Perikanan dan Kelautan

waspada.co,id
waspada.co,id
Asosiasi Pertekstilan Indonesia menilai minat investor menanamkan modal di sektor tekstil pada tahun 2016 akan tinggi. Namun, hal itu bergantung pada kecepatan pemerintah memberikan sinyal akan dimulainya negosiasi hubungan kerja sama dengan Uni Eropa.

"Indonesia dengan modal pasar domestik besar akan dipandang sebagai tempat tepat pula sebagai basis produksi menembus Uni Eropa sebagai salah satu pasar utama tujuan ekspor," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat ketika dihubungi, Senin (4/1).

Ade membandingkan, Vietnam yang baru mengembangkan industri tekstil pada tahun 2000 sudah mampu membukukan nilai ekspor 25 miliar dollar AS per tahun. Sementara Indonesia yang mengembangkan industri tekstil sejak tahun 1980-an baru meraih nilai ekspor sekitar 12,5 miliar dollar AS.

Ade menuturkan, kebijakan pemerintah harus fokus untuk mendukung industri padat karya yang kini dibutuhkan Indonesia. API mengapresiasi kebijakan pemerintah terkait pengupahan dan penyiapan tenaga siap pakai melalui pelatihan-pelatihan.

Serapan tenaga kerja langsung di sektor tekstil dan produk tekstil sekitar 1,6 juta orang. "Diharapkan akan ada penambahan tenaga kerja 800.000 orang melalui investasi yang masuk pada tahun 2016," kata Ade.

Menurut Ade, saatnya memberikan hadiah atau sanksi bagi pemerintah daerah yang menjalankan atau tidak menjalankan kebijakan pemerintah pusat yang ingin menciptakan iklim bagus untuk investasi. Sanksi bisa berupa pemotongan dana perimbangan.

Pola pemberian hadiah atau sanksi juga harus diterapkan bagi badan usaha milik negara yang menjalankan atau tidak menjalankan paket-paket kebijakan ekonomi.

"Dukungan bagi industri tekstil, terutama skala kecil menengah, dari produk selundupan juga harus diberikan agar pasar domestik tidak tergerus," kata Ade.

Beberapa waktu lalu, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Setio Hartono mengatakan, pertumbuhan industri tekstil tahun 2014 minus 4,25 persen dan diperkirakan tumbuh minus 0,61 pada tahun 2015.

Pertumbuhan industri pakaian jadi tumbuh 3,94 persen pada tahun 2014 dan diperkirakan tumbuh minus 6,13 pada tahun 2015.

"Penurunan pada pakaian jadi karena pengaruh faktor global dan maraknya penyelundupan pakaian bekas yang akhir-akhir ini mulai ditindak tegas," ujar Ade.

Setio mengatakan, salah satu program di Ditjen IKTA Kemenperin adalah restrukturisasi mesin dan peralatan industri tekstil dan produk tekstil serta alas kaki.

Berdasarkan data Kemenperin, program yang digelar sejak tahun 2007 hingga 2014 tersebut mendorong peningkatan kapasitas produksi 14-25 persen meningkatkan produktivitas 4-9 persen, meningkatkan efisiensi energi 2-7 persen, dan menyerap 241.835 tenaga kerja.

Jumlah pemohon yang mengajukan program tersebut pada tahun 2015 sebanyak 144 perusahaan dengan perkiraan nilai bantuan Rp 155,12 miliar dan nilai investasi mencapai Rp 1,89 triliun. (CAS)

sumber: Kompas