Perjelas Konsep Tol Laut Kamis, 29 Januari 2015 | 8:28 Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden Terpilih Joko Widodo didampingi Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk Bambang Triwibowo mengunjungi Proyek Pelabuhan Terminal Kalibaru di Tanjung Priok, Selasa (23/9). Joko Widodo menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau proses pembangunan dan perluasan pelabuhan khususnya Pelabuhan Kalibaru dalam kaitannya dengan rencana implementasi program Tol Laut. Foto: Investor Daily/ist Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden Terpilih Joko Widodo didampingi Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk Bambang Triwibowo mengunjungi Proyek Pelabuhan Terminal Kalibaru di Tanjung Priok, Selasa (23/9). Joko Widodo menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau proses pembangunan dan perluasan pelabuhan khususnya Pelabuhan Kalibaru dalam kaitannya dengan rencana implementasi program Tol Laut. Foto: Investor Daily/ist
Perjelas Konsep Tol Laut Kamis, 29 Januari 2015 | 8:28 Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden Terpilih Joko Widodo didampingi Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk Bambang Triwibowo mengunjungi Proyek Pelabuhan Terminal Kalibaru di Tanjung Priok, Selasa (23/9). Joko Widodo menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau proses pembangunan dan perluasan pelabuhan khususnya Pelabuhan Kalibaru dalam kaitannya dengan rencana implementasi program Tol Laut. Foto: Investor Daily/ist Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden Terpilih Joko Widodo didampingi Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk Bambang Triwibowo mengunjungi Proyek Pelabuhan Terminal Kalibaru di Tanjung Priok, Selasa (23/9). Joko Widodo menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau proses pembangunan dan perluasan pelabuhan khususnya Pelabuhan Kalibaru dalam kaitannya dengan rencana implementasi program Tol Laut. Foto: Investor Daily/ist
Pemerintah hingga kini belum menjabarkan secara resmi tentang konsep tol laut ke dalam program kerja yang rinci. Penjelasan mengenai arah dan implementasi gagasan yang pertama kali diperkenalkan Joko Widodo (Jokowi) saat kampanye pilpres tahun lalu itu sangat ditunggu masyarakat. Pemahaman masyarakat tentang konsep tol laut belum utuh.

Sejauh ini, publik hanya mendapatkan penjelasan secara verbal dari Presiden Jokowi maupun dari para pembantunya. Dari informasi yang beredar, konsep tol laut bukanlah jalan tol di atas laut seperti yang telah ada di Bali. Gagasan tol laut yang diusung Jokowi itu mengacu pada kondisi wilayah Indonesia yang dua pertiganya adalah lautan dan selama ini kurang diperhatikan. Dengan mewujudkan konsep tol laut, kapal-kapal besar akan terus berlayar dari ujung barat sampai timur sehingga memudahkan transportasi barang, jasa, dan orang ke seluruh wilayah Indonesia.

Tol laut akan didukung kapal-kapal besar yang lalu lalang di seluruh perairan Indonesia. Nantinya, pelabuhan besar itu akan didukung kapal berukuran kecil untuk menjangkau wilayah yang tidak terjamah kapal besar. Rute kapal dalam konsep tol laut tersebut meliputi Aceh, Jakarta, Surabaya, Nusa Tenggara, Maluku sampai Papua. Jalur tersebut akan menjadi rute utama, sedangkan distribusi ke kepulauan lain menggunakan kapal-kapal lebih kecil dibanding dengan armada di jalur utama.

Bila kapal yang melintas di jalur utama tersebut rutin berlayar maka harga barang di Papua, misalnya, tidak akan selisih banyak dibanding di Jawa.

Untuk mendukung konsep tol laut, sesuai draf rencana yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), akan dibangun 24 pelabuhan strategis. Pelabuhan sebanyak itu terbagi atas pelabuhan yang menjadi hubungan internasional, pelabuhan utama, dan pelabuhan pengumpul. Dari 24 pelabuhan itu ada dua yang hubungan internasional, yaitu Kuala Tanjung dan Bitung yang akan menjadi ruang tamu bagi kapal-kapal asing dari berbagai negara. Juga disiapkan lima pelabuhan utama yang dapat dilalui kapal-kapal besar berbobot 3.000 hingga 10 ribu TEUS, yakni Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong.

Selain pelabuhan, juga akan dibangun transportasi multimoda serta infrastruktur penunjang tol laut. Sementara di sektor darat, konsep tol laut akan dipadukan dengan jaringan rel kereta api di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Jika ditotal, menurut hitungan kasar, dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan tol laut sekitar Rp 700 triliun. Angka sebesar itu sudah termasuk investasi pengadaan kapal sektar Rp 100-150 triliun dan investasi untuk membangun pelabuhan terintegrasi lengkap dengan pembangkit listrik dan sebagainya sekitar Rp 70 triliun.

Konsep tol laut memang cocok bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan dan memiliki 17.500 pulau besar dan kecil. Namun, mewujudkan konsep tol laut tidak semata membangun pelabuhan, tapi juga harus dibarengi pembenahan sistem transportasi laut nasional secara menyeluruh. Bila hanya membangun pelabuhan, tanpa membenahi sistem transportasi yang ada, maka sistem tol laut yang dicanangkan Presiden Jokowi akan sulit terealisasi.

Implementasi tol laut harus didukung pula oleh peningkatan kapasitas dan produktivitas pelabuhan-pelabuhan yang ada untuk mempercepat arus barang keluar-masuk pelabuhan. Rendahnya produktivitas pelabuhan di Indonesia bisa dilihat dari lamanya waktu bongkar muat barang (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Priok yang tahun lalu mencapai 5,2 hari atau lebih lama dari dwelling time di pelabuhan Malaysia dan Singapura.

Hal lain yang perlu juga dilakukan terkait tol laut adalah pengelolaan pelabuhan yang selama ini dikeluhkan para pelaku usaha. Selain proses bongkar muat yang lama, tarif yang ditawarkan tergolong mahal. Sebagai perbandingan, data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebutkan biaya pelabuhan atau yang sering disebut sebagai terminal handling charge (THC) di Indonesia untuk kontainer ukuran 20 kaki (TEUs) tercatat sebesar US$ 95 per TEUs, atau lebih mahal dibandingkan Pelabuhan Manila (Filipina) US$ 82 per TEUs, Pelabuhan Ho Chi Minh US$ 46 per TEUs dan Chitagong (Vietnam) US$ 49 per TEUs, serta Pelabuhan Bangkok dan Laem Cha Bang (Thailand) US$ 60 per TEUs dan US$ 53 per TEUS. Indonesia harus mengedepankan tranportasi laut dibandingkan transportasi darat dan kereta api. Konsep infrastruktur yangt masih bertumpu pada transportasi darat dan kereta api harus digantikan oleh transportasi laut.

Sarana angkutan laut harus diperbanyak agar masalah logistik bisa cepat diselesaikan. Apalagi angkutan laut memiliki keunggulan lebih murah 10 kali lipat dari angkutan darat. Namun, untuk menuju ke sana, mindset orang ndonesia yang masih bertumpu pada transportasi darat harus diubah.

Sumber: beritasatu.com