Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pe­me­rintah diminta berfokus menggarap sektor manufaktur. Saat ini kontribusi dari ekspor sektor pengolahan barang mentah menjadi barang jadi itu menurun sehingga perlu mendapat perhatian lebih.

Chief Economist PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menyatakan, pertumbuhan 5,18 persen pada kuartal kedua 2016 memang lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya. Bahkan melampaui ekspektasi konsensus.

Hanya, pertumbuhan itu lebih banyak di­sokong permintaan domestik. Ada kenaikan konsumsi di dalam negeri seiring dengan kebutuhan dan peningkatan daya beli. Sebaliknya, jika dilihat dari rasio ekspor terhadap produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan turun tipis menjadi 21,5 persen pada kuartal kedua 2016 jika dibandingkan dengan 22 persen pada periode sama 2015.

”Masih ada tantangan memperbaiki pertumbuhan, yaitu men­dorong industrialisasi,” ungkapnya Ahad (7/8).
Budi melihat pemerintah perlu melakukan revitalisasi pada bidang manufaktur sehingga rasio itu meningkat. Sebab, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan ekspor barang mentah seperti yang selama ini terjadi. ”Harus bergerak untuk mengekspor barang jadi yang mendukung industri,” tuturnya.

Karena itu, sektor swasta perlu dilibatkan secara aktif untuk membangun infrastrukturnya. Kekuatan pemerintah untuk membangun infrastruktur relatif terbatas. ”Pertumbuhan pada kuartal kedua ini bisa jadi merupakan dampak percepatan pengeluaran pemerintah pada sektor infrastruktur yang hasilnya mulai mendukung sektor produksi dan distribusi,” jelasnya.

Gencarnya pembangunan infrastruktur akan membuka akses lalu lintas pengiriman barang lebih baik dan efisien. Saat situasi itu terjadi, minat investor, terutama swasta, untuk berinvestasi di sektor manufaktur bisa lebih bergairah lagi. Walaupun risikonya pengeluaran pemerintah yang dipercepat untuk infrastruktur memerlukan dana cukup besar. Padahal, pengumpulan pajak baru mencapai 35 persen dari target sepanjang tahun. ”Tax amnesty menjadi salah satu program yang harus menjadi solusi agar pemerintah dapat melanjutkan pembangunan,” ujar Budi.

Di pasar saham Indonesia, kenaikan indeks saham sektor manufaktur menjadi indikator kurang bergairahnya industri pengolahan itu. Secara year to date sejak awal tahun sampai akhir pekan lalu, indeks sektor manufaktur menguat 20,51 persen atau sedikit di atas pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencapai 18,01 persen.

Momentum untuk membangun infrastruktur dalam memperkuat ekspor barang jadi cukup tepat saat ini. Menurut Head of Research PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada, tanda-tanda perbaikan ekonomi di beberapa negara maju sudah mulai terlihat. Perkiraan awal pelaku pasar terhadap data US nonfarm payrolls di Amerika Serikat (AS) periode Juli tumbuh 185 ribu dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,8 persen. Faktanya lebih dari itu. US nonfarm payrolls tumbuh 255 ribu.

Hal itu cukup menggembirakan terlihat dari reaksi di pasar saham AS yang pada akhir pekan lalu menguat cukup signifikan. Indeks Dow Jones Industrial melesat 1,04 persen, indeks Nasdaq menguat 1,00 persen, dan indeks S&P 500 menanjak 0,86 persen. Sejalan dengan itu, mayoritas bursa saham Eropa juga mencatatkan penguatan cukup signifikan.

Sebab, Bank of Europe (BoE) memangkas suku bunga 25 bps menjadi 0,25 persen. Dipangkasnya tingkat suku bunga dan penambahan stimulus menjadi 435 miliar Euro juga membawa kabar positif bagi pelaku pasar. Data tersebut cukup menjadi pendorong penguatan nilai tukar dolar AS (USD) terhadap seluruh mata uang dunia. ”Situasi itu pula yang membuat nilai tukar rupiah seolah tidak banyak terkena imbas data positif dari pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” tambahnya.

Reza memandang, meskipun harga komoditas seperti minyak dunia dan CPO sudah berbalik menguat, sentimen tersebut belum mampu memberikan dampak positif terhadap rupiah. Karena itu, perbaikan ekspor, terutama melalui barang jadi yang bernilai tambah tinggi, selain diharapkan menjaga pertumbuhan, akan berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah.(gen/c9/oki/jpg)

Source: riaupos