Para pencari kerja melakukan pendaftaran dan asesmen minat kerja sebelum mengikuti acara bursa kerja. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/SINERGI)

Surakarta, 4 Desember 2019— Dalam rangka Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember, Program Penguatan Koordinasi untuk Pembangunan Ketenagakerjaan Inklusif Indonesia (SINERGI) menyelenggarakan bursa kerja inklusif pada 4-5 Desember 2019 di Gedung Graha Wisata Niaga, Surakarta, Jawa Tengah (Jateng).

Bursa kerja ini merupakan salah satu bentuk kontribusi SINERGI dalam mengurangi tingkat pengangguran terbuka di Jateng, khususnya bagi generasi muda kurang mampu dan rentan, termasuk penyandang disabilitas, kelompok marginal, dan perempuan. SINERGI merupakan bagian dari program USAID Mitra Kunci, yang dilaksanakan oleh konsorsium Rajawali Foundation dan Pusat Transformasi Kebijakan Publik (Transformasi) untuk mengembangkan ketenagakerjaan inklusif di Jateng.

Project Director SINERGI, Agung Binantoro, Rabu (4/12), mengungkapkan, bursa kerja inklusif bertajuk “SINERGI Youth Career Fest 2019” ini mengikutsertakan pencari kerja dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial, dan kondisi ekonomi, yang membutuhkan akses informasi, pelatihan kesiapan kerja, dan lowongan pekerjaan.

“Bursa kerja inklusif di Solo Raya ini gratis dan terbuka untuk umum,” uar Agung.

Materi acara dalam bursa kerja tersebut, lanjut dia, tak hanya berisi pembukaan lowongan dan wawancara kerja di perusahaan-perusahaan yang hadir. Akan dilaksanakan pula kegiatan-kegiatan lain yang mendukung kesiapan pencari kerja memasuki dunia kerja, di antaranya penilaian bakat dan minat, dialog interaktif kesiapan kerja ketenagakerjaan inklusif, dan kelas edukasi kesiapan kerja, di samping acara hiburan serta bazaar makanan.

Tantangan ketenagakerjaan
Menurut Agung, bursa kerja inklusif sangat strategis untuk dilaksanakan, khususnya terkait sejumlah tantangan di sektor ketenagakerjaan yang masih dihadapi Jateng. Tantangan-tantangan tersebut di antaranya: masih adanya 10,85 persen pengangguran terbuka di Jateng yang berasal dari lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK); sekitar 810.000 anak muda kurang mampu, rentan, dan marginal, yang menganggur; 70,3 persen anak muda di Jateng peserta pelatihan kerja ternyata belum siap kerja; 90 persen anak muda tidak memiliki soft skills (keterampilan insaniah) kesiapan kerja.

“Padahal, lowongan kerja banyak di Jateng. Tapi, perusahaan padat karya kesulitan mendapatkan tenaga kerja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, sambung Agung, SINERGI menjalankan program ketenagakerjaan inklusif untuk anak muda kurang mampu dan rentan di Jateng, seperti melalui pelatihan keterampilan kerja baik hard skills (keterampilan teknis) maupun soft skills, pemagangan, mengembangkan keterampilan berwirausaha, serta bursa kerja inklusif ini.

“Harapan kami, pada akhirnya ini akan membantu mengurangi pengangguran di Jateng. Hal ini juga selaras dengan salah satu tujuan dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu kerja layak,” lanjutnya.

Sejak Juli 2019, SINERGI memasuki fase kedua. Tujuan SINERGI pada fase ini adalah memberi akses informasi kerja bagi 16.000 anak muda kurang mampu dan rentan. Pada fase ini, SINERGI menggunakan platform Rencanamu.id dalam menilai bakat dan minat anak muda secara daring (online). Melalui online platform ini, dapat dilaksanakan proses registrasi, serta penilaian perilaku dan kepribadian terkait pekerjaan tertentu dari 16.000 pemuda kurang mampu dan rentan yang menjadi target. Selanjutnya, dari 4.000 anak muda kurang mampu dan rentan yang dinilai, akan diseleksi kembali. Mereka yang lolos dapat mengikuti program kesiapan kerja, pelatihan, dan pemagangan dengan perusahaan yang sesuai dengan hasil penilaian.

“Kami mengharapkan 2.000 pemuda akan lulus dari program ini dan memperoleh pekerjaan baru atau lebih baik,” imbuh Agung.

Sementara itu, Project Leader SINERGI, Bambang Wicaksono, mengatakan, bursa kerja inklusif di Solo Raya ini akan diikuti kurang lebih seratus perusahaan dari berbagai bidang usaha, seperti perbankan dan keuangan, ritel, teknologi komunikasi, dan manufaktur. Perusahaan-perusahaan tersebut membuka diri dan memberi peluang pekerjaan untuk penyandang disabilitas, serta mengedepankan prinsip ramah gender. Ada pula komunitas-komunitas penyandang disabilitas yang dapat memberikan akses informasi terkait kesiapan kerja dan wirausaha.

“Selain itu, juga akan ada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan kelompok usaha bersama (KUBE), yang bermitra dengan komunitas penyandang disabilitas,” imbuh Bambang.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan paparan motivasi kesiapan kerja kepada kaum muda yang hadir di acara bursa kerja. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/SINERGI)

Dia menambahkan, Festival Kaum Muda 2019, termasuk di dalamnya bursa kerja inklusif, merupakan media yang ditempuh SINERGI untuk memperkuat akses generasi muda, terutama yang rentan dan kurang mampu, ke pasar tenaga kerja. Tidak hanya itu, melalui kegiatan ini, anak muda akan memiliki referensi dan bekal pengetahunyang baik untuk mengembangkan diri dan karirnya di masa depan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang hadir untuk berdialog dalam acara “Rembug Gayeng Bareng Mas Ganjar”, yang akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan festival ini. Kehadiran orang nomor satu di Jateng tersebut diharapkan semakin memotivasi kaum muda untuk mempersiapkan diri untuk memperoleh peluang bekerja tanpa mengenal kata menyerah untuk mewujudkan cita-cita mereka.