Perikanan dan Kelautan

Angka Pengangguran Stagnan

republika.co.id
republika.co.id
Jumlah pengangguran terbuka selama empat tahun terakhir tidak mengalami penyusutan berarti. Artinya, pertumbuhan ekonomi gagal menciptakan lapangan pekerjaan sesuai kebutuhan. Sementara itu, angkatan kerja baru terus bertambah setiap tahun.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, Senin (31/10), di Jakarta, menyatakan, stagnasi jumlah pengangguran terbuka membuktikan rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama empat tahun terakhir rata-rata di kisaran 5 persen.

"Kuncinya di elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penciptaan lapangan kerja. Beberapa tahun terakhir, elastisitasnya menurun," kata Enny.

Kompas mencatat, elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja terus menurun. Pada 2004, 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap 450.000 tenaga kerja. Pada tahun-tahun berikutnya, angkanya terus susut. Selama periode 2012-2015, penyerapannya konsisten di bawah 200.000 orang. Pada 2014 contohnya, hanya 160.000 orang.

Menurut Enny, pendorong pertumbuhan ekonomi berasal dari sektor jasa dan industri padat modal. "Industri manufaktur padat karya justru jalan di tempat. Hal ini karena dari awal kita tak punya strategi industri secara nasional," kata Enny.

Pengangguran terbuka adalah mereka yang bekerja di bawah 15 jam per minggu. Artinya, orang yang bekerja tiga jam per hari saja sudah tidak termasuk pengangguran terbuka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah pengangguran terbuka konsisten di kisaran 7 persen selama empat tahun terakhir. Pada 2011, jumlahnya 7,7 juta jiwa. Tahun ini, 7,02 juta jiwa. Pemerintah menargetkan tingkat pengangguran terbuka tahun ini 5,2-5,5 persen. Sementara APBN-P 2016 menargetkan 5,7 persen. Realisasinya, sebagaimana proyeksi Deputi Bappenas Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rahma Iryanti, mengarah ke 5,7 persen.

Tahun depan, targetnya 5,6 persen atau lebih rendah dari target 5,0-5,3 persen. Artinya, jumlah pengangguran terbuka kemungkinan besar masih di kisaran 7 juta orang.

Tidak efektif

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) P Agung Pambudhi menyatakan, stagnasi jumlah pengangguran terbuka menunjukkan penciptaan lapangan kerja di industri pengolahan padat karya sebagai salah satu prioritas pemerintah belum berjalan efektif. Industri ini penting karena menyerap banyak tenaga kerja. Misalnya industri pengolahan sepatu, elektronik rakitan, tekstil, dan garmen. "Industri padat karya sudah menjadi prioritas kerja pemerintah. Beberapa usaha juga sudah dilakukan. Persoalannya adalah di koordinasi dan eksekusi," kata Agung.

Usaha yang telah dilakukan pemerintah tersebut antara lain adalah penetapan formula penentuan upah minimum melalui Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Penentuan Upah Minimum. Walaupun belum ideal, formula ini setidaknya memberikan kepastian. Usaha lainnya adalah pembentukan pusat logistik berikat untuk mengurangi biaya produksi dan upaya memberantas pungutan liar.

(LAS/MED/SON)

 

Kompas