pontianakpost.co.id
pontianakpost.co.id
Persoalan anjloknya harga dan langkanya ikan laut di Kalimantan Barat kerap dihubungkan tidak adanya teknologi kotak pendingin di kapal-kapal nelayan lokal. Mencari solusi atas hal itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, saat ini tengah mengembangkan mesin pendingin atau cold storage.

Hebatnya mesin ini memanfaatkan energi baru terbarukan berupa sinar matahari, sehingga nelayan tak perlu membeli BBM lagi. “Konsep mesin pendingin yang akan kita kembangkan sangat sederhana yakni untuk sumber listriknya dari solar panel,” ujar Ketua LPPM Untan, Prof Dr M Ismail Yusuf yang juga sebagai perancang mesin pendingin tersebut, kemarin (15/11).

Ismail mengatakan untuk saat ini mesin tersebut sedang dalam tahap pengembangan.. Setelah jadi menurutnya baru akan diuji dahulu di laboratorium sebelum diuji coba di lapangan. “Saat ini dalam tahap pembuatan bodi mesin dan panel suryanya. Target kita tahun 2016 sudah selesai semua dan bisa diuji coba oleh nelayan,” tuturnya.

Menurut dia, hadirnya mesin pendingin dengan solar panel tersebut dalam rangka menjawab sejumlah persoalan nelayan di Kalbar. dia mencontohkan khususnya bagi nelayan yang berada di pulau atau terpencil.

“Seperti di nelayan Pulau Nyamuk Kubu Raya. Mereka saat ini jika habis menangkap ikan harus dibawa ke Kubu dan itu jauh. Ikan harus diantar jika tidak ingin busuk. Namun harapan kita mereka yang tidak memiliki listrik di pulau tersebut dan dengan adanya mesin kita ini bisa menjawab,” katanya.

Dia menambahkan dengan mesin pendingin juga bagaimana produktivitas dan efisiensi nelayan akan ada. Selanjutnya harga kompetitif karena ikan mereka baik. “Saat ini apakah hujan atau gelombang mereka harus mengantar ikan ke penampungan yang ada pendingin. Harapan kita lagi hadirnya mesin kita ini bisa membantu nelayan,” kata dia.

Pihaknya sendiri terus melakukan sejumlah penelitian dan kembangkan dalam hal pemanfaatan energi terbarukan untuk memjawab sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat. “Sebagaimana arahan dan dorongan Rektor Untan kepada civitas akademika termasuk saya untuk mengembangkan energi terbarukan di Kalbar,” ucapnya.

Ismail mencontohkan dalam beberapa hari waktu lalu dia bersama mahasiawa telah membuat Perahu Listrik Untan (PLU) dengan tenaga surya. Menurutnya itu merupakan untuk pertama kalinya di Indonesia pemanfaatan tenaga surya untuk transportasi air. “Rektor juga sudah mendukung untuk memproduksi PLU lagi untuk dihibahkan kepada masyarakat kepulauan yang sulit bahan bakar dari fosil,” katanya.

Dia menambahkan dalam waktu dekat pihaknya akan membuat kendaraan baik sepeda motor listrik dan mobil listrik untuk digunakan di lingkungan Untan. “Apa yang kita buat yang tentu yang mudah kiya aplikasikannya,” terangnya.

Disinggung soal sumber energi paling potensial di Kalbar dan dapat digunakan dalam skala besar serta melihat potensi alam yang mendukung di daerah ini, Ismail mengatakan adalah dengan memanfaatkan uranium atau nuklir. “ Namun ini akan sulit diterapkan karena berkaitan banyak kepentingan,” pungkasnya.

pontianakpost.co.id