Jurnal 2015

Mengatasi Kemacetan di Jakarta: mengubah perilaku pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

image: fujitravelbatam.com
image: fujitravelbatam.com
Masalah kemacetan di Jakarta kian hari semakin parah. Peningkatan jumlah kendaraan yang tidak diimbangi dengan peningkatan pembangunan jalan, merupakan penyebab utama terjadinya kemacetan. Selain itu jumlah kendaraan pribadi ternyata lebih banyak dibandingkendaraan umum faktor ini ikut memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah98% untuk kendaraan pribadi dan 2% adalah kendaraan umum. Padahal idealnya rasio antara kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 35% dan 65%. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa telah terjadi penurunan minat di masyarakat dalam menggunakan transportasi umum hingga mencapai 12,8%, namun tidak demikian halnya dengan masyarakat pengguna kendaraan pribadi yang justru menunjukkan peningkatan sekitar 11%.

Buruknya pelayanan transportasi umum yang ada baik dari segi kenyamanan dan keamanan, telah menyurutkan minat masyarakat menggunakan transportasi umum, dan beralih lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu menggunakan kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda 2 oleh banyak masyarakat dinilai lebih ekonomis dibandingkan apabila harus mengeluarkan biaya untuk bus. Selain murah, kendaraan roda 2 dapat dengan cepat dan mudah menembus kemacetan. Tak heran jika kendaraan roda 2 di jakarta semakin memenuhi jalanan di jakarta.

Lalu strategi apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta ini. Belajar dari negeri tetangga yaitu Singapura yang dinobatkan oleh PricewaterhouseCoopers sebagai negara yang memiliki sistem transportasi terbaik di dunia, terdapat 3 kunci strategi utama didalam mengembangkan sistem transportasi, yaitu :

  1. Menciptakan lebih banyak koneksi
  2. Peningkatan pelayanan transportasi umum
  3. Liveable dan inclusive community.

Kota harus memiliki trasportasi yang seimbang melalui pembangunan sistem tranportasi yang terintegrasi. Untuk itu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan pelayanan transportasi umum paralel dengan pertumbuhan jalan termasuk jalan tol; membangun moda transportasi yang terkoodinasi; mendorong pejalan kaki; dan meningkatkan kota layak huni dan berkelanjutan.

Menciptakan lebih banyak koneksi disini diartikan bahwa transportasi umum di Jakarta harus membangun lebih banyak lagi jalur-jalur kereta, koridor bus transjakarta, feeder-feeder bus, sehingga tercipta sebuah sistem yang terintegrasi selain menghubungkan dari kota-kota Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dengan Kota Jakarta, juga bisa menghubungkan antar pusat-pusat kegiatan di tengah kota jakarta. Tak sekedar menghubungkan dari titik ke titik, namun transportasi umum harus bisa menghantarkan hingga dari pintu ke pintu. Kereta disini memiliki arti sebagai penting dan vital karena sebagai backbone dalam sistem transportasi di Jakarta, selain dapat mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, kereta juga dinilai ekonomis dan ramah lingkungan. Selain KRL Commuters, saat ini Jakarta sedang giat membangun proyek MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) dan melalui proyek ini diharapkan dapat mereduksi kemacetan di Jakarta. Meski telah dimulai proses pembangunannya sejak Oktober 2013, namun kita baru bisa menikmatinya 2018 nanti. Jaringan kereta ini juga harus terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti halte bus transjakarta, terminal angkutan umum, pool car atau pool taxi, termasuk taman parkir, pedestrian dan jalur sepeda.

Contoh kasus yang memperlihatkan transportasi umum di Jakarta belum terintegrasi satu sama lain, misalnya para pengguna KRL commuters, setelah keluar dari stasiun untuk melanjutkan perjalanan dengan bus transjakarta, harus menggunakan ojek karena cukup jauh jaraknya apabila ditempuh dengan jalan kaki. Tentu hal ini menambah beban biaya transport. Akan lebih menghemat biaya seandainya letak stasiun kereta berdekatan dengan jalur bus transjakarta. Di Singapura dimungkinkan jarak stasiun dengan apartemen bisa ditempuh 10 menit dengan berjalan kaki. Ini memperlihatkan, selain terintegrasi antar moda transportasi, sistem transportasi juga harus terintegrasi dengan sistem tata guna lahan. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan tanah, maka stasiun-pun dapat dipadukan dengan pembangunan mixed used building. Sehingga orang dapat melakukan aktivitas lain seperti belanja, belajar, bahkan meeting di stasiun.

Terkait dengan peningkatan pelayanan, untuk kereta upaya yang perlu dilakukan meningkatkan kapasitas jalur kereta yang ada, melalui menambah jumlah stasiun dan jumlah gerbong kereta, termasuk meningkatkan frekuensi kedatangan kereta. Dengan demikian akan mengurangi penumpukan penumpang di stasiun, dan mempersingkat waktu tunggu kereta.

Untuk moda transportasi bus umum, diupayakan melalui program peningkatan pelayanan bus umum. Selain perlu diremajakan armadanya, perlu juga dievaluasi rute-rutenya, disesuaikan dengan rencana sistem transportasi yang terupdate. Apakah perlu ada yang dihapus atau justru ditambahkan untuk meningkatkan konektivitas. Sistem rambu yang ada juga lebih mengutamakan kepada bis atau angkutan umum. Untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna bis, halte-halte di up-grade begitu juga dengan terminal-terminal yang ada. Informasi real time kedatangan bus perlu disediakan di setiap pemberhentian. Pemanfaatan ICT untuk mengatasi kemacetan dan mendukung sistem transportasi perlu dikembangkan, misalnya melalui pelayanan aplikasi-aplikasi informasi transportasi yang terhubung ke telepon selular sehingga mudah diakses masyarakat.

Bagi perusahaan atau instansi-instansi yang memiliki banyak karyawan, disarankan untuk memberikan fasilitas bus karyawan, termasuk juga mengembangkan sistem car pooling, sehingga hal ini juga akan mengurangi jumlah pemakai kendaraan pribadi.

Terakhir,  Liveable dan inclusive community diupayakan melalui menciptakan pedestrian dan jalur sepeda yang dilengkapi rambu-rambu pengaman, serta saling terhubung dengan pusat-pusat kegiatan, dan juga pool transit. Pedestrian akan lebih nyaman apabila dilengkapi shelter dan bangku untuk beristirahat. Penting juga untuk menyediakan parkir sepeda yang aman di setiap titik-titik transit transportasi umum, serta mengijinkan mereka yang membawa sepeda lipat di dalam bis atau kereta.

Selain hal-hal diatas yang telah disebutkan, upaya lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah melalui pembatasan jumlah kendaraan pribadi yang lewat jalan-jalan protokol di ibu kota baik melalui sistem three in one, elektronic road pricing (ERP), termasuk juga pelarangan kendaraan roda dua melintas dibeberapa wilayah pusat kota, dan pembatasan truk-truk berat melewati jalur tengah kota.

Jadi intinya bagaimana mengurangi kemacetan di Jakarta adalah, lebih menekankan bagaimana upaya kita mengubah perilaku pengguna kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi umum. Tinggal bagaimana pemerintah bisa menyediakan pilihan kepada masyarakat moda transportasi umum yang aman, nyaman dan ekonomis.  (ika dahlia pusparini, urban specialist @ transformasi)