australiaplus.com
australiaplus.com
Survei yang dilakukan Climate Institute dengan melibatkan lebih dari 2000 warga Australia menunjukkan 77 persen responden percaya terjadinya perubahan iklim. Sementara 90 persen menyatakan Pemerintah Australia bertanggung jawab memimpin upaya mengatasi hal itu.

Riset ini menunjukkan kebanyakan warga Australia percaya pada bukti-bukti ilmiah perubahan iklim. Selain itu mereka juga percaya adanya peluang lapangan kerja dan investasi di sektor energi terbarukan.

CEO Climate Institute John Connor mengatakan para politisi dan kalangan bisnis seharus menerapkan informasi ini dalam melakukan perubahan segera.

"Saya kira hal ini menyiratkan sinyal penting ke politisi dan kalangan bisnis bahwa masyarakat Australia kini mendukung penuh aksi (penanganan perubahan iklim), serta memiliki harapan besar kepada politisi dan kalangan bisnis untuk segera melakukannya," ujar Connor.

Dia menambahkan, hasil survei tahun ini merupakan yang paling tinggi dalam 8 tahun, disebabkan karena publik bisa melihat langsung perubahan temperatur dan berbagai peristiwa terkait cuaca.
Menurut Connor, warga Australia mengharapkan Pemerintah Federal bergabung dengan masyarakat internasional dalam memimpin upaya mengatasi perubahan iklim.

"Kita juga melihat upaya-upaya internasional, AS dan China bekerja sama, namun yang penting orang melihat dan benar-benar bisa menyentuh serta merasakan dan menjajaki investasi energi bersih yang murah dan terjangkau, transpartasi yang bersih," katanya.

Riset ini juga menyoroti sumber energi yang difavoritkan dan menemukan hanya 3 persen responden mendukung energi batu bara. Sedangkan energi surya didukung oleh 59 persen responden.

"Saya kira kita menyaksikan kenaikan (dukungan) dari tingkat yang rendah di tahun 2012 dan kampanye negatif mengenai carbon price serta dukungan bagi perubahan iklim. Dan (dukungan bagi) energi terbarukan khususnya, sekuat sejak tahun 2008," jelasnya.

Hasil riset bernama Climate of the Nation 2016 didasarkan atas survei online Galaxy Research untuk responden usia di atas 18 tahun yang berasal dari perkotaan dan wilayah pedalaman Australia.
Lonjakan Tarif Listrik Australia Selatan
Survei ini dilakukan tak lama setelah gangguan dalam sistem pasokan listrik di Australia Selatan - dimana pembangkit listrik tenaga angin menghasilkan 40 persen kebutuhan listrik.

Pada 7 Juli, angin tidak bertiup, pembangkit listrik tenaga batu bara baru-baru ini ditutup dan interconnector yang menyediakan listrik dari negara bagian Victoria bila diperlukan sedang dalam pemeliharaan.

Harga eceran listrik melonjak dari $ 60/MWh menjadi $ 9000/MWh.

Direktur program energi Grattan Institute Tony Wood, yang meneliti kejadian tersebut mengatakan, "Australia Selatan menunjukkan bukan hanya lonjakan harga listrik, tapi kita melihat tahao awal penutupan beberapa pembangkit di sana dan hal itu berdampak pada masyarakat".
Wood mengatakan hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengembangkan kebijakan perubahan iklim dan energi bagi Australia.

"Australia Selatan adalah contoh bagus mengenai apa yang terjadi jika Anda lupa bahwa kita jadi bagian dari sistem (kelistrikan) nasional. Dan harus menjadi komitmen nyata untuk di satu sisi kebijakan perubahan iklim yang benar-benar bisa diterapkan, dan di sisi lain mendapatkan dukungan bipartisan dan menerapkan pendekatan nasional yang terkoordinasikan," katanya.

"Keduanya harus dilakukan untuk menyiapkan transisi yang kita butuhkan," tambah dia.
"Dan sementara itu, bahkan bisa ada resiko dan masuk ke situ dengan mata tertutup bukan hal yang bagus," tambah Wood lagi.

Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Australia Josh Frydenberg mengatakan pihaknya bekerja dengan negara-negara bagian untuk menyelaraskan kebijakan. Tapi dia setuju harga lonjakan tarif listrik di bulan Juli menunjukkan tantangan pasar energi dalam transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

"Kami menanggapi kejadian ini sangat serius," kata Menteri Frydenberg.

sumber: www.australiaplus.com