Perikanan dan Kelautan

kabar24.bisnis.com
kabar24.bisnis.com
Pemerintah Provinsi Banten memasang target optimistis bahwa pertumbuhan provinsi ini mampu mencapai angka 5,5% pada kuartal III/2016.

Optimisme tersebut dilatarbelakangi oleh mulai meningkatnya konsumsi pemerintah daerah, konsumsi masyarakat, dan investasi swasta pada periode yang sama.

"Jika dilihat trennya, penyerapan anggaran pemprov mulai naik signifikan karena proyek fisik sudah dimulai," kata Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Banten Mahdani kepada Bisnis, Senin (26/9).

Tak hanya itu, berdasarkan pola pergerakan pertumbuhan ekonomi per kuartal III selalu menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kuartal lainnya.

Meskipun demikian, dirinya mengungkapkan prediksi tersebut masih mendapatkan tantangan akibat adanya pemotongan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) oleh pemerintah pusat.

"Kami tengah menggodok APBD-Perubahan 2016 untuk menyesuaikan penundaan penyaluran tersebut, dan memastikan sejumlah proyek infrastruktur prioritas tidak terkendala," ucapnya.

Selain penundaan penyaluran DAK dan DAU yang berpotensi mengoreksi APBD Provinsi Banten tahun ini, perbaikan iklim ekspor dan impor juga ditengarai masih berjalan lambat.

Pasalnya, sejumlah pasar utama ekspor misalnya Eropa dan China mencatatkan perlambatan permintaan sehingga mempengaruhi kinerja ekspor Banten.

Mengutip data Kajian Ekonomi Regional BI, Eropa dan China masing-masing memiliki pasar 17% dan 8% sepanjang April-Juni 2016.

Dirinya menyebutkan sejumlah komoditas ekspor utama Banten antara lain alas kaki, tekstil, dan baja juga terkontraksi akibat oversupply dan belum pulihnya kondisi ekonomi mitra dagang. Untuk mengantisipasi penurunan lebih dalam, Mahdiar menyarankan para eksportir untuk membidik negara tujuan ekspor baru.

"Perlu diversifikasi ekspor dan negara tujuannya. Saya kira Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah cukup potensial. Kebanyakan komoditas ekspor Banten memang lebih banyak berorientasi ke pasar Eropa," tambahnya.

Hal yang sama juga diusulkan oleh Bank Indonesia bahwa upaya diversifikasi ekspor dan negara tujuan harus segera dilakukan, antara lain India dan Afrika.

Kedua wilayah ini dipandang cukup potensial untuk mendongkrak kinerja net ekspor luar negeri, khususnya di segmen tekstil dan produk dari tekstil (TPT) di Banten.

Sepanjang tahun ini, Bank Indonesia Provinsi Banten memprediksi ketergantungan Banten terhadap kinerja ekspor bakal menyeret turun pertumbuhan ekonomi kawasan ini di level 5,2%-5,5% bias ke bawah.

"Prediksi ke bawah karena masih ada pola perbaikan pada komponen net ekspor, terutama akibat permintaan dari negara tujuan dagang Banten yang masih lemah,” kata Manajer Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia Provinsi Banten Jenidar Oseva.
kabar24.bisnis.com