koperasi tadi. Kehidupan secara gotong-royong berdasar pada rasa kekeluargaan dalam suatu masyarakat tertutup, di mana kebutuhannya untuk sebagian besar dipenuhi oleh dan di dalam masyarakat itu sendiri. Koperasi memerlukan penilaian jasa-jasa orang dengan uang, sedangkan dalam kehidupan gotong-royong penghargaan itu, biasanya tidak diukur dengan mata uang. Koperasi berdasarkan atas satu keputusan yang diambil secara sadar dan suka-rela oleh orang-orang yang bersangkutan sendiri. Anggota-anggotanya bersatu untuk mencapai suatu maksud tertentu, berdasarkan pengertian yang rasional tentang hak dan kepentingan sendiri dan hak dan kepentingan bersama. la melingkupi lingkungan kehidupan terbuka yang lebih luas daripada dahulu. Pengalaman kita di lapangan koperasi telah membuktikan bahwa jikalau perbedaan antara koperasi dan kehidupan gotong-royong yang berakar pada susunan agraris-feodal, tidak disadari dengan secukupnya, maka ada bahaya bahwa bentuk koperasi yang baru menjadi tidak lain dari pada suatu wujud baru yang mengandung isi feodal yang sama seperti dulu. Tidak sedikit jumlah koperasi yang sebenarnya hanya merupakan perkumpulan unsur-unsur feodal di dalam suatu desa yang dengan cara baru ini, hanya melanjutkan kekuasaan tradisionalnya atas orang-orang kecil.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, telah nyatalah bahwa berhasil tidaknya suatu koperasi di desa tidak hanya tergantung pada keahlian dan kecakapan para pemimpin dan anggota-anggotanya untuk menyelenggarakan koperasi itu. Keberhasilan itu tergantung pada perubahan-perubaban lainnya di lapangan sosial dan kebudayaan yang secara langsung atau tidak langsung tersangkut dalam penyelenggaraan koperasi ini.

Maka berdirinya suatu koperasi di suatu desa harus disertai oleh berbagai perubahan di lapangan lain. Malahan boleh dikatakan bahwa berhasil atau tidaknya usaha koperasi untuk sebagian besar tergantung dari kesanggupan orang untuk mengadakan perubahan-perubahan lain itu. Ternyatalah bahwa koperasi itu hanya salah satu muka saja dari proses pertumbuhan dan perkembangan desa seluruhnya yang terjadi di berbagai lapangan pada waktu yang sama. Untuk mencapai hasil baik dengan koperasi ini perlu perubahan-perubahan lain itu dihadapi dan dilaksanakan sekaligus. Artinya kita berhadapan dengan masalah pendinamisan kehidupan desa seluruhnya.

Begitupun pemasukan mesin ke dalam kehidupan desa, seperti penggunaan traktor atau didirikannya usaha-usaha kerajinan, berarti penyesuaian segala aspek kehidupan dan susunan kehidupan di desa kepadanya. Dalam hal traktor misalnya, yang perlu bukan hanya bahwa orang cakap menggunakannya, melainkan bahwa orang yakin akan perlunya memeliharanya.
Pengalaman kita menunjukkan bahwa justeru dalam hal itu kita masih lemah. Di samping itu, perlu untuk menyesuaikan cara-cara bekerja bersama di dalam desa mengenai penggarapan tanah dan sebagainya kepada adanya traktor-traktor tadi, agar supaya kita dapat menarik keuntangan sebesar-besamya daripadanya, dan begitu seterusnya. Traktor dan mesin oleh orang desa harus dapat dianggap dan diperlukan sebagai lanjutan tangan manusia yang dapat dikuasainya, sepenuhnya, seperti juga paculnya. Dengan demikian itu si mesin tadi bukan lagi suatu benda yang asing baginya, melainkan suatu alat yang asli, suatu penjelmaan dari kebutuhan dan kesanggupan masyarakat desa itu. Dan untuk itu kita perlu menyesuaikan diri, termasuk mentalitet kita, cara-cara hidup, dan hubungan produksi pada umumnya kepada mesin yang kita masukkan dan terima ke dalam kehidupan kita, atau dalam perkataan lain, kita harus mencernakan mesin tadi dalam tubuh, kehidupan masyarakat kita.

Hal ini juga berlaku jikalau kita meningkat pada lapangan industrialisasi umumnya. Di sini pun pemasukan mesin-mesin hanya merupakan permulaan proses perubahan sosial dan tanggapan jiwa bangsa kita. Baru sesudah kita menyesuaikan, cara-cara organisasi kerja, disiplin kerja, kecepatan hidup kita dan sebagaimana di samping kecakapan kita untuk menggunakan mesin itu, dapat kita katakan bahwa mesin itu sudah menjadi barang yang hidup dalam masyarakat kita. Malahan lebih jauh lagi, kita baru dapat dikatakan telah mencernakan mesin itu, sesudah pada kita timbul keinginan dan kesanggupan, tidak saja untuk memelihara mesin itu, melainkan juga untuk membuatnya sendiri dan untuk senantiasa menciptakan mesin-mesin yang lebih baik daripada yang sudah, yang lebih sesuai lagi dengan kebutuhan kita sendiri. Nyatalah bahwa mesin itu hanya pernyataan dan alat suatu masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuannya:. Kita tidak dapat melepaskan mesin itu serta teknologi umumnya dari nilai-nlaai sesuatu masyarakat, dari segala sesuatu yang dianggap penting oleh masyarakat itu. Dengan perkataan lain mesin serta teknologi merupakan penjelmaan kebudayaan suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan yang menciptakannya. Jadi menghadapi masalah industrialisasi di negeri kita berada juga menghadapi suatu proses perubahan sosial, suatu proses perubahan tanggapan jiwa, suatu penyesuaian kreatif dari kebudayaan kita.

Penyesuaian kreatif ini berarti bahwa kita harus mencari dan membangkitkan di dalam kebudayaan kita sendiri asas-asas otonom, yang atas kekuatan sendiri, akan memperkembangkan dinamik sosial kita sendiri, dan mampu mendorong dan menuntun kita dalam menempuh jalan modernisasi, kehidupan kita. Jikalau tidak demikian, maka segala penyesuaian kita akan bersifat pasif. Kita tidak akan dapat melampaui taraf imitasi, taraf tiruan belaka, dan kita hanya akan meningkat dari tingkat statis yang satu kepada tingkat statis yang lain, dan kita senantiasa akan terbelakang.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi masalah industrialisasi, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita hanya bersedia menerima mesin serta teknologi dunia moderen dengan menolak begitu saja penjelmaan-penjelmaan lain dari kebudayaannya. Eklektisisme yang murah ini, yang dianut oleh beberapa pendekar kebudayaan kita dan yang secara samar-samar juga terdapat di berbagai kalangan masyarakat kita, tidak dapat dipertahankan. Untuk menguasai mesin dan teknologi kita perlu mengertinya lebih dahulu, yaitu menyelami dan mengerti kebudayaan dan jiwa yang menciptakannya. Usaha untuk menyelami kebudayaan Barat, yang menjadi induk dunia moderen ini, agaknya akan dapat membantu kita dalam mencari asas-asas dinamik otonom pada kita sendiri, yang kita maksudkan di atas ini.

Akan tetapi sebelum kita meningkat pada soal ini, agaknya ada baiknya kita menyimpang sebentar dan menghadapi suatu soal lain dahulu. Kita telah melihat bahwa proses industrialisasi dan pembangunan ekonomi umumnya ialah suatu proses perubahan sosial dan suatu proses perubahan tanggapan jiwa. Akan tetapi, orang dapat bertanya, apakah perubahan mentalitas itu bukannya akibat dari pemasukan mesin dan teknologi dalam kehidupan kita? Bukankah kebudayaan itu merupakan bangunan atas dari susunan hubungan produksi di dalam suatu masyarakat? Memang sejarah jalannya revolusi industri di Eropa Barat membuktikan bahwa pada umumnya hal itu demikianlah adanya. Akan tetapi jikalau suatu negara hendak mengubah susunan hubungan produksinya dan mempertinggi tingkat produksinya dalam waktu singkat dan menurut rencana tertentu, dengan sedapat-dapatnya mengurangi kesengsaraan yang diderita oleh rakyat Eropa Barat sewaktu revolusi industrinya itu, maka ia terpaksa turut memperhitungkan dan menggunakan secara sadar faktor-faktor kebudayaan tadi.

Demikianlah Uni Soviet, pada suatu ketika merasa perlu untuk mengabdikan kehidupan kebudayaan Rusia kepada keperluan industrialisasinya. Dan untuk keperluan itu ia telah mengendalikan dan mengatur penciptaan di segala lapangan. Faham Realisme Sosialis adalah akibat dari politik ini. Begitupun di Indonesia mentalitas kita akan berubah dengan adanya industrialisasi serta segala akibat sosialnya. Sebenarnya mentalitas kita sudah berubah dan akan terus-menerus berubah dengan berlangsungnya keruntuhan susunan masyarakat kita yang lama. Akan tetapi terang jugalah, bahwa apabila kita hendak mengejar waktu, mengingat urgensi pembangunan ekonomi ini untuk keselamatan kemerdekaan kita, kita akan harus mengerahkan secara sadar faktor-faktor kebudayaan untuk memudahkan dan mempercepat proses perubahan itu. Lepas dari itu ada juga suatu hal lain. Perubahan mentalitas akan terjadi sesudah proses industrialisasi dimulai. Dimulai oleh Pemerintah. Artinya perubahan mentalitas harus dimulai di kalangan pemerintah dan pemimpin masyarakat kita, sebelum kita dapat mulai dengan pembangunan ekonomi. Dan ternyata di situlah letaknya kesukaran kita, sebab tekad dan hasrat pembangunan kurang dirasakan. Dan akibatnya ialah, lambatnya usaha pembangunan ekonomi. Dan kita akan melihat nanti bahwa untuk sebagian hal itu disebabkan oleh rintangan-rintangan kebudayaan yang berpengaruh di lapisan masyarakat itu. Akibatnya ialah bahwa perubahan mentalitas yang bergandengan dengan runtuhnya susunan sosial yang lama dan keinginan rakyat banyak untuk mencoba cara-cara baru, tidak dapat ditampung dengan secukupnya.

Jelaslah, betapa pentingnya peranan faktor-faktor kebudayaan, sehingga tidak usah disangsikan lagi.

Mari kita kembali pada pokok pembicaraan kita. Kita telah melihat bahwa jikalau kita menghadapi kekuatan industrial dunia moderen, kita pada hakekatnya menghadapi kebudayaannya. Dan bahwa, apabila kita hendak mencari dan memperkembangkan asas-asas dinamik yang otonom pada kita sendiri, ada baiknya jikalau kita juga menyelami intisari kebudayaan Barat yang menjadi akar dinamik Barat itu. Untuk itu, barangkali kita mendapat pegangan sedikit jikalau kita menggunakan dua pengertian sebagai penuntun yaitu sikap aktif terhadap alam, dan asas pembaharuan terus-menerus.

Di dalam susunan statis dari masyarakat agraris feodal, yang kita kenal itu, intisari asas hidup sebagian besar bangsa kita ialah penyesuaian serta persatuan dengan kodrat dan hukum-hukumnya. Manusia adalah bagian kodrat, dan kodrat itu meliputi keseluruhannya. Manusia itu menentukan tempatnya serta hubungannya dengan alam di sekitarnya dengan perantaraan bermacam-macam upacara dan pantangan. Dengan jalan ini sedapat-dapatnya ia menjamin keselamatannya. Di dalam suatu tingkat yang lebih tinggi, kebahagiaan terbesar yang dapat dirasakannya ialah mengatasi dan membebaskan diri kungkungan pribadinya sendiri dan dengan cara demikian menikmati rasa persatuan dengan kodrat. Di dalam tanggapan jiwa yang demikian sungguh segala pemikiran untuk menguasai alam dan mengabdikannya kepada kebutuhan manusia.

Tanggapan jiwa dunia moderen berpangkal pada paham bahwa penguasaan alam oleh manusia merupakan suatu hal yang mungkin dan yang patut dikejar. Dengan tanggapan jiwa ini manusia tidak lagi merupakan suatu bagian dari alam melainkan ia mulai menyendiri daripadanya, ia mulai menyelidikinya sebagai suatu hal yang lepas dari dirinya sendiri, dan ia mulai menguasainya. Untuk dapat menguasai alam, perlu manusia mengetahui hukum-hukumnya agar ia mampu mengganakan hukum-hukum itu untuk menaklukan alam. Dan dorongan mengenal alam ini, untuk mengetahui hukum-hukum demi pengetahuan itu sendiri, tidak lain daripada tanggapan jiwa Pengetahuan. Tanggapan ilmu pengetahuan ini berikhtiar melihat mengerti alam di dalam keseluruhannya sebagai suatu kebulatan yang berangsur-angsur dapat dikenal dan dipahaminya, yang pengetahuannya dapat disusun dalam suatu teori yang logis, yang bagian-bagiannya saling berhubungan secara konqisten. Ia senantiasa berusaha membuat obyektif pendapatnya dan mengujinya kembali, untuk mencocokkannya dengan pendapat-pendapat dan hubungan-hubungan baru yang didapatnya, dan jika perlu mengubah teorinya. Maka intisari tanggapan ilmu pengetahuan ini ialah usaha pembaharuan terus-menerus. Kebenaran yang didapatnya tidak dianggap sebagai suatu kebenaran yang mudak, melainkan sebagai sesuatu yang senantiasa harus diuji kemboli, ditaklukkan dan dipahami kembali. Sebab baginya yang benar pada hari ini, besok sudah menjadi takhyul, dan yang baik sekarang besok menjadi musuh dari yang lebih baik.

Keinginan untuk mengenal dan menguasai alam, ikhtiar manusia untuk terus-menerus, mencari kebenaran sebagai sesuatu yang senantiasa harus dikejar namun tidak pemah dicapai seluruhnya, kesediaan untuk mencocokkan pandangan serta cara-cara hidupnya kepada faham ini, bersama dengan keyakinan bahwa nasib manusia di dunia ini untuk sebagian penting dapat diperbaiki oleh manusia sendiri berkat pengetahuan alam ini, kedua unsur inilah yang menjadi sumber perkembangan teknologi Barat dan sumber dinamik sosialnya yang besar itu. Kami rasa, dengan segala kekurangan dan kedangkalan yang dikandung dalam generalisasi semacam ini, kita dapat menggunakannya dalam penyelidikan kita ini.

Teranglah sekarang bahwa tidak cukup kita hanya mengoper saja alat-alat, cara-cara dan bentuk-bentuk susunan produksi dari luar. Semuanya ini akhimya harus menjadi darah-daging kita sendiri; ia harus menjadi alat-alat dan cara-cara kita memenuhi kebutuhan kita sendiri, menjadi penjelmaan kebudayaan kita sendiri. Dalam pada itu intisari persoalan yang kita hadapi ialah mencari asas-asas dinamik kita sendiri yang otonom, artinya yang dapat berkembang menurut hukum-hukum pribadi kita sendiri berkat kekuatan kita sendiri. Dinamik itu harus sedemikian kuatnya sehingga kita tidak lagi ketinggalan oleh dinamik perkembangan dunia. Dan bagaimanapun juga di samping komponen-komponen lainnya asas-asas dinamik itu akan harus meliputi juga kepercayaan bahwa manusia sanggup dan harus dapat menguassi nasibnya sendiri di dunia ini, lebih daripada semula.
Lagi pula, keinginan untuk mengenal dan menguasai alam dan kesanggupan untuk menghadapi perubahan dan pembaruan terus-menerus harus hidup pula.

Dari uraian ini kelihatan betapa mendalam pembahan-perubahan yang akan harus kita alami untuk memungkinkan pembangunan ekonomi, sebab pada hakekataya kita berhadapan dengan masalah-masalah yang langsung menyentuh akar-akar kebudayaan kita.