kontan.co.id
kontan.co.id
Badan Pusat statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pendapatan Indonesia yang diukur dengan menggunakan Gini Ratio pada Maret 2016 mengalami perbaikan menjadi sebesar 0,397.

Meski membaik, Gini Ratio perkotaan masih berada di atas rata-rata Gini Ratio nasional. Semakin besar angka Gini Ratio, semakin besar ketimpangan yang terjadi di suatu wilayah.

Pada Maret 2016, Gini Ratio perkotaan tercatat sebesar 0,410. Tapi, kondisi ini sudah membaik dibanding September 2015 dan Maret 2015 yang masing-masing sebesar 0,419 dan 0,428.

Sementara Gini Ratio perdesaan Maret 2016 tercatat 0,327, juga membaik dibanding September 2015 dan Maret 2015 masing-masing sebesar 0,329 dan 0,334.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, masih tingginya Gini Ratio untuk wilayah perkotaan lantaran lebih beragamnya pekerjaan masyarakat. "Kalau di desa, rata-rata sebagai petani," kata Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (19/8).

BPS juga mencatat, tujuh Provinsi yang Gini Ratio-nya berada di atas angka Gini Ratio Nasional. Beberapa wilayah dengan Gini Ratio tertinggi, yaitu Sulawesi Selatan sebesar 0,426, Yogyakarta 0,420, Gorontalo 0,419, Jawa Barat 0,413, dan DKI Jakarta 0,411, walaupun tingkat ketimpangannya mengalami perbaikan.

Kemudian, Sulawesi Tenggara sebesar 0,402 yang bahkan meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Lalu Jawa Timur yang sebesar 0,402.

Sementara itu, Provinsi dengan Gini Ratio terendah, yaitu Bangka Belitung yang sebesar 0,275.

Gini Ratio nasional 0,397 menunjukkan ketimpangan pendapatan nasional dalam tren menurun sejak September 2015 dan Maret 2015 yang sebesar 0,402 dan 0,408.

Secara internasional, koefisien Gini 0,4 dipandang sebagai batas berbahaya level ketidakmerataan atau ketimpangan di suatu wilayah.


Kontan