Miftahul Fauzi, mahasiswa semester VIII Jurusan Hubungan International (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Riau (Unri) mendapat dua penghargaan sekaligus dari pemerintah Korea Selatan, 7 Juli silam di Kota Daegu. Dua penghargaan tersebut yakni Outstanding Youth Award dan Water Award.

Fauzi memaparkan krisis air yang berpotensi besar menimbulkan konflik di dunia. Pemikiran inilah yang membuat Fuazi meraih penghargaan tersebut serta mendapat hadiah mengunjungi pusat pengelolaan air bersih di Jerman, September mendatang.

Penghargaan tersebut, kata Fauzi, merupakan program The 5th Asia Pacific Youth Parliament for Water (APYPW) yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Korea dan Korean Water Forum dan merupakan sebuah konferensi pemuda internasional di tingkat Asia Pasifik yang membicarakan tentang perubahan iklim, Sustainable Development Goals (SDG’s), dan isu-isu tentang air. Kegiatan ini disponsori oleh Kementrian Lingkungan Hidup Korea Selatan, Colorful Daegu, WILO Foundation, DGIST, K Water dan Korean Environment Corporation. APYPW bertujuan mengumpulkan ide-ide brilian dari masing-masing delegasi dan bertukar pikiran untuk mencari solusi dalam penyelesaian permasalahan seputar perubahan iklim, pencapaian SDG’s dan permasalahan-permasalahan terkait air, serta melakukan pertukaran kebudayaan, mendapatkan teman baru dan memperkaya keterampilan kepemimpinan serta teamwork.

Pada 2016, ada lebih dari 3.000 pendaftar dari negara-negara di Asia Pasifik. Setelah melalui seleksi administratif dan short essays, hanya 78 peserta dari 24 negara terpilih untuk menghadiri the 5th APYPW pada 4-7 Juli 2016 di Daegu, Korea Selatan tersebut. Untuk Indonesia, terpilih lima pemuda yaitu Miftahul Fauzi (Universitas Riau), Antasari Manalu (Universitas Sumatera Utara), Andi Syilviah (IPB), Adhi Haryono (IPB), dan Ade Brian Mustafa (IPB).

Selama kegiatan, peserta mendapatkan kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan pembicara-pembicara berskala internasional seperti Mr. Rae-Kwon Chung selaku mantan Sekretaris Jendral PBB bidang penasihat dalam hal perubahan iklim. Kami juga diberikan kesempatan untuk mengunjungi salah satu lahan hutan basah terbesar di Korea Selatan Upo Wetland.

Isu lingkungan seperti Climate Change Adaptation (Adaptasi Dengan Perubahan Iklim), Water Quality Conservation (Konservasi Kualitas Air), Ethics for Water (Etika Air), dan Sustainable Water Use (Penggunaan Air Berkelanjutan) menjadi perbincangan serius. "Berbekalkan pengetahuan yang saya peroleh terkait isu-isu kontemporer tentang perubahan iklim dan SDG’s dari jurusan Ilmu Hubungan Internasional yang saya tekuni serta pengalaman yang saya miliki terkait disaster risk reduction yang saya peroleh ketika saya menghadiri UNESCO International Conference on Disaster Risk Reduction di Padang pada 2012, saya pun memilih komisi yang membahas Climate Change Adaptation di komisi satu," papar Fauzi kepada Riau Pos.(kun)

riaupos.co