Perikanan dan Kelautan

image by: mangrove.at
image by: mangrove.at
Delegasi Indonesia dalam perundingan perubahan iklim di Maroko siap membawa tema laut sebagai agenda sampingan dalam konferensi tahunan tersebut. Langkah itu untuk mendorong dan mengarusutamakan isu laut sebagai bagian dari mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

"Kami telah melakukan registrasi side event di Sekretariat UNFCCC. Indonesia mengangkat isu besar laut dan samudra," kata Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (20/9), di sela-sela memimpin rapat perdana persiapan Delegasi RI menuju Pertemuan COP-22 UNFCCC di Maroko, 7-18 November 2016.

Tema "Building Resilience for Climate Change Adaptation: Challenges and Progress for Archipelagic and Small Island Countries" itu akan dikoordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai koordinator dalam perundingan perubahan iklim. Isu itu dipilih karena Indonesia sebagai negara kepulauan, terdampak langsung perubahan iklim. Sementara KKP telah memiliki berbagai inventarisasi mitigasi dan adaptasi di lapangan.

Secara terpisah, Koordinator Kelompok Kerja Perubahan Iklim KKP Achmad Poernomo mengatakan, hingga kini, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dari sisi kelautan masih cenderung kurang diperhatikan. Fokusnya masih berada di daratan, terutama hutan dan gambut.

"Indonesia negara kepulauan yang masyarakatnya kebanyakan tinggal di pesisir akan terdampak kenaikan muka air laut," kata Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Kebijakan Publik tersebut.

Dikatakan Achmad, perubahan iklim yang juga ditandai dengan peningkatan suhu air laut menyebabkan kematian massal karang. Dalam laporan "Explaining Ocean Warming" yang dipaparkan dalam kongres International Union for Conservation of Nature (IUCN) minggu lalu, di Honolulu, Hawaii, menunjukkan, kerusakan laut membuat Asia Tenggara-termasuk Indonesia- menghadapi kekurangan stok perikanan.

"Terumbu karang menjadi ekosistem rentan terganggu akibat perubahan iklim. Ketika terjadi pemutihan karang, karang mati dan populasi ikan akan menurun sehingga sumber daya perikanan kita akan hilang," kata Achmad.

Di sisi lain, ekosistem pesisir, seperti mangrove, menyimpan cadangan karbon sangat tinggi. Dalam riset Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Cifor) dan Conservation International Indonesia, ditunjukkan cadangan karbon itu tersimpan beberapa meter di bawah tanah, berupa serasah yang mengendap.

"Di sisi adaptasi, Indonesia sudah memiliki banyak contoh dan program rehabilitasi mangrove, rehabilitasi terumbu karang, serta Desa Pesisir Tangguh," katanya. (ICH)


Kompas