Keterangan: Contoh praktik Urban Farming

Ketahanan pangan menjadi sebuah isu yang akan terus bergulir selama terjadi pertumbuhan dan dipicu faktor-faktor ketidakpastian didalamnya, baik oleh faktor alam maupun non alam. Dalam sejarahnya, proyeksi masalah pangan tersebut telah diperhitungkan dari munculnya Teori Malthus sejak abad ke 18 yang mengarah pada laju pertumbuhan pangan lebih lambat dibandingkan pertumbuhan populasi penduduk. Dengan adanya ketimpangan pertumbuhan tersebut akan terjadi suatu kelangkaan pangan dimana diperlukan suatu cara sebagai upaya mitigasi dan adaptasi. Kelangkaan yang dijabarkan tersebut masih pada kondisi normal dan pertumbuhan alami. Namun, hal tersebut akan lebih dramatis ketika pangan dihadapkan pada kondisi ketidakpastian seperti bencana alam, kerusakan lingkungan dan pandemi.

Bencana alam, ancaman perubahan iklim, dan pandemi Covid-19 menjadi sebuah kondisi ketidakpastian masa depan dan perlu adanya suatu upaya mitigasi. Seperti halnya teori Angsa Hitam (Black Swan Theory) sebagai sebuah teori yang menggambarkan kondisi dunia saat ini dengan segala ketidakpastian. Black Swan Theory menjadi metafora dari pola ekstrim dari kebenaran umum yang jarang dikaji dan sekaligus didalamnya mengelaborasi berbagai peristiwa langka yang terjadi di dunia dengan ciri berdampak besar, sulit diprediksi dan di luar perkiraan biasa1. Pandemi Covid-19 ini menjadi kejadian nyata dari Black Swan Theory yang perlu dikaji dampaknya dan memerlupakan sebuah upaya mitigasi untuk mengatasinya. Berangkat dari hal tersebut, maka latar belakang dari bukti sejarah ancaman terhadap ketahanan pangan dan kejadian luar biasa yang mengguncangkan dalam sejarah dunia menjadi sebuah pengantar menuju kajian dan alternative solusi yang ditawarkan untuk menghadapi ancaman terhadap ketahanan pangan.

Sebelum adanya pandemic Covid-19, pendorong utama terjadinya krisis pangan dunia adalah konflik, ganguan iklim dan turbulensi perekonomian. Ancaman dari masa depan yang belum pasti juga perlu diantisipasi. The World Economic Forum menyatakan bahwa pada 2050, populasi global diperkirakan akan mencapai 9,8 miliar jiwa sedangkan pasokan makanan akan berada dibawah tekanan yang jauh lebih besar dimana permintaan akan lebih tinggi 60% daripada saat ini, disamping diperparah oleh kondisi perubahan iklim, urbanisasi, degradasi tanah dan lahan subur menurun2. Rentetan kejadian besar yang menyebabkan bencana terus terjadi dengan muncul berbagai pandemi baru hingga saat ini. Berikut merupakan gambaran rentetan waktu terjadinya pandemi di dunia seperti pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Rentetan Pandemi dari Abad ke-6 sampai Sekarang
Sumber: diolah dari berbagai sumber3

Menurut Global Report on Food Security Information Network, konflik dan ketidakamanan, gangguan iklim, turbulensi perekonomian menjadi pendorong utama kerawanan pangan pada 2018, dimana akibat konflik menyebabkan 74 juta orang mengalami kelaparan akut, begitu juga iklim dan bencana alam menyebabkan 29 orang serta guncangan ekonomi membuat 10,2 juta orang dalam kelaparan akut4. Sementara pada 2019, penggerak utama kerawanan pangan disebabkan oleh faktor konflik yang berdampak pada 77 juta orang, disusul oleh cuaca ektrim yang berdampak pada 34 juta orang dan akibat guncangan ekonomi yang berdampak pada 24 juta orang5. Dari perkembangan tersebut, terjadi peningkatan jumlah orang yang terdampak sehingga hal tersebut semakin memperparah kondisi keterpurukan. Dikutip dari The New York Times menjelaskan bahwa perubahan iklim akan membuat ancaman semakin buruk karena banjir, kekeringan, badai, dan jenis cuaca ekstrem lainnya menyebabkan menyusutnya pasokan makanan/pangan global yang menyebabkan lebih dari 10% populasi dunia tetap kekurangan gizi6.

Pada 2018, kawasan asia menduduki posisi pertama dalam hal ketidakamanan pangan dan disusul oleh kawasan Afrika. Pada 2018, krisis pangan terburuk terjadi di Negara Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Ethiopia, Republik Arab Suriah, Sudan, Sudan Selatan, dan Nigeria Utara dengan total 72 juta orang menghadapi kerawanan pangan7. Setelah masuk pada masalah pandemi Covid-19 meyebabkan guncangan global terhadap berbagai sektor termasuk pangan didalamnya. Dampak dari terjadinya pandemi Covid-19 tidak hanya merugikan Indonesia tetapi juga merugikan hampir seluruh negara di dunia. Akibat adanya Covid-19, pemberlakukan lockdown disejumlah negara, pembatasan, dan karantina selama pandemic menyebabkan terganggunya harga, akses ke sumber makanan/pangan, dan rantai pasok.

Pasalnya, pandemi Covid-19 ini menyebabkan sektor pangan dunia menjadi terhambat terutama dari segi supply chain termasuk krisis pangan yang menghantui Indonesia. Terpuruknya ekonomi akibat pandemi mendorong puluhan juta orang terperosok kedalam jurang kemiskinan yang lebih dalam dan bencana kelaparan (dw.com, 2020)8. Dampak dari pandemi tersebut, terlihat dari penutupan ekspor yang dilakukan oleh sejumlah negara eksportir pangan dunia dimana kebijakan tersebut lebih memilih untuk memenuhi pangan domestik dibandingkan dengan pasar dunia. Seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia, negara seperti Vietnam, Thailand sebagai pemasok ekspor beras dunia diikuti oleh negara eksportir lainnya memutuskan untuk menutup ekspor sehingga dapat memicu krisis pangan.

Pada akhir Maret 2020, Vietnam selaku eksportir beras terbesar ketiga di dunia menghentikan kontrak-kontrak ekspor beras, dan pada April 2020 menerapkan kuota ekspor beras sampai pada akhirnya larangan ekspor tersebut dihapuskan9. Kemudian, Negara pengekspor lainnya seperti India sebagai pemasok pangan ke Indonesia juga memberlakukan lockdown 21 hari pada Maret 2020 menyebabkan terganggunya stabilisasi harga pangan Indonesia10.

Akibat pandemic ini, pemerintah melakukan upaya penguatan pangan dalam negeri dengan Program Strategis Nasional (PSN) berupa food estate. Food estate direncanakan dengan luasan 370.000 ha di Kalimantan Tengah dan 230.000 ha di Sumatera Selatan dimana food estate tersebut dijadikan sebagai sentra produksi padi atau beras11. Proyek food estate sendiri pernah direncanakan di Indonesia pada masa Orde Baru, tetapi belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Persamaan dari proyek ini yakni dibangun pada masa-masa darurat dimana pada era Orde Baru dihadapkan pada krisis ekonomi dan saat ini dihadapkan dengan pandemic Covid-19. Terdapat beberapa hal yang perlu diceramati dari kegagalan di masa lalu yaitu mengenai seberapa jauh proyek food estate memberikan dampak negatif dan factor yang menyebabkan kegagalan tersebut. Dampak negatif dan faktor yang dimaksud terdiri dari (a) memperburuk kesenjangan pemilikan lahan, (b) tidak adanya kejelasan regulasi soal distribusi pangan pada food estate, (c) kepemilikan modal bias kepentingan asing, (d) tiadanya posisi yang setara bagi petani dalam pola kemitraan12, (e) kurang tepatnya pemilihan lahan dimana seharusnya pencetakan sawah baru tersebut dilakukan pada Kawasan HGU terlantar dan Kawasan marginal bukan di kawasan gambut13, dan (f) kegagalan dikarenakan terganggu secara irigasi seperti lahan di Kabupaten Kapuas yang kering sehingga pemerintah menghentikan proyek tersebut pada 1999 untuk merehabilitasi lahan gambut14. Kemudian, indikator lainnya yang perlu diperhatikan pada food estate ini adalah (a) hanya menitikberatkan pada penyelesaian indikator availability dan mengesampingkan accessibility, acceptability, dan quality, (b) dibangun untuk kawasan ekonomi khusus (KEK) dimana hanya menguntungkan para pemodal besar dan eksploitasi sumber daya yang besar, (c) food estate merupakan konsep agribisnis dengan menerapkan monokultur dimana berdampak pada pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, dan (d) konsep food estate tidak sesuai dengan reforma agrarian karena konsep ini belum mencerminkan restrukturisasi penguasaan dan pengelolaan lahan bagi rakyat15. Mengacu pada hal tersebut, akan lebih baik apabila kegagalan di masa lalu dijadikan pembelajaran untuk pengembangan pertanian yang digunakan sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan saat ini dan masa yang akan datang.

Berdasarkan permasalahan dan tantangan yang dihadapi Indonesia terkait masalah pangan, maka perlu adanya aksi dan diversifikasi pangan dengan metode-metode di luar dari pola business as usual yang dianggap dapat meningkatkan kemandirian pangan pada level akar rumput dan setidaknya dapat mengurangi tekanan pangan Indonesia. Salah satu metode yang dapat diterapkan oleh setiap individu maupun rumah tangga baik di perkotaan maupun di perdesaan adalah urban farming. Walaupun metode urban farming dengan beberapa teknik yang masih dianggap memerlukan modal yang cukup besar, masih terdapat alternatif yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan peralatan bekas pakai seperti botol bekas, paralon atau pipa bekas, dan seterusnya. Opsi-opsi inilah menambah keleluasaan pembudidayaan pertanian ini serta tidak terbatas terhadap besaran ruang dan lahan.

Menurut Litbang Pertanian, urban farming atau pertanian perkotaan merupakan suatu kegiatan yang memanfaatkan baik lahan maupun ruang untuk memproduksi hasil pertanian di wilayah perkotaan yang mana dapat dikembangkan dengan teknik Vertikultur, Hidroponik, Aquaponik, Vertiminaponik, dan wall gardening. Kemudian, alasan mengapa urban farming diperlukan karena kondisi pangan dunia menghadapi tantangan besar. Dilansir dari indonesiabaik.id, kondisi perkotaan dunia saat ini (a) mencapai jumlah kebutuhan pangan 6.600 ton per hari, (b) penduduk pengahasilan rendah di perkotaan menghabiskan 40-60% pendapatan setiap tahun untuk makanan, (c) 50% penduduk dunia tinggal di perkotaan. Pertanian dengan lahan sempit perkotaan diekspektasikan dapat menjadi solusi permasalahan pangan akibat dari turunnya jumlah petani, urbanisasi, dan keterbatasan lahan (Kompas, 2017).

Mengangkat permasalahan pangan, Tim Transformasi berkesempatan untuk mengunjungi kediaman Bapak Sarwono Kusumaatmaja pada bulan Juli 2020. Tak hanya diskusi, Bapak Sarwono memberikan kesempatan untuk melihat praktik urban farming yang sedang dibudidayakan beliau menggunakan teknik aquaponic dan hydroponic. Penerapan urban farming sendiri dilakukan beliau sebagai bentuk kepedulian terhadap isu pangan dan memberikan contoh terhadap lingkungan sekitar. Hal ini terlihat dari penempatan tanaman hidroponik yang diletakkan diluar pagar rumah sehingga dapat dengan mudah dilihat oleh warga sekitar.

Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Sarwono Kusumaatmaja bahwa “konsep urban farming ini menghilangkan dikotomi rural dan urban dalam pertanian karena urban farming yang dilakukan di daerah perkotaan juga dapat dilakukan di daerah pedesaan. Individu skala rumah tangga dalam konteks implementasi urban farming ini adalah mereka menjadi produser dan consumer sekaligus yang berarti bahwa hasil dari pertanian tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.”  Dalam perkembangannya, urban farming selain dapat memenuhi kebutuhan juga menjadi sebuah diversifikasi untuk meningkatkan nilai dan pendapatan ekonomi apabila dilakukan secara massif serta terorganisir. Diharapkan dengan cara ini dapat terbentuk kemandirian pangan dan menekan ketergantungan terhadap pasokan pangan yang rentan terhadap kondisi ketidakpastian.-(afdh)-


Tahar Muhammad Natsir Tahar.2017.Teori Angsa Hitam.online: https://www.mntahar.my.id/2017/03/teori-angsa-hitam.html
Hincks Joseph.2020.The World Headed for a Food Security Crisis. Here’s How We Can Avert It.Time: https://time.com/5216532/global-food-security-richard-deverell/
(1) https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51959113, (2)https://carapandang.com/read-news/pandemi-abad-1819,
FSIN.2019.2019 Global Report on Food Crises.Food Security Information Network: https://docs.wfp.org/api/documents/WFP-0000104036/download/?_ga=2.100966082.2130681385.1594614989-506245048.1594284316
FSIN (Food Security Information Network).2020.2020 Global Report in Food Crisis.online: https://www.fsinplatform.org/report/global-report-food-crises-2020/
Flavelle Christopher.2019.Climate Change Threatens the World’s Food Supply, United Nations Warns.The New York Times: https://www.nytimes.com/2019/08/08/climate/climate-change-food-supply.html
FSIN.2019.Key Messages 2019 Global Report on Food Crises.Food Security Information Network: https://docs.wfp.org/api/documents/WFP-0000104037/download/?_ga=2.100120541.2130681385.1594614989-506245048.1594284316
Dw.2020.Rising Hunger Threatens Famines as Coronavirus crashes Economic, leaves Crops to rot in fields.online: https://www.dw.com/en/rising-hunger-threatens-famines-as-coronavirus-crashes-economies-leaves-crops-to-rot-in-fields/a-53686031
Sandi Ferry.2020.Panik! Negara-Negara Lain Amankan Diri dari Krisis Pangan.CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20200624093402-4-167565/panik-negara-negara-lain-amankan-diri-dari-krisis-pangan
10 Timorria Iik Fathimah.2020.India Lockdown, Bagaimana Nasib Pangan yang Diimpor Indonesia?.online: https://ekonomi.bisnis.com/read/20200326/12/1218443/india-lockdown-bagaimana-nasib-pangan-yang-diimpor-indonesia
11 https://www.mongabay.co.id/2020/07/14/food-estate-melaju-walhi-kalteng-jangan-buka-lahan-baru/
12 Redaksi.2014.Food Estate: Pembangunan Pertanian yang Salah Arah.online: https://binadesa.org/food-estate-pembangunan-pertanian-yang-salah-arah/
13 Wijaya Taufik.2020.Cetak Sawah Baru: Jangan Lagi Gambut Hancur seperti Proyek Satu Juta Hektar.online: https://www.mongabay.co.id/2020/05/04/cetak-sawah-baru-jangan-lagi-gambut-hancur-seperti-proyek-satu-juta-hektar/
14 Ridhoi Muhammad Ahsan.2020.Mengenal Program Food Estate Pemerintah dan Kritiknya.Katadata: https://katadata.co.id/muhammadridhoi/berita/5ef468ee985b8/mengenal-program-food-estate-pemerintah-dan-kritiknya
15 Redaksi.2014.Food Estate: Pembangunan Pertanian yang Salah Arah.online: https://binadesa.org/food-estate-pembangunan-pertanian-yang-salah-arah/