Perikanan dan Kelautan

Oleh Yudhi Harsatriadi Sandyatma
Fenomena perubahan iklim dewasa ini telah menjadi isu strategis, baik di kancah global maupun nasional. Isu tersebut menjadi sebuah kekhawatiran dan kemudian diangkat menjadi kepentingan nasional karena dampak yang ditimbulkan cukup signifikan terhadap pertanian dan ketahanan pangan nasional. Tidak mengherankan, Hari Pangan Sedunia yang diperingati tanggal 16 Oktober 2016 ini mengu­sung tema ”Membangun Kedaulatan Pangan Berkelanjutan Mengantisi­pasi Era Perubahan Iklim”. Tema tersebut menjadi menarik untuk dicermati karena cukup relevan terhadap kondisi pertanian dewasa ini dan yang akan datang.


Secara ilmiah, perubahan iklim dipicu oleh akumulasi gas-gas pencemar di atmosfer terutama karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan klorofluorokarbon (CFC). Pada tahun 2010, United States Department of Agriculture (USDA) menyebutkan bahwa telah terjadi peningkatan konsentrasi gas-gas pencemar tersebut sebesar 0,50-1,85% per tahunnya. Tingginya konsentrasi gas-gas pencemar tersebut akan memperangkap energi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi di atmosfer.


Fenomena tersebut sering disebut sebagai efek rumah kaca yang diikuti oleh meningkatnya suhu permukaan bumi sehingga muncul pemanasan global. Pemanasan global tersebut kemudian telah membawa beberapa dampak lanjutan, diantaranya meningkatnya anomali curah hujan seperti fenomena resiko kekeringan (El Nino) dan risiko kebanjiran (La Nina). Fenomena El Nino dan La Nina tersebut sedikit banyak cukup berdampak terhadap produksi komoditas pertanian. baik secara global, nasional, maupun regional.


Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2007) melaporkan bahwa peningkatan suhu udara di atmosfer sebesar 2 derajat Celcius akan menurunkan hasil padi sebesar 10%, sementara peningkatan suhu 5 derajat Celcius akan diikuti penurunan produksi jagung sebesar 40 persen dan kedelai sebesar 10-30%. Bahkan beberapa lembaga pangan di dunia telah memprediksi tahun mendatang dampak perubahan iklim ini apabila tidak dilakukan antisipasi mitigasi dan adaptasi dapat menimbulkan ke­rawananan pangan akut bahkan kelaparan di beberapa negara berkembang.


Hasil penelitian Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2010 menginformasikan bahwa mulai 2030 mendatang, akan terjadi bencana kelaparan global yang dialami beberapa negara berkembang di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran besar mengingat kebutuhan akan pangan terus meningkat sejalan dengan peningkatan populasi manusia di dunia yang pada tahun ini diprediksi akan mencapai 7,4 miliar jiwa.


Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan internasional (International Food Policy Research Institute) memprediksi tahun 2050 produksi padi di negara berkembang yang berasal dari ekosistem lahan sawah akan turun 15% dan harga beras akan meningkat 12% akibat dampak perubahan iklim. Ditambah lagi, apabila tanpa adanya upaya adaptasi perubahan iklim diperkirakan akan menurunkan produksi padi 20,3-27,1%, jagung 13,6% dan kedelai 12,4% dibandingkan dengan kondisi iklim tahun 2006. Kemudian, akibat dampak kekeringan kenaikan muka air laut terhadap penyusutan lahan sawah diperkirakan mencapai 4,3 juta ton gabah kering giling atau 2,7 juta ton beras. Angka tersebut berdasarkan pada tingkat penurunan produktivitas dan indeks pertanaman dibandingkan tahun 2006.


Dari sisi produk domestik bruto, Asian Development Bank (ADB) tahun 2009 melansir bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara dengan adanya dampak perubahan iklim, akan menderita kerugian yang lebih parah dengan biaya rata-rata setara dengan 6,7% dari PDB setiap tahunnya terutama di Negara Filipina, Indonesia, Thailand dan Vietnam jika dilakukan skenario penanganan biasa.


Di Indonesia, fakta ilmiah memperlihatkan bahwa kekeringan dan produksi pangan menunjukkan penurunan produksi sekitar 4% selama empat periode El Nino dan 6% selama periode non-El Nino. (Ratag, 2006) Dampak kekeringan menyebabkan penurunan produksi jagung sebesar 13,5% terutama karena penurunan yang signifikan dalam luas panen.


Naylor et al (2007) juga menunjukkan bahwa penurunan produksi pangan di Jawa dan Bali karena ke­keringan mencapai 18% periode Ja­nua­ri sampai April. Begitu pula de­ngan studi Boer (2010) juga menunjukkan bahwa perubahan iklim, risiko lingkungan dan konversi lahan yang terus menerus akan mempengaruhi kemampuan sumber daya lahan di Jawa dan produksi beras akan menurun sebesar 5% dari kapasitas produksi saat ini tahun 2025, dan terus menurun 10% tahun 2050.


spi.or.id
spi.or.id
Berdasarkan berbagai fakta di atas, sudah sepatutnya pemerintah melakukan beberapa strategi guna mengantisipasi dampak perubahan iklim di sektor pertanian dan pencapaian kedaulatan pangan. Diperlukan beberapa langkah strategis dalam melakukan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim baik untuk jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.


Pertama, pembuatan waduk dan embung untuk menampung air hujan, sehingga dapat dimanfaatkan pada saat musim kemarau untuk irigasi atau lainnya pada saat keku­rangan air. Kedua, Memanfaatkan informasi dan prakiraan iklim sebagai peringatan dini serta meningkatkan pengamatan cuaca sehingga antisipasi penyimpangan iklim dapat diketahui lebih awal. Ketiga, melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam banjir dan kekeringan untuk penyusunan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang sesuai. Keempat, melakukan sistem budidaya per­tanian seperti terasering, melakukan pergiliran tanaman dan penghijauan daerah aliran sungai, dan menanam tanaman penutup tanah (mulsa) untuk mengurangi evaporasi.


Kelima, penerapan inovasi teknologi varietas pangan yang tahan terhadap kekeringan dan banjir, serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman seperti untuk padi varietas berumur genjah (Inpari 11, Inpari 12, dan Inpari 13), tahan rendaman dan banjir (Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5), tahan wereng coklat (Inpari 1, Inpari 3, Inpari 4, Inpari 68 Inpari 13), dan tahan daun bakteri (Inpari 1, Inpari 48 Inpari 6, dan Inpari 11); untuk jagung varietas bima, lamuru, sukmaraga, dan anoman; untuk kedelai varietas argomulyo dan burangrang; kacang tanah varietas singa dan jarapah; serta kacang hijau varietas kutilang.


Keenam, optimalisasi dan pe­nguatan kelembagaan pengelola dan pemanfaatan air serta pembinaan dan pendampingan kepada petani dan kelembagaan petani untuk menghadapi perubahan dan anomali iklim terhadap usaha pertanian. Dan Ketujuh, pengembangan cadangan pangan dan menggalakkan diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal, sehingga masyarakat memiliki preferensi konsumsi pangan tidak bergantung pada satu komoditas dan dalam pengembangan budidaya pertanian ramah lingkungan.


Langkah strategis tersebut apabila dapat berjalan dengan baik dengan sinergitas berbagai para pemangku kepentingan terkait bukan mustahil peningkatan produksi pangan dan pencapaian kedaulatan pangan sebagaimana dicita-citakan Pemerintah Jokowi-JK sebagai suatu keniscayaan. ***

Penulis adalah, alumnus pasca sarjana program studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM.

Suarakarya.id