Sumber daya manusia (SDM) masih menjadi isu menarik untuk dibahas, lantaran kondisinya yang masih memperihatinkan. Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara dunia pendidikan yang ada di Indonesia dan kebutuhan industri, dalam hal ini otomotif.
Berita Lainnya: Tidak "Teriak-teriak", Mobil Esemka Pasti Jadi

Bukan hal yang mengherankan, banyak lulusan-lulusan sekolah kejuruan atau universitas, yang pekerjaannya tidak sesuai dengan jalur pendidikannya. Ini jadi masalah yang seharusnya ditangani, oleh para pemangku kepentingan.


“Problem di Indonesia ini, antara pendidikan dengan industri tidak matching. Sekitar 50 persen orang yang lulus sekolah tidak sesuai dengan pekerjaannya. Itu yang harus dikerjakan pemerintah saat ini, bagaimana mencocokkan antara dunia pendidikan dan industri,” ujar Bob Azam Direktur Administrasi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Rabu (3/8/2016).


Bob melanjutkan, kalau pemerintah diharapkan mau untuk menjalin komunikasi dengan industri dan bersama-sama menentukan arah kebijakan ke depan. Demi kemajuan SDM dalam negeri untuk mendukung kebutuhan industri, khususnya di dunia otomotif.
“Kalau saran kami tolong dengarkan industri, agar bisa cocok. Kita sekarang seolah-olah ada komunikasi, tapi dibandingkan dengan negara lain, komunikasi kita belum kongkret,” ujar Bob.


Dalam Kurikulum
Bob coba memperdalam pembahasan, di mana hasil dari komunikasi dan diskusi itu bisa tertuang dalam sebuah kurikulum. Sehingga SDM berkualitas dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri otomotif banyak tersedia.

“Pemerintah dan swasta seharusnya membahas, apa kompetensi yang 5-10 tahun lagi dibutuhkan dan man yang bakal kurang bermanfaat? Ini karena pendidikan tidak disiapkan untuk pekerjaan yang lampau tetapi pekerjaan yang akan datang,” ucap Bob.

Bob menceritakan, kalau di Singapura, lembaga pendidikan menghapus jurusan-jurusan yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh industri. Sederhanya, tidak ada lowongan pekerjaan untuk jurusan yang dianggap sudah tidak diperlukan. Bagaimana Indonesia?

Penulis : Ghulam Muhammad Nayazri

tribunnews.com