Perikanan dan Kelautan

perubahan iklim
perubahan iklim
JIKA berbicara tentang perubahan iklim dan upaya untuk menanggulanginya, maka 2016 menjadi tahun ekstrim. Euforia pengesahan Perjanjian Paris dengan cepat menghilang beberapa hari setelahnya, dengan terpilih­nya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS).

Hal ini menimbulkan ke­kha­watiran Trump akan me­narik ne­gara penghasil emisi kedua terbesar di dunia itu dari kesepakatan.

Namun gebrakan upaya-upaya untuk melawan peru­bahan iklim di tingkat lokal, nasional, dan inter­nasional memberikan harapan bagi ge­rakan global untuk mela­wan pe­ru­bahan iklim telah menjadi le­bih kuat daripada pemerintah negara mana pun.

Satu alasan penting adalah uang berpindah dari proyek-proyek yang merusak alam ke investasi yang lebih bersih dan hijau. Energi terba­ru­kan sema­kin mu­rah, membuat­nya mam­pu bersaing dengan ba­han bakar fosil di banyak tem­pat.

Dalam setahun yang terjadi re­kor panas tertinggi ini, di­se­babkan sebagian oleh feno­mena El Nino, pemerintah telah meningkatkan tin­dakan konkret dalam melin­du­ngi warganya dari iklim dan cuaca ekstrim, seperti banjir, ke­keringan, dan badai.

Menjelang akhir 2016, Thom­son Reuters Founda­tion meminta kepada para ahli untuk membuat lima tanda teratas percepatan upaya pencegahan perubahan iklim.

Berikut kompilasi dari jawaban-jawaban tersebut:

1. Perjanjian Melimpah

Perjanjian Paris pada peru­bahan iklim diber­lakukan pada November, 11 bulan se­telah dirancang oleh negara-negara anggota PBB.

Waktu pemberlakuan per­janjian yang cepat tidak di­duga sebelum­nya, namun perkiraan pemimpin Amerika yang skeptis, yang akan men­jabat di Gedung Putih memicu kesungguhan dunia interna­sional untuk menyegerakan ratifikasi.

Pada pembicaraan iklim di PBB bulan lalu, peme­rintah memberi­kan waktu dua tahun untuk mene­rap­kan pe­ra­turan dan melaksana­kan perjanjian Paris, serta menin­jau rencana negara-negara menjaga peningkatan suhu ke sedikitnya di bawah dua de­rajat Celsius.

Pada Oktober, 191 negara da­lam Organisasi Pener­banga­n Sipil International (ICAO) menyepakati pengu­rangan karbon global dan me­nyeimbangkan skema untuk penerbangan udara.

Di bulan yang sama, 197 negara anggota Protokol Mon­treal, perihal zat yang me­nipiskan lapiskan ozon, menyetujui amandemen unt­uk mengurangi hidrofluo­rokarbon (HCF), salah satu gas rumah kaca yang paling cepat berkembang dan memi­liki efek paling kuat, umum­nya digunakan pada pendingin ruangan dan lemari es.

2. Bahan Bakar Fosil Mulai Ditinggalkan

Pada Mei lalu, kelompok negara maju G7 menetapkan batas akhir pertama kalinya untuk mengakhiri subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien, serta mendorong se­mua ne­gara untuk melaku­kannya paling lambat 2025, meskipun kelom­pok yang lebih luas G20 mundur dari komitmen kuat ini pada perte­muan selanjutnya.

Sementara itu, Gubernur Bank of England, Mark Car­ney memim­pin upaya mene­kan perusahaan un­tuk berhati-hati dengan implikasi keuang­an dari aset bahan bakar fosil mereka.

Satuan tugas internasional yang telah diatur untuk men­cegah keju­tan pasar dari pe­manasan global, akan me­min­­­ta perusahaan untuk mem­­perlihatkan cara mereka me­ngelola risiko binis dari pe­rubahan iklim, demikian pula dengan dam­pak pengu­rangan emisi sebagai intinya.

Serta kampanye global untuk membujuk investor menarik uang me­reka dari bahan bakar fosil me­nga­lami peningkatan, bertam­bah dua kali lipat dalam 15 bulan, se­i­ring dengan jumlah insti­tusi yang telah melepaskan kepentingan da­gang sebanyak 688, mewakili ban­tuan 5,2 triliun dolar amerika dalam pengelolaan.

3. Energi Terbarukan Mencuri Perhatian

Badan Energi Internasio­nal mem­­­percepat prediksi pertum­bu­han lima tahunnya untuk energi ter­­barukan ber­kat dukungan ke­bi­ja­kan yang kuat di AS, Tiong­kok, India, dan Meksiko, serta pe­ngu­­­rangan biaya yang besar.

Menurutnya energi terba­rukan melampaui batu bara tahun lalu se­bagai kapasitas sumber energi ter­besar yang terpasang di dunia.

Energi surya mengalami tahun yang baik, setelah 2016 menjadi ta­hun pertama pener­­bangan keli­ling dunia dengan tenaga surya, pengumuman rencana jalan raya yang dipa­sangi panel surya untuk em­pat benua, dan Tesla Motors Inc. yang memamerkan genting te­­na­ga surya mereka.

Kelompok 48 negara ber­kem­bang yang paling berisi­ko dari pe­ru­bahan iklim me­ngatakan akan ber­­juang untuk menjadikan pro­duk­si energi mereka 100 persen ter­baru­kan sesegera mungkin sebe­lum 2050.

4. Mendorong Persiapan

Kekeringan parah yang dise­bab­kan El Nino menye­rang lebih 60 juta orang, terutama di Afrika ba­gian se­latan, sehingga menya­­dar­kan pemerintah akan pentingnya mem­persiapkan diri meng­hadapi cuaca dan iklim eks­trim dengan mem­perbaiki infrastruktur, laya­nan publik, dan ketahanan pangan.

Duta besar PBB meran­cang ce­tak biru untuk mengu­rangi keru­sakan dari peristi­wa-peristiwa se­ma­cam itu di masa depan, semen­tara badan bantuan mencoba cara yang inovatif untuk men­dapatkan dana yang diperlukan se­be­lum bencana menyerang.

Sementara itu, negara-ne­gara ber­kembang sedang ber­upaya da­lam rencana nasional untuk bera­daptasi dengan efek perubahan ik­lim terma­suk cuaca buruk, kenai­kan per­mukaan laut, dan pen­cairan es, yang didukung hingg­a tiga juta do­lar AS per negara dari Green Cli­mate Fund yang masih baru.

5. Bekerjasama dengan penggiat Iklim

Ramainya inisiatif untuk me­nangk­al perubahan iklim yang ber­langsung atau ber­kem­bang, ter­masuk binis, investor, peme­rintah ko­ta dan lokal, dan lain sebagainya ter­jadi pada tahun ini.

Misalnya, Under2 Coal­ition, ke­lompok pemerintah sub-nasional yang telah ber­komitmen untuk me­ngurangi emisi mereka setidaknya sebesar 80 persen sebelum 2020, anggotanya bertambah menjadi 165 negara, terma­suk yang terbesar ketiga da­lam ekonomi global.

Selain itu inisiatif Science Based Targets mengatakan lebih 200 pe­rusahaan telah berjanji akan me­netapkan tar­get pengurangan emisi se­suai dengan usaha global untuk menjaga kenaikan tem­pera­tur di bawah dua derajat.

"2016 benar-benar me­nun­jukkan tahun transisi dari pem­bi­caraan tak berujung dan negosiasi glo­bal ten­tang cara melawan peru­bahan iklim menjadi tindakan oleh pem­erintah, provinsi, kota, peru­sa­haan, par­lemen, dan komu­nitas ter­kait," jelas Saleemul Huq, direk­tur International Centre for Cli­mate­Change and Development (ICC­­CAD), yang berbasis di Dha­ka.

analisadaily.com