kapal
kapal

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan dan TNI AL kemarin secara serentak menenggelamkan 19 kapal di tiga daerah. Kementerian Kelautan menenggelamkan 19 kapal di perairan Pontianak, Kalimantan Barat; perairan Bitung, Sulawesi Utara; perairan Belawan, Sumatera Utara; dan perairan Idi, Aceh. Sedangkan TNI AL menenggelamkan 22 kapal di Ranai, Kepulauan Riau.

"Jadi kemarin total ada 41 kapal yang ditenggelamkan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam keterangan pers, kemarin. 

Menurut Susi, penenggelaman itu dilakukan dengan menggunakan dinamit daya ledak rendah sehingga kondisi kapal tetap terjaga dan dapat berfungsi menjadi rumpon di lokasi penenggelaman. Diharapkan kapal-kapal yang ditenggelamkan menjadi habitat baru bagi ikan-ikan di perairan tersebut. "Jadi tetap berkontribusi untuk nelayan," katanya. 

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Asep Burhanudin, mengatakan selama 2015 ada sekitar 50 kapal yang telah ditenggelamkan oleh TNI AL, KKP, dan Polisi Air. "Sementara itu, hingga kini 49 kapal tangkapan KKP masih menunggu proses hukum," ujarnya saat memimpin penenggelaman di Bitung, kemarin.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sektor perikanan pada kuartal I 2015 (YoY) tumbuh sebesar 8,64 persen. Sedangkan pada periode yang sama pada 2014, tercatat pertumbuhan sebesar 7,46 persen. 

Menteri Susi mengatakan peningkatan pendapatan domestik bruto (PDB) sektor perikanan itu disumbang dari pemberantasan illegal fishing. Aturan moratorium eks kapal asing yang diberlakukan sejak 3 November 2014, larangan bongkar muat di laut, serta larangan penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan dinilainya telah membawa hasil. 

Dampak positif lainnya, kata Susi, yakni dapat menekan impor BBM yang turun hingga 30 persen. "Menteri ESDM saat rapat kabinet bilang impor BBM turun 30 persen," ujar Susi. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena kapal-kapal ilegal yang mencuri ikan di perairan Indonesia telah berkurang akibat moratorium. "Bukan karena tidak dipakai, tapi karena hilangnya ribuan kapal asing yang selama ini mencuri ikan dengan memakai bbm Indonesia," ujar Susi.

Sayangnya, ekspor perikanan pada kuartal I 2015 ini malah menurun. Pada periode waktu tersebut, volume ekspor perikanan turun 16,5 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan nilai ekspor perikanan turun 9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP Saut Hutagalung mengatakan penurunan tersebut merupakan pola tiap tahun yang terjadi pada kuartal I. Hal ini terjadi karena rendahnya produksi ikan karena memang bukan musim tangkapan. "Secara umum memang terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya, khususnya kuartal terakhir biasanya turun," ujarnya.

Selain itu, ujar Saut, proses analisis dan verifikasi kapal eks asing membuat produk perikanan yang tersimpan di cold storage tertahan dan belum dapat diekspor. Saut meyakinkan, setelah proses tersebut berakhir, kapal-kapal perikanan yang tidak bermasalah dapat kembali beroperasi dengan normal. "Sehingga ekspor akan dapat meningkat lagi." RACHMA TRI WIDURI | DEVY ERNIS

Sumber: tempo.co