Perikanan dan Kelautan

remotivi.or.id
remotivi.or.id

Perubahan iklim masih merupakan fenomena alam yang sulit dipahami publik awam. Inovasi dibutuhkan untuk membuat berita-berita tentang perubahan iklim menjadi penting dan relevan.

 

National Geographic Indonesia mengangkat isu perubahan iklim dalam edisi November 2015. Menariknya, sampul muka majalah edisi tersebut tidak menggunakan foto sebagaimana biasanya. Sampul muka dibiarkan kosong dengan warna kuning dan tulisan “Maaf. tidak ada gambar indah untuk perubahan iklim.”

Berdasarkan penjelasan Pemimpin redaksi National Geographic Susan Goelberg dalam pengantar redaksi, isu perubahan iklim ini bukan topik mudah di tengah banyaknya orang yang menyangkal bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi. Karena itu, isu yang dibahas merentang dari apa yang bisa dilakukan oleh individu sampai pemerintah. Sampul mukanya pun dipilih dari puluhan calon sampul agar menarik pembaca.

Mengacu pada Mario Garcia, seorang pakar desain suratkabar, apa yang dilakukan oleh National Geographic dari sisi desain sampul semacam ini adalah bentuk inovasi media cetak. Di tengah menurunnya jumlah pembaca media cetak, dibutuhkan inovasi desain yang lebih menarik pembaca. Dari sisi isu, kombinasi antara desain yang menarik dan pembawaan yang lebih populer memungkinkan isu perubahan iklim lebih luas menjangkau pembaca.

Isu ini memang sudah berkembang lama. Ironisnya, menurut redaktur Nieman Lab Laura Hazard Owen, berita-berita mengenai pemanasan global di media seringkali sulit dipahami, sehingga membuat pembaca tidak menganggapnya sebagai hal yang mendesak untuk direspon. Hal ini terjadi karena peristiwa seperti pemanasan global adalah hal yang abstrak dan sulit dipahami sampai sebuah peristiwa tertentu—seperti banjir atau badai—terjadi karenanya.

Selain itu, media-media sering lebih melihat pada aspek politis seperti kebijakan pemerintah negara tertentu, alih-alih menyampaikan fakta apa yang sebenarnya terjadi. Atau, jika tidak, banyak berita membawa memunculkan ketakutan berlebih sehingga pesannya justru bisa tidak sampai ke pembaca. Padahal jika melihat kondisi perubahan cuaca yang terjadi di berbagai negara, sekarang adalah saatnya untuk mengambil langkah-langkah yang mendesak dilakukan.

Menurut Owen, isu perubahan iklim tidak mungkin mengikuti siklus penulis berita yang butuh aktualitas dan kecepatan, sehingga format berita yang standar akan sulit menggambarkan bahwa perubahan iklim dalam jangka panjang. Didasari dengan keresahan tersebut, salah seorang redaktur The Atlantic Robinson Meyer meluncurkan newsletter khusus tentang perubahan iklim yang ia namai “Not Doomed Yet” pada September 2015 lalu.

Newsletter ini ditujukan untuk para pembaca awam dan mereka yang ingin mengikuti perkembangan terbaru seputar perubahan iklim. Robinson Meyer berharap bahwa pembaca bisa mengikuti perubahan iklim dengan lebih sistematis. Di setiap artikel terbarunya, Meyer memunculkan bagian Macro Trends yang menunjukkan peningkatan kadar karbondioksida, potensi energi terbarukan, kebijakan terbaru di beberapa negara, dan lain sebagainya, sehingga bisa dipahami pembaca dengan mudah.

Dengan newsletter yang juga ditampilkan secara reguler di website The Atlantic ini Meyer ingin berpesan bahwa, “jika kamu khawatir terhadap suatu hal, kamu mesti memberikan perhatian secara reguler terhadap hal tersebut.” Selain menunjukkan masalah, beberapa artikel juga memberi pedoman tentang hal-hal apa yang mungkin dilakukan dalam menghadapi perubahan cuaca yang terjadi.

Sementara itu, jika melihat konteks di Indonesia di mana perubahan iklim menunjukkan berbagai dampaknya seperti musim kemarau yang panjang, efeknya ke pembakaran hutan, asap yang berkepanjangan, dan sebagainya, apa yang dilakukan oleh Meyer menarik untuk dicoba media. Ia penting untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa perubahan iklim adalah isu serius dan berpengaruh signifikan terhadap kehidupan kita. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

remotivi.or.id