image: suara pembaruan
image: suara pembaruan
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta agar investasi yang akan dilakukan Denmark dan Norwegia diarahkan ke Indonesia timur. Pemerintah Indonesia telah membuka peluang investasi asing, tidak hanya untuk industri dan pengelolaan hasil laut, tetapi juga untuk konektivitas, seperti pelabuhan dan bandara.

"Semua kami buka lebar. Dengan investasi ini, kesenjangan yang ada di Indonesia timur akan hilang. Harga-harga akan turun," kata Susi saat membuka forum kerja sama antara Indonesia dengan Denmark dan Norwegia di bidang kelautan dan perikanan, di Jakarta, Senin (28/11).

Acara tersebut diikuti oleh 33 investor dari Denmark dan Norwegia. Menurut Susi, sektor kemaritiman menjadi salah satu tujuan prioritas pembangunan pemerintah saat ini. Investasi asing yang dilakukan di Indonesia akan sangat menguntungkan karena potensi hasil lautnya sangat besar.

Kontribusi sektor perikanan terhadap produk domestik bruto yang semula hanya 6 persen sekarang menjadi 8,3 persen, dan diharapkan bisa menjadi 8,9 persen pada akhir bulan ini. Tahun depan diharapkan kontribusinya meningkat menjadi 9 persen dan pada 2018 meningkat menjadi 10 persen.

Investasi asing bisa dilakukan dengan membuka pabrik pengelolaan hasil laut yang kemudian produknya dijual di pasar domestik atau di pasar global. Untuk pasar domestik, Pemerintah Indonesia saat ini se-dang mengampanyekan konsumsi ikan lebih banyak. Saat ini, konsumsi ikan penduduk Indonesia baru mencapai 46 kilogram per kapita per tahun. Pemerintah ingin meningkatkannya menjadi 51 kilogram per kapita per tahun.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan keinginannya mengajak Denmark dan Norwegia untuk membangun Selat Malaka di bidang navigasi. Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge mengatakan, Denmark mempunyai teknologi dan sistem yang telah dikembangkan untuk kemaritiman.

"Populasi Denmark mungkin hanya 0,1 persen dari penduduk dunia, tetapi pelayaran kami membawa 10 persen dari kargo dunia," kata Klynge.

Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik mengatakan, Norwegia memiliki teknologi kelautan sejak lama. "Di tengah ekonomi dunia yang lesu, kami ingin bekerja sama dengan Indonesia untuk mengembangkan kelautan. Kami ingin kapal bisa berlayar lebih cepat dan lebih jauh," ujar Traavik.

Rumput laut

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing KKP Nilanto Perbowo mengemukakan, pemerintah dalam waktu dekat akan menerbitkan peraturan presiden tentang peta jalan pengembangan dan pembangunan industri rumput laut nasional.

"Mulai dari hulu-hilir akan ditangani. Ke depan, rumput laut tidak hanya untuk bahan pangan, tetapi juga menjadi bahan baku energi, seperti pupuk," ujarnya.

Kebangkitan industri hilir rumput laut dinilai strategis di tengah ancaman pasar rumput laut ke Amerika Serikat. Ancaman itu muncul setelah mencuatnya rencana dikeluarkannya rumput laut dari pangan organik menyusul pernyataan lembaga swadaya masyarakat Cornucopia Institute AS pada Maret 2013.

(ARN/LKT)

Kompas