Perikanan dan Kelautan

Pertumbuhan Ekonomi: Permintaan Kredit Didorong

uangteman.com
uangteman.com
Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin atau 0,25 persen, dari 5 persen menjadi 4,75 persen. Pelonggaran kebijakan moneter tersebut diharapkan dapat mendorong permintaan domestik, termasuk permintaan kredit, yang masih lemah.

Penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate itu diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis (20/10). Pada September 2016, BI juga menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin.

Rapat Dewan Gubernur kemarin juga menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 4 persen dan lending facility menjadi 5,5 persen. Deposit facility adalah fasilitas simpanan rupiah bank di BI, sedangkan lending facility adalah fasilitas pinjaman rupiah bank dari BI.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, sejak awal 2016, suku bunga deposito turun 108 basis poin (bps). Namun, suku bunga kredit baru turun 60 bps.

"Memang pertumbuhan kredit belum terlalu kuat. Dengan bunga deposito yang lebih rendah dan penurunan bunga kredit yang tidak secepat bunga deposito, pembiayaan melalui nonbank Rp 128 triliun dari pertumbuhan kredit Rp 150 triliun sejak awal tahun," kata Juda.

Juda memproyeksikan, pertumbuhan kredit pada 2016 berkisar 7-9 persen. Perbankan diyakini akan menyesuaikan dengan penurunan suku bunga acuan meskipun secara bertahap.

Perihal rasio kredit bermasalah (NPL), Juda mengatakan, NPL akan meningkat pada saat kondisi perekonomian melemah. "Sekarang masih di bawah 5 persen, masih normal," kata Juda.

Menurut BI, per Agustus 2016, kredit tumbuh 6,8 persen setahun, lebih rendah dibandingkan dengan per Juli 2016 sebesar 7,7 persen. Adapun NPL per Agustus 2016 sebesar 3,2 persen.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, yang dihubungi, mengatakan, keputusan penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate saat ini tepat. "Inflasi cukup rendah dan nilai tukar rupiah stabil. Namun, fungsi anggaran tidak maksimal sehingga memerlukan dorongan moneter," kata Lana.

Biasanya, lanjut Lana, penurunan suku bunga acuan akan direspons perbankan dengan menurunkan biaya dana. Namun, hal itu perlu waktu sekitar 4-6 bulan.

Pertumbuhan

Perihal pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016, BI memperkirakan mendekati batas bawah kisaran 4,9-5,3 persen. Perkiraan itu antara lain didasari pemulihan ekonomi global yang lambat dan perbaikan ekspor riil yang masih tertahan.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Semen Baturaja (Persero) Tbk Pamudji Rahardjo mengungkapkan, penjualan semen per September 2016 sebanyak 40 juta ton. Padahal, target 2016 sebanyak 65 juta ton. "Secara nasional, pertumbuhan sampai September 2016 sebesar 2,6 persen. Targetnya, 5-6 persen," katanya.

Penjualan semen merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi. Menurut Pamudji, pertumbuhan penjualan semen masih lambat antara lain karena pembangunan infrastruktur belum maksimal. (NAD/FER)

Kompas