Publikasi

Simposium Kota Sekunder Cerdas 2015
Simposium Kota Sekunder Cerdas 2015
150 orang yang terdiri dari Walikota, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dirjen Otonomi Daerah, dan Pegawai Pemerintah dari 23 Kota Menghadiri CityNext Summit 2015

Jakarta, 29 September 2015 – Sebanyak 150 orang yang terdiri dari Walikota, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Direktur Jenderal Otonomi Daerah, dan pegawai pemerintah dari 23 kota di Indonesia menghadiri acara Simposium Kota Sekunder Pintar Indonesia 2015, atau lebih dikenal dengan CityNext Summit 2015. Acara yang turut dihadiri oleh pengembang-pengembang lokal ini diharapkan dapat menjadi ajang pertemuan pemerintah dengan pengembang, sehingga pengembang dapat terinspirasi untuk mengembangkan aplikasi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan kota dan negara. Penyelenggaraan CityNext Summit merupakan bagian dari program CityNext, sebuah inisiatif global Microsoft yang melibatkan pemerintah, pebisnis, dan masyarakat untuk menciptakan kota-kota yang semakin maju, kompetitif secara ekonomi, dan berkelanjutan dengan dukungan teknologi.

Fokus utama dalam acara ini adalah pembahasan studi “Menuju Kota-Kota Sekunder Pintar Melalui Pemetaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pelayanan Publik di 12 Kota di Indonesia”, yang merupakan hasil riset kerjasama antara Universitas Gadjah Mada, Lee Kwan Yew (LKW) School of Public Policy - National University of Singapore (NUS), serta Microsoft. Studi tersebut diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dalam setiap kota karena setiap kota memiliki tantangannya tersendiri untuk menjadi kota cerdas. Kecepatan pembangunan kota cerdas bergantung pada kerjasama kohesif dan kolektif antara pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, dan LSM.

Dedy Permadi Peneliti National University of Singapore dan Universitas Gadjah Mada mengatakan kota-kota sekunder di Indonesia, yaitu kota-kota dengan jumlah penduduk di atas 200.000 jiwa dan bukan merupakan kota satelit ataupun ibu kota negara, memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang menjadi kota cerdas. Jika dilakukan intervensi kebijakan yang tepat, kota-kota ini akan menjadi engine of growth dalam kurun waktu lima sampai lima belas tahun mendatang. Melalui studi yang dilakukan National University of Singapore dan Universitas Gadjah Mada) di 12 kota sekunder di Indonesia (Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Samarinda, Makassar, Denpasar, Ambon, serta Jayapura), ditemukan bahwa pemerintah di kota-kota tersebut telah secara aktif mengimplementasikan berbagai inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik masing-masing kota, dengan tingkat dan cara yang berbeda-beda.

Meski begitu Dedy menambahkan bahwa kedua belas kota sekunder di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup signifikan terkait dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Masalah terberat adalah kurangnya kesadaran akan manfaat TIK, disusul oleh keterbatasan anggaran, dan juga keterbatasan kapasitas birokrat.

Untuk mengatasi hal tersebut tim peneliti melihat bahwa sosok para pemimpin kota memiliki pengaruh yang signifikan untuk mendorong penerapan TIK dalam meningkatkan pelayanan publik di kota-kota di Indonesia, seperti Ridwan Kamil di Bandung, Risma di Surabaya, serta Danny Pamanto di Makassar. Selain itu, pembangunan infrastruktur dan kemitraan antara publik dan privat memiliki peranan yang penting untuk mendorong percepatan pembangunan kota-kota sekunder menjadi kota cerdas.”

Kertapradana Subagus Public Sector Director Microsoft Indonesia, mengatakan, dalam era mobile-first, cloud-first saat ini, Microsoft percaya bahwa teknologi hanyalah salah satu cara untuk mengembangkan kota menjadi kota cerdas. Yang lebih penting adalah kolaborasi aktif antara orang-orang yang tinggal di dalamny seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat terkait untuk mengimplementasikan teknologi tersebut secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui inisiatif CityNext ini, kami telah bekerja sama dengan pemerintah dari berbagai kota di dunia untuk menerapkan berbagai teknologi yang memungkinkan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan publiknya dalam berbagai aspek seperti pendidikan, layanan sosial dan kesehatan, administrasi pemerintahan, keamanan publik, perencanaan pembangunan, wisata dan budaya, energi dan air, serta sarana transportasi. Selain itu, dengan berbagai layanan teknologi kami seperti Windows, Office 365, dan Azure, kami berusaha untuk membantu masyarakat agar semakin produktif, baik dalam kehidupan personal maupun profesional mereka,” ungkap Dana.

Adapun beberapa kota di Indonesia yang telah bergerak untuk menjadi kota cerdas adalah Bandung dan Pekalongan. Ilham Habibie selaku Chairman Bandung Smart City dan Chairman Institute for Democratization through Science and Technology The Habibie Center mengatakan bahwa saat ini, Bandung telah memiliki Bandung Command Center dan Bandung Digital Valley untuk membantu mengelola layanan publik secara digital serta mendukung kewirausahaan berbasis teknologi. Penggunaan teknologi dapat betul-betul membantu pemerintah untuk mengembangkan kota serta warganya. Itulah alas an dibentuk Smart City Council yang bertanggung jawab untuk mengarahkan serta memantau pengembangan kota cerdas di Kota Bandung.

Serupa dengan Ilham, Walikota Pekalongan Basyir Ahmad mengatakan bahwa penggunaan teknologi dalam sistem tata kota akan mempermudah dan mendekatkan komunikasi antara pemerintah dengan warganya. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara maksimal dan bagaimana warga kota mau memahami dan berpartisipasi dalam sistem-sistem baru berbasis teknologi. Pekalongan sendiri sejak tahun 2008 telah menata infrastruktur pemerintahan dengan teknologi. Hasilnya tidak hanya membantu transparansi informasi publik, tetapi juga menghemat anggaran Pemerintah Kota Pekalongan.

Turut melengkapi, Dr. Wicaksono Sarosa Penasihat Bidang Pengembangan Perkotaan Transformasi mengatakan bahwa kota adalah cermin dari masyarakatnya. Kota cerdas punya hubungan timbal balik dengan masyarakatnya. Infrastruktur kota cerdas dapat turut mencerdaskan masyarakatnya, sebaliknya kota cerdas baru bisa terwujud jika masyarakatnya juga cerdas, termasuk dalam memilih teknologi maupun aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Acara CityNext Summit hari ini diikuti oleh para pemerintah lokal dari 23 kota yang meliputi Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Samarinda, Makassar, Denpasar, Ambon, Jayapura, Batam, Padang, Balikpapan, Banjarmasin, Manado, Lombok, Malang, Serang, Jakarta, Banda Aceh, dan Pekalongan. Informasi lebih lanjut mengenai Microsoft CityNext dapat ditemukan dihttp://www.microsoft.com/citynext.