Lapangan Pekerjaan

Isu ketenagakerjaan khususnya pengangguran masih menjadi salah satu misi pembangunan Provinsi Jawa Tengah sebagaimana tercantum pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018-2023. Secara spesifik isu ketenagakerjaan di Jawa Tengah terdiri dari masalah (1) ketimpangan antara pemenuhan tenaga kerja industri/perusahaan dengan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri; (2) tingginya turn-over tenaga kerja di sektor garmen atau industri padat karya lainnya; (3) tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di kabupaten/kota yang notabene merupakan daerah pusat atau kantong industri padat karya (labor intensive industries); dan (4) kondisi kesiapan kerja kaum muda.

  1. Ketimpangan pemenuhan tenaga kerja di industri/perusahaan di Jawa Tengah menjadi salah satu masalah yang masih dihadapi. Kondisi ini menarik yang mana pada umumnya isu ketenagakerjaan khususnya pengangguran berkaitan erat dengan kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan atau kesempatan kerja yang ada. Namun yang terjadi di Jawa Tengah adalah tingginya ketersediaan lowongan kerja pada sektor industri tinggi, tetapi industri tersebut kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja.

  2. Turnover merupakan salah satu sumber persistensi dari pengangguran dan penyebab kekosongan tenaga kerja di industri/perusahaan. Empat perusahaan garmen di Jawa Tengah yang tersebar di Kabupaten Boyolali, Sragen, Semarang, dan Demak mengalami turnover diatas dua persen atau sekitar 500 orang/bulan yang mempengaruhi produktivitas perusahaan. Sementara itu, tingginya turnover juga meningkatkan jumlah pengangguran dan membuat rantai permasalahan ketenagakerjaan tersebut tidak terselesaikan.

  3. Tingginya TPT pada daerah kantong industri khususnya industri padat karya (labor intensive industries) seperti Kawasan Industri Kendal (KIK) justru mengalami peningkatan TPT setiap tahunnya. Berdasarkan grafik, angka peningkatan dimulai pada tahun 2017 sebesar 4,93, 2018 sebesar 6,06, dan 2019 semakin tinggi mencapai 6,31. Hal yang sama terjadi di Kota Semarang sebagai pusat industri dan ibukota provinsi masih termasuk kedalam 10 besar TPT di Jawa Tengah.

  4. Pengangguran tertinggi di 2019 berada pada angkatan kerja dengan rentang umur 20-24 tahun sebanyak 259.134 orang dan 15-19 tahun sebanyak 209.064 orang dari total 819.355 orang9. Kaum muda juga mengalami masalah mental kesiapan kerja yang direpresentasikan dengan angka turnover yang memberikan sumbangan terhadap tingkat pengangguran dan dibuktikan dengan tingginya turnover lulusan SMA maupun SMK yang bekerja dibawah 3 bulan.

Berangkat dari berbagai permasalahan tersebut, Transformasi melakukan penelitian yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut: (a) apa faktor-faktor yang mempengaruhi kaum muda pencari kerja dalam pengambilan keputusan untuk bekerja; (b) bagaimana karakteristik kaum muda pencari kerja yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi (miskin) dan rentan; (c) bagaimana faktor/determinan geografis, sosial, budaya, & ekonomi mempengaruhi pengambilan keputusan kaum muda tersebut untuk memilih suatu jenis pekerjaan tertentu?. Metode penelitian ini menggunakan mixed method yaitu kuantitatif (uji Pearson Correlation dan Linear Regression) dan kualitatif (depth interview dengan informan kunci) di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Untuk lebih lengkapnya mengenai hasil penelitian “Memahami Karakteristik Kaum Muda Dalam Mengambil Keputusan Bekerja”, dapat diunduh di link berikut.