ITS bisnis.com
ITS bisnis.com
Apa yang Anda bayangkan saat mendengar tentang ‘kota masa depan’? Mungkin sebagian orang akan langsung mengimajinasikan sebuah kota yang sangat sophisticated, modern, dan canggih sebagaimana banyak dijewantahkan pada film-film science fiction.

Namun, bagi para arsitek muda Indonesia, kota masa depan tidak selalu muluk-muluk seperti yang digambarkan di film-film Hollywood. Bagi mereka, kota masa depan adalah kota yang mampu menjawab berbagai tantangan utama yang dihadapi oleh masyarakat saat ini.

Para arsitektur muda dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Prancis menampilkan visi mereka tentang desain kota masa depan dalam bentuk dodecahedron(pentagon bersisi 12).

Karya yang mengantongi penghargaan dari Pemerintah Prancis tersebut diklaim sebagai desain tata kota yang mampu menjawab tantangan perubahan pengelolaan energi dan ekologi, penyediaan perumahan rakyat, serta kebijakan perancangan kota.

Mewakili Indonesia, karya tersebut ditampilkan oleh para mahasiswa jurusan Arsitektur dan Perencanaan Kota dari ITS untuk menanggapi karya para profesional muda Prancis. Karya tersebut sekaligus mencoba menawarkan solusi bagi problema kota-kota besar di Indonesia.

Salah satu konsep kota modern yang ditawarkan adalah bagaimana membangun kampung yang rendah risiko kebakaran. Apalagi, kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi memberi kontribusi cukup signifikan terhadap kejadian kebakaran.

Di Indonesia, kebakaran menyumbang 15% dari total seluruh bencana, dan mayoritas terjadi di kota dengan penduduk padat seperti Jakarta dan Surabaya. Di Surabaya, misalnya, kebakaran sering terjadi di kawasan kota lama (urban heritage) seperti Nyamplungan.

Padahal, Nyamplungan merupakan kawasan cagar budaya yang harus dilindungi, karena memiliki nilai ekonomis dan historis yang sangat tinggi. Sayangnya, kesiapsiagaan masyarakat serta manajemen risiko kebakaran di kawasan tersebut sangat rendah.

Untuk mengatasinya, tim dari ITS menawarkan tiga solusi urban designyang berbasis pada peningkatancapacity building, respons darurat, dan tata kota. Capacity building dilakukan melalui pemetaan partisipatif agar masyarakat mampu berperan aktif dalam mengkaji dan memecahkan permasalahan di kampung mereka sendiri.

Sementara itu, respons darurat diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kebakaran. Hal itu dapat diterapkan melalui perumusan rute evakuasi kebakaran dan fasilitas-fasilitas darurat kebakaran yang mudah diakses.

“Untuk membangun ketahanan terhadap kebakaran, prinsip urban design penting diterapkan dalam penataan bangunan sehingga dapat menjaga nilai historis bangunan dan kawasan, serta nilai-nilai budaya di dalamnya,” kata perwakilan tim tersebut, Kesumaning Dyah Larasati.

Selain manajemen risiko kebakaran, desain kota masa depan lainnya ditawarkan dalam konsep manajemen iklim perkotaan guna mengatasi fenomena urban heat island (UHI). Apalagi, banyak kota di Indonesia yang mengalami fenomena cuaca panas ekstrim seperti itu.

Ide tersebut diusung oleh Evlina Noviyanti dan Rizki Cholik Zulkarnain. Mereka berpendapat konversi areal nonurban menjadi areal perkotaan adalah penyebab utama fenomena UHI. Rerata peningkatan suhu di kota besar Indonesia sejak 2001—2015 adalah 3 derajat celcius.

Cotoh kasus di Surabaya, distribusi temperatur tinggi (di atas 30 derajat celcius) menjangkau sekitar 19.523,61 hektare pada 2001. Saat ini, distribusinya telah melebar ke hampir seluruh sudut kota terbesar kedua di Indonesia itu.

“Perluasan areal panas di kota besar berbanding lurus dengan ekspansi areal urban, baik untuk perumahan maupun industri. Meningkatnya kepadatan bangunan juga memperparah kenaikan suhu permukaan,” jelas Evlina.

Di pusat-pusat kota, areal terpanas biasa terdeteksi pada pusat-pusat perbelanjaan dengan ruang bangunan padat. Padahal, areal hijau hanya mampu menurunkan suhu sekitar 1,13—1,76 derajat celcius. Adapun, sungai hanya menurunkan suhu 0,88—1,72 derajat celcius.

Untuk itu, menurut Evlina, fenomena UHI hanya bisa ditaklukkan dengan pembenahan formasi dan penataan fungsi kota yang baik. Formasi kota ditentukan oleh geometri, penggunaan bahan bangunan, serta seberapa banyak ruang terbuka hijau di dalamnya.

Sementara itu, fungsi kota dapat diatur melalui pengendalian penggunaan energi, air, dan ekses polusi. Sebab, suhu panas di kota-kota besar Indonesia lebih banyak dipicu faktor ketinggian gedung, debit air sungai, emisi CO2, aktivitas perdagangan, dan transportasi.

“Jadi, kota masa depan yang bebas cuaca panas ekstrim hanya bisa dicapai dengan pembangunan berkelanjutan. Salah satu solusinya adalah dengan mengonsepkan pembangunan yangcompact untuk menurunkan suhu udara,” jelasnya.

Gagasan-gagasan lain seputar kota masa depan yang ideal di Indonesia digambarkan dalam konsep pengelolaan desain perumahan melalui sistem modul, yang diklaim jauh lebih efisien dalam penggunaan ruang dan material bangunan.

Ada juga konsep hutan konservasi bakau di tengah kota, desain perumahan ramah lingkungan dari bahan alami; serta manajemen pengelolaan limbah melalui efisiensi material, desain modular, pengelolaan energi baru, dan penyesuaian iklim.

Proyek lainnya adalah manajemen penyediaan bahan pangan di kota-kota besar dalam konsep Agro Community Centre, konservasi energi lewat pemanfaatan lahan dan bangunan bekas, efisiensi transportasi melalui sistem penataan bangunan culster, serta manajemen tepi sungai dan air sungai.

Seluruh konsep tata kota masa depan tersebut merupakan bayangan generasi muda Indonesia tentang hunian dan areal urban yang modern dan mengakomodasi hajat hidup masyarakat perkotaan yang kian membeludak dari tahun ke tahun.

Bukan bayangan tentang mobil terbang, gedung pencakar langit, atau rel di atas awan yang mereka konsepkan, tetapi bagaimana memberikan ruang hidup yang nyaman dan solutif bagi problematika kaum urban di masa depan.

Bagaimanapun, kontribusi mereka patut diapresiasi sebagai wujud perhatian bagi masyarakat perkotaan padat di Tanah Air dengan segala permasalahannya. Bukan tidak mungkin kota modern yang ideal kelak adalah hasil buah pikiran dari anak bangsa sendiri.

AddThis Sharing Buttons
Editor : Mia Chitra Dinisari

bisnis.com