Sri Setyaningsih: Penyandang Disabilitas Punya Kemampuan dan Bisa Mandiri

Sri Setyaningsih (tengah), penyandang tuna daksa yang aktif memperjuangkan hak penyandang disabilitas untuk mandiri dan memperoleh pekerjaan yang layak. (Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

Sri Setyaningsih (37) merasa keterbatasan karena cacat fisik tidak menghalangi seseorang untuk bisa berdaya. Semua orang berhak mempunyai motivasi dan mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.

Sri merupakan penyandang tuna daksa yang sudah mempunyai pengalaman bekerja di salah satu pabrik garmen di Bogor selama sepuluh tahun. Lama bekerja merantau, Sri memutuskan untuk pulang ke tempat kelahirannya, di Desa Klewor, Kemusu, Kabupaten Boyolali pada tahun 2016.

Tiba di Klewor, berbekal pengalaman bekerja di pabrik garmen, Sri membuka usaha jasa jahit pakaian di rumahnya. Satu tahun tinggal di desa, Sri merasa prihatin dengan kondisi para penyandang disabilitas yang hanya tinggal di rumah dan tidak mendapatkan hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia sangat berharap mereka dapat mempunyai pekerjaan yang layak.

Harapan Sri mendapat angin segar, pada tahun 2017, ia bergabung di Forum Komunitas Difabel Boyolali (FKDB). FKDB menjadi tumpuan Sri untuk terlibat dalam kegiatan yang fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas. “Saya ingin membuktikan kalau penyandang disabilitas itu juga bisa berkarya, bisa punya keterampilan dan mandiri asalkan mereka diberi bantuan dan kesempatan,” ujar Sri dengan penuh semangat

Semangat Sri ini lah yang menarik perhatian SINERGI. Oleh SINERGI, Sri dan FKDB ditunjuk sebagai mitra konsorsia 3 P (Pemuda, Pemerintah dan Perusahaan) untuk program pelatihan kesiapan dan keterampilan kerja bagi kaum muda kurang mampu dan rentan termasuk difabel. SINERGI merupakan salah satu program bagian dari inisiatif USAID-Mitra Kunci yang bertujuan untuk memperkuat koordinasi kebijakan pembangunan ketenagakerjaan inklusif di Jawa Tengah.

Salah satu kegiatan program SINERGI adalah Dana SINERGI. Melalui Dana SINERGI, Konsorsia FKDB berhasil memfasilitasi 25 orang kaum muda kurang mampu dan rentan, 15 di antaranya adalah penyandang disabilitas untuk mengikuti pelatihan kesiapan kerja (soft skill) dan keterampilan kerja teknis (hard skill). Pelatihan kesiapan kerja dilaksanakan di Balai Latihan Kerja (BLK) Surakarta sedangkan pelatihan keterampilan kerja teknis pembuatan keripik tempe dan coklat tempe dilaksanakan di BLK Boyolali.

“Bagi saya mereka adalah masa depan, mereka masih muda, adik-adik saya yang penuh semangat membangun cita-cita. Melihat mereka bisa setara dan berinteraksi ikut pelatihan dengan orang-orang non difabel membuat saya bahagia,” tutur Sri.

Sri tidak pernah absen menemani ‘adik-adiknya’ megikuti pelatihan. Sri memantau dan memastikan bahwa peserta pelatihan terutama yang difabel dapat berinteraksi dengan perserta lain yang non difabel dan memahami keseluruhan materi pelatihan. Ia merasa ini adalah tantangan baru baginya.

Mengajak seorang penyandang disabilitas yang sebelumnya tidak pernah keluar rumah atau pergi jauh dari keluarganya bukanlah hal yang mudah terlebih jika harus belajar hal baru dan bertemu orang banyak. Ijin dari pihak keluarga juga tidak mudah didapatkan. Namun jika kondisi tersebut tidak berubah, maka para penyandang disabilitas juga tidak pernah bisa setara, mengetahui potensi diri dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

 

Rumah Produksi, Tempat Membangun Mimpi

Setelah pelatihan berakhir, Sri mengajak ‘adik-adiknya’ untuk magang di Nasya Coklat, sebuah perusahaan skala rumah tangga yang menjual aneka makanan ringan dan coklat di Boyolali. Kegiatan magang kemudian dilanjutkan dengan membuka wirausaha produksi coklat tempe dan keripik tempe.

Sri Setyaningsih (tengah), penyandang tuna daksa yang aktif memperjuangkan hak penyandang disabilitas untuk mandiri dan memperoleh pekerjaan yang layak. (Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

FKDB mempunyai fasilitas ruangan yang dijadikan sebagai rumah produksi coklat tempe dan keripik tempe. Ada tujuh anak muda yang bekerja di rumah produksi, sebagian besar adalah penyandang disabilitas. Semua proses produksi dilakukan dengan cara dan peralatan yang sederhana namun hasilnya cukup memuaskan.

Di awal mula merintis usaha, Sri mengeluarkan uangnya sendiri untuk bantuan modal produksi. Setelah usaha ini berjalan selama dua bulan, penjualan keripik tempe dan coklat sudah dapat memberikan manfaat ekonomi.

Sri menjelaskan, “awalnya saya membantu mereka untuk modal usaha. Sekarang, mereka sudah bisa mandiri. Dari penjualan keripik tempe dan coklat tempe, mereka bisa membeli bahan baku sendiri bahkan ada uang lebih untuk ditabung.”

Setiap hari, rata-rata ada 6-8 Kg keripik tempe yang diproduksi. Keripik tempe ini dipasarkan di toko dan warung terdekat. Untuk coklat tempe, produksinya disesuaikan dengan pesanan, tidak ada angka produksi khusus setiap harinya.

Rumah produksi menjadi langkah awal untuk Sri dan teman-temannya meraih cita-cita kesetaraan untuk para penyandang disabilitas. Sebuah bukti nyata yang bisa dilihat siapa saja, bagaimana para penyandang disabilitas di Desa Klewor dan sekitarnya bisa mandiri dan mempunyai penghasilan sendiri.

“Rumah produksi ini sudah jadi rumah kedua bagi mereka, mereka tiap hari senang dan penuh semangat datang ke sini. Mereka seperti menemukan kehidupan baru,” ungkap Sri.

 

Pencapaian di Luar Dugaan

Keberhasilan Sri dalam memotivasi ‘adik-adiknya’ untuk berjualan kripik tempe dan coklat tempe, langsung mendapatkan respon yang posistif dari pemerintah setempat. Mulai dari Kepala Desa Klewor hingga Pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan perhatian dan bantuan kepada Sri dan teman-temannya di FKDB.

Sri dan teman-temannya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Boyolali 2018. Pada acara tersebut, produk coklat tempe berhasil meraih Juara II.

Pencapaian lain tidak berhenti sampai di situ, Kepala Desa Klewor sangat senang dengan kegiatan usaha produksi kripik tempe dan coklat tempe. Usaha ini memberikan sumbangsih langsung kepada pengurangan angka kemiskinan desa sekaligus pemberdayaan kaum muda kurang mampu dan difabel.

“Wah, Pak Kades mendukung sekali. Beliau memberikan bantuan lahan yang bisa digunakan untuk membangun tempat usaha,” jelas Sri.

Lagi-lagi bantuan tidak berhenti sampai di situ. Selama ini, Sri dan teman-temannya juga aktif berkoordinasi dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Boyolali. Hasilnya, Pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan bantuan kios untuk tempat usaha kepada FKDB. Selain itu, Sri juga ditunjuk untuk menjadi anggota Tim Advokasi Difabel (TAD) Kabupaten Boyolali.

Ketika ditanya tentang apa perubahan terbesar dari ‘adik-adiknya’ yang penyandang disabilitas? Sri menjelaskan, sudah ada ada dua orang yang tidak bekerja membuat kripik tempe dan coklat tempe lagi karena mereka mendapatkan pekerjaan baru.

“Di luar dugaan, ada dua orang yang sudah mentas. Eko sekarang sudah buka salon potong rambut dan Vida sudah kerja jadi kasir di toko swalayan. Posisi Eko dan Vida di rumah produksi sudah di isi orang lain, jadi produksi keripik dan coklat bisa tetap lancar,” papar Sri.

Dari semua bantuan dan capaian yang didapat, Sri sangat senang dan berterima kasih kepada SINERGI dan semua pihak yang telah membantu Sri dan FKDB. Tentunya, Sri sangat senang melihat ‘adik-adiknya’ satu persatu memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

“Pokoknya sebisa mungkin, penyandang disabilitas harus setara, mandiri dan tidak dipandang sebelah mata atau tersisih. Itu yang menjadi cita-cita saya,” tutur Sri sambil tersenyum.