Perikanan dan Kelautan

transsulawesi
transsulawesi
Suhu Bumi terus memanas, tak terkecuali di Indonesia. Pemanasan global itu membawa banyak konsekuensi, terutama pada perubahan pola iklim dan meningkatnya cuaca ekstrem. Selain usaha global untuk menahan laju pemanasan, adaptasi sejak dini wajib dilakukan.

Riset terbaru dari Supari, Staf Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan tim menemukan, laju kenaikan suhu maksimum harian (suhu siang hari) di Indonesia mencapai 0,18 derajat celsius per dekade atau 0,54 derajat celsius dalam tiga dekade terakhir. Sementara untuk suhu minimum harian (suhu malam atau dini hari) naik dengan laju 0,3 derajat celsius per dekade atau sebesar 0,9 derajat celsius (hampir 1 derajat) selama tiga dekade terakhir.

Riset yang dimuat di International Journal of Climatology, Juli 2016, menurut Supari, menggunakan data iklim dari 88 stasiun BMKG di Indonesia. Ditemukan bahwa dalam tiga dekade terakhir, curah hujan cenderung meningkat di wilayah Indonesia yang terletak di sebelah utara garis khatulistiwa, terutama daerah Sumatera bagian tengah dan utara, Kalimantan bagian timur, dan Sulawesi bagian tengah dan utara. Sebaliknya, di wilayah Indonesia di sebelah selatan garis khatulistiwa, misalnya Sumatera bagian selatan, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, curah hujan cenderung berkurang dari tahun ke tahun.

Temuan itu membawa konsekuensi pada tahun-tahun ke depan, kemungkinan kekeringan di kawasan Nusa Tenggara, yang sejak dulu dikenal memiliki curah hujan rendah, bisa kian berlipat.

"Penelitian saya juga menemukan, pada bulan Desember, Januari, Februari, ada kecenderungan curah hujan ekstrem naik di seluruh wilayah Indonesia, baik frekuensi maupun intensitasnya," kata Supari.

Sebelumnya, riset oleh peneliti BMKG, Siswanto, juga menemukan perubahan suhu dan curah hujan di Jakarta dalam 130 tahun. Riset itu dipublikasikan di jurnal Royal Meteorological Society, 2015.

"Riset saya menemukan, kenaikan suhu rata-rata 1,6 derajat celsius terjadi pada tahun 1997, saat super El Nino kala itu. Setelahnya cenderung turun-naik kisaran itu. Kenaikan ini melampaui kenaikan temperatur global yang hanya 0,85 derajat celsius," kata Siswanto.

Ia juga menemukan, pada periode 1866-2010, jumlah hari hujan berkurang signifikan, tetapi proporsi curah hujan ekstrem melebihi 50 milimeter per hari terhadap total hujan tahunan naik signifikan. Demikian pula jumlah hari untuk curah hujan di atas 50 milimeter per hari dan 100 milimeter per hari telah terbukti naik signifikan.

Musim tak menentu

Kenaikan frekuensi curah hujan ekstrem itu, menurut Siswanto, dalam studinya di Jakarta, memiliki kaitan erat dengan terjadinya banjir di Jakarta. Menariknya, dalam kajian Siswanto, tentang karakteristik hujan ekstrem dalam banjir Jakarta 2014 yang dimuat dalam "Explaining Extreme Events 2014" Bulletin of American Meteorological Society (BAMS 2015), dikemukakan, curah hujan ekstrem di Jakarta tidak sepenuhnya disebabkan El Nino atau La Nina.

Dari 50 kejadian curah hujan harian maksimum tahunan lebih dari 100 milimeter dan terasosiasi banjir di Jakarta sejak tahun 1900 tercatat 19 kejadian terjadi pada kondisi El Nino, 17 terjadi pada La Nina, dan 14 sisanya pada tahun normal. Dengan peluang La Nina lemah hingga awal 2017 nanti, ancaman banjir di Indonesia berpeluang meningkat.

"Hujan ekstrem di Jakarta dan sekitarnya ternyata bersifat chaotic, susah ditebak lagi. Hujan ekstrem bisa terjadi di luar musim hujan," kata Siswanto. Jika diperhatikan, beberapa kali kejadian banjir dan longsor di Jawa, pada Juni-September 2016, terjadi di musim kemarau.

Menurut catatan Kompas, sepanjang Juni-September 2016, terjadi banjir dan longsor di Purworejo, Kebumen, dan terakhir di Garut yang menelan korban lebih dari 100 jiwa. Padahal, pada Juni hingga September, wilayah Jawa biasanya memasuki musim kemarau karena periode itu terjadi angin timuran, yaitu ada arus angin kering dari Australia.

"Meski demikian, hampir sepanjang tahun, suhu air laut di Indonesia ternyata tetap hangat. Akibatnya, uap air tinggi dan hujan tetap terjadi di musim kemarau," ujarnya. Secara progresif, suhu perairan Indonesia, seperti di Laut Jawa, Selat Karimata, dan Laut Maluku, menunjukkan kenaikan temperatur 0,6-0,8 derajat celsius dalam kurun 1954-2007.

Menurut Siswanto, proyeksi perubahan iklim model Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) mengindikasikan kenaikan suhu global sebesar 2 derajat celsius diprediksi terjadi pada tahun 2050 untuk skenario dengan upaya sendiri dan bisa lebih cepat, yakni tahun 2040 pada skenario terparah. Untuk Indonesia, kenaikan suhu 2 derajat celsius itu bisa tercapai pada tahun 2040 jika memakai skenario dengan upaya sendiri.

Padahal, dalam kondisi atmosfer menghangat sampai 1,5 derjat celsius saja, sifat iklim di Indonesia menjadi lebih basah saat musim hujan, dan lebih kerontang saat musim kering.

"Secara teori, pemanasan 2 derajat celsius pada ruang atmosfer menambahkan kapasitas tangkap atmosfer pada uap air dan menambahkan 14 persen energi penggerak siklus air di permukaan dan atmosfer bumi," ujarnya, menambahkan.

Dengan skenario itu, ancaman bencana hidrometeorologi di Indonesia diprediksi meningkat. Dengan tambahan kerusakan lingkungan akibat faktor antropogenik atau ulah manusia, maka bencana banjir, longsor, kelangkaan air, dan kebakaran hutan bisa datang silih berganti sepanjang tahun.

Maka, pilihan ke depan, tinggal bagaimana kita melakukan mitigasi atau pengurangan risiko dan beradaptasi di Bumi yang berubah. Hal itu karena laju perubahan iklim yang menuntut komitmen semua pihak untuk mencegah pemanasan global sepertinya belum memberi kabar menggembirakan.

Kompas