Benedicta Noviana Dibyantari Restuwati dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang menyampaikan paparan tentang Pendekatan GESI untuk Menggerakan Potensi, Aset , dan Agensi Kaum Muda Penyandang Disabilitas. (Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

Surakarta - Kesetaraan gender, inklusi sosial, dan pengembangan karakter positif kaum muda menjadi tiga pendekatan utama SINERGI untuk implementasi program ketenagakerjaan inklusif di Jawa Tengah. Hal ini disampaikan Project Director SINERGI, Agung Binantoro dalam paparan sambutannya pada acara Workshop Pendekatan Kesetaraan Gender, Inklusi Sosial dan Pengembangan Karakter Positif Kaum Muda untuk Ketenagakerjaan Inklusif di Hotel The Royal Surakarta Heritage, 7 Agustus 2019.

Di awal implementasi fase 2, SINERGI mengajak semua perwakilan pemangku kepentingan dan mitra SINERGI untuk menemu kenali isu kesetaraan gender dan inklusi sosial (Gender Equality and Social Inclusion/ GESI) serta Pengembangan Karakter Positif Kaum Muda (Positive Youth Development/ PYD) untuk diintegrasikan pada program-program ketenagakerjaan inklusif di lingkup pekerjaan maupun aktivitas masing-masing lembaga.

“Jika kita membahas kata inklusif maka isu GESI harus menjadi bagian terpenting supaya tidak ada yang mrucut (tertinggal). Kaum perempuan dan penyandang disabilitas harus terlibat aktif dan memiliki kesempatan yang sama. No one left behind,” kata Myra Diarsi dari Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Jawa Tengah yang ditunjuk menjadi salah satu pemateri.

Selain GESI, isu PYD juga tidak kalah penting untuk menyiapkan kaum muda yang siap kerja. PYD menjadi isu penting karena implementasi Program SINERGI fase 2 ditujukan untuk memberikan akses informasi kerja bagi 16.000 kaum muda, pelatihan kerja bagi 2.000 kaum muda yang kurang mampu dan rentan termasuk penyandang disabilitas serta perbaikan kesempatan kerja atau penghasilan lebih baik bagi 1.600 kaum muda.

Kondisi saat ini, baik kaum muda sebagai pencari kerja maupun perusahaan sebagai pemberi kerja dan pemerintah serta lembaga pelatihan kerja sebagai penyedia program pelatihan kerja masih banyak yang tidak memahami konsep PYD. Hal ini menyebabkan kurang efektifnya program pelatihan kerja karena dirasa tidak tepat sasaran dan tidak sesuai minat kaum muda. Di lain sisi, pemahaman, pola pikir, dan perilaku kaum muda yang tidak bisa beradaptasi dengan kondisi dunia kerja menjadi penyebab utama besarnya angka turn over di perusahaan. Fakta di lapangan menunjukan angka pengangguran masih tinggi tetapi banyak perusahaan yang kekurangan tenaga kerja.

Amrullah selaku Youth Engagement Specialist, DAI - Mitra Kunci menjelaskan, “kerangka kerja pengembangan karakter positif kaum muda, yaitu; aset, agensi, kontribusi dan lingkungan yang mendukung perlu diterapkan pada proses seleksi atau rekruitmen tenaga kerja, pelatihan, pemagangan, dan penempatan kerja termasuk wiraswasta sehingga permasalahan ketenagakerjaan yang selama ini muncul dapat dikurangi.”

Salah satu peserta workshop, Mu’inatul Qoiriyah dari Rumah Inklusi Kebumen menyampaikan hasil diskusi kelompok tentang kebutuhan penyandang disabilitas dalam mengakses informasi ketenagakerjaan. (Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

Acara workshop juga digunakan untuk menyusun usulan bersama konsep mengarusutamaan isu GESI dan PYD untuk ketenagakerjaan inklusif. Usulan konsep ini akan menjadi bahan pembahasan rapat Kelompok Aksi (POKSI) ketenagakerjaan inklusif dengan melibatkan empat pilar pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, perusahaan, pemuda dan lembaga pelatihan kerja. Melalui POKSI dan peran aktif konsorsia empat pilar tersebut akan dihasilkan rencana aksi inovatif bersama untuk rekrutmen kerja, asesmen kerja, pelatihan kerja/ pemagangan kerja, dan penempatan kerja. Implementasi dari rencana aksi inovatif bersama ini diharapkan akan lebih efektif membantu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan.